Oleh: Masbahur Roziqi*
Tugumalang.id – Sedikit demi sedikit engkau akan berteman pahit. Luapkan lah saja bila harus menangis. Anakku ingat lah semua lelah tak akan tersia. Usah engkau takut pada keras dunia.
Ini lirik salah satu lagu resmi film Jumbo. Berjudul selalu ada di nadimu. Film tentang seorang anak yang kehilangan kedua orang tuanya. Namun terus hidup. Berdinamika dalam hidup. Demi menerima diri dan lingkungannya.
Lirik itu berisi pesan rasional. Bahwa si anak bernama Don, akan berteman dengan kepahitan hidup. Mungkin bisa dibilang berbagai kesulitan hidup. Saat sulit boleh menangis.
Baca Juga: Jadwal Film di CGV Malang 10 Mei 2025: Rekomendasi Film Seru untuk Akhir Pekan
Namun tetap harus bangkit. Segala upaya bangkit tidak akan sia-sia. Ujungnya pasti akan ada hasil yang individu dapatkan. Manusia boleh jatuh, tapi wajib bangkit lagi. Keras dunia pasti. Berusaha melewati dengan penuh usaha, itu bagian dari mengelola diri.
Pesan film dalam lirik lagu itu bisa kita tarik pada ranah bunuh diri. Di kota Probolinggo beberapa waktu lalu bahkan ada kejadian pria melakukan bunuh diri. Tepatnya menabrakan diri pada kereta api yang melintas.
Selain orang dewasa, juga cukup banyak berita yang memberitakan mahasiswa dan siswa yang mencoba melakukan bunuh diri. Banyak hal melatarbelakangi. Intinya mereka tak lagi mampu membendung diri. Untuk terlepas dari beban yang menggeluti hati.
Baca Juga: Ada Film Baru! Ini Jadwal Bioskop XXI Malang Hari Rabu 7 Mei 2025
Ide bunuh diri biasanya mengawali adanya tindakan bunuh diri. Menurut Thomas Joiner, pencetus teori interpersonal bunuh diri, bunuh diri terjadi karena merasa menjadi beban orang lain, merasa tidak dimiliki atau menjadi bagian dari orang lain, dan orang tersebut memiliki kapabilitas untuk melakukan bunuh diri.
Saat orang merasa selalu jadi beban, dia akan merasa selalu tidak enak. Saat mendengar orang lain mengeluh tentang bagaimana mereka kewalahan mengurusnya, maka itu bsia menjadi hal yang menyakiti hatinya. Jika terjadi terus menerus maka akan menjadi luka menganga.
Saat luka hati ini terus mengucur, maka suatu saat individu tersebut akan membuat keputusan. Salah satunya berupaya menentramkan luka itu dengan bunuh diri. Agar tak lagi mendapat luka hati tersebut. Selamanya.
Berikutnya merasa tidak menjadi bagian dari orang lain. Individu pada hakikatnya termasuk makhluk sosial. Akan terus berinteraksi. Selalu bertemu orang lain. Mereka juga membutuhkan orang lain.
Baik memenuhi kebutuhan hidupnya maupun memaksimalkan potensi dirinya. Pada orang yang merasa tidak menjadi bagian orang lain terutama di lingkungan sekitarnya, maka bisa saja dia akan merasa terkucilkan.
Ketika terkucilkan, maka dia akan merasa tidak memiliki siapa pun. Dia bingung meluapkan apa yang dia rasakan saat sendirian kepada siapa. Jika ditambah orang lain di lingkungan sekitar mengabaikan dia, maka akan semakin terasa keterasingan dia dari dunia sekitarnya.
Hal ini akan semakin bertambah parah ketika di dunia maya pun dia mengalami hal yang sama. Misalnya juga turut menjadi korban perundungan siber.
Baik oleh teman sekitarnya maupun oleh orang-orang yang baru dikenalnya. Atau bahkan mendapat perundungan siber dari warganet yang tidak dia kenal. Maka ketika itu terjadi, risiko dia memunculkan ide bunuh diri akan semakin besar.
Saat berada pada kondisi tidak menjadi bagian dari orang lain itu lah maka ide bunuh diri akan mendominasi pikiran rasional nya.
Berikutnya dia akan berupaya untuk mencari cara bagaimana tindakan bunuh diri akan terlaksana. Sehingga dia tidak perlu lagi bingung untuk menjadi bagian dari orang-orang lain di sekitarnya.
Film Jumbo yang saat ini hadir dapat kita jadikan sarana edukasi diri demi mencegah bunuh diri. Bahwa individu atau manusia dalam menjalani hidup harus dapat mengelola dirinya dengan berbagai pilihan yang akan muncul pada perjalanan hidupnya.
Perjalanan hidup memang pasti akan bertemu kesulitan. Tentu juga akan dihadapkan pada pilihan-pilihan tindakan. Yang tidak semua pilihan tindakan yang kita ambil akan berujung manis bagi kita.
Ada pula yang berujung pahit berupa kegagalan. Namun seperti lagu Jumbo, walau hidup tidak baik saja, kita masih tetap bisa bahagia. Yakni dengan mengelola kegagalan atau kepahitan lain yang terjadi pada kita dengan makna baru.
Yaitu ini kesempatan bagi kita untuk belajar, memperbaiki yang masih kurang, dan mungkin ada kesempatan yang lebih baik bagi kita untuk terus berkembang. Kegagalan itu akan menuntun kita pada arah yang lebih pas dengan kita lewat kesempatan berikutnya.
Akhirnya saya menyimpulkan film Jumbo ini dapat menjadi bagian dari refleksi diri untuk kita bersama mencegah terjadinya bunuh diri. Baik pada diri kita maupun pada orang-orang lain di sekeliling kita.
Terutama orang dekat yang telah kita kenal sehari-hari. Mari tumbuhkan empati kita. Kita bisa meniru tokoh Nurman dan Mae yang sehari-hari berupaya mendampingi dan menguatkan Don.
Saat Don mendapatkan perundungan verbal dari Atta, saat Don berupaya lari dari tanggung jawab membantu orang lain, dan saat Don meminta maaf atas perilaku mementingkan diri sebelumnya.
Nurman dan Mae yang notabene juga kehilangan salah satu orang tua nya mampu menunjukkan dan mewujudkan sikap empati kepada Don. Bahwa Don akan baik-baik saja, bangkit membantu orang lain, dan mengarungi hidup dengan bakat dan minat yang dia miliki.
Teman-temannya tentu tidak akan terus bersama dia. Tapi setidaknya saat bersama, mari ciptakan kenangan kuat dan berharga. Tanpa harus melakukan perundungan yang membuat erosi jiwa dan raga.
Mari kita bergandeng tangan erat, perhatikan sekeliling kita, dan menyadarkan diri kita bahwa akan selalu ada orang-orang yang memahami dan menyayangi kita. Geng Jumbo, Majuu!
*Penulis adalah guru Bimbingan dan Konseling SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























