Malang, Tugumalang.id– Tidak berhenti pada teori di ruang kelas, mahasiswa Program Studi Teknik Industri S-1 Institut Teknologi Nasional Malang atau ITN Malang menghadirkan berbagai inovasi alat tepat guna yang menjawab persoalan nyata di industri kecil dan menengah. Mulai dari alat pencetak kerupuk puli ergonomis, sistem penyortir beras otomatis, hingga alat pencampur bumbu keripik tempe, seluruh karya dirancang berbasis kebutuhan mitra UKM.
Karya-karya tersebut dipamerkan dalam kegiatan “Exhibition Capstone Design: The Future of Manufacturing” yang digelar di Lantai 2 Gedung Mesin Kampus 2 ITN Malang, Kamis (15/01/2026).
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi Program Studi Teknik Industri dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) sebagai implementasi mata kuliah Perancangan Sistem Industri semester 6. Sebanyak 11 kelompok mahasiswa menampilkan alat inovatif di bawah bimbingan dosen pengampu Dr. Prima Vitasari, SIP., MPd., MT., dan Sanny Andjar Sari, ST., MT.
Baca juga: Pusat Karir ITN Malang Gelar Campus Hiring Bersama Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Capstone Design Dorong Mahasiswa Terjun Langsung ke UKM
Dr. Prima Vitasari menjelaskan, capstone design menuntut mahasiswa untuk terlibat langsung dengan mitra industri, baik skala kecil maupun usaha rumahan. Mahasiswa diwajibkan mengidentifikasi persoalan riil yang dihadapi UKM, kemudian merancang solusi berbasis keilmuan teknik industri.
“Mahasiswa tidak boleh hanya berimajinasi. Mereka harus mencari mitra Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memiliki masalah, lalu mencarikan solusinya dengan pendekatan teknik industri. Mahasiswa diminta merancang peralatan atau solusi untuk meningkatkan efisiensi, termasuk efisiensi waktu produksi,” jelasnya.
Alat Pencampur Keripik Tempe Tingkatkan Kapasitas Produksi
Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah alat pencampur bumbu keripik tempe karya Jason Novellino, Mahda Arnellia, dan Muhammad Rizal Ferdiansyah. Riset dilakukan langsung di UMKM Keripik Tempe Rudi, Kampung Sanan, Kota Malang.
“Selama ini mitra masih mencampur bumbu secara manual menggunakan tampah dengan kapasitas terbatas, hanya 16-20 bungkus sekali aduk. Dengan alat inovasi kami, kapasitas pengadukan meningkat menjadi 34-40 bungkus dalam satu proses,” ungkap Jason.
Penyortir Beras dan Pencetak Kerupuk Puli Tingkatkan Nilai Ekonomis
Inovasi serupa juga hadir untuk mendukung Koperasi Amarta Padi Blitar. Dua kelompok mahasiswa berkolaborasi menciptakan alat penyortir beras otomatis dan alat pencetak kerupuk puli multi-kapasitas.
Defa Ari Maulana menjelaskan, kedua alat tersebut saling terintegrasi untuk meningkatkan nilai tambah produk koperasi. Beras utuh dijual sebagai produk utama, sementara beras pecah atau menir diolah menjadi kerupuk puli.
“Kami merancang alat pencetak yang mampu mencetak 20 kerupuk puli sekaligus dengan sistem ergonomis. Sebelumnya, pekerja harus duduk lama dan hanya bisa mencetak tiga buah sekali tekan,” paparnya, bersama tim Ahmad Agil Muqafa dan Abdul Chakim.
Selain peningkatan kapasitas, aspek kesehatan pekerja juga menjadi perhatian. Kelompok Didan Suryadana Suwito, Faris Ardiansyah, dan Rivan Andika menciptakan alat ayakan beras otomatis yang menggantikan proses sortir manual di atas meja. Proses manual tersebut sebelumnya kerap menyebabkan keluhan sakit punggung. Dengan alat ini, beras utuh, menir, dan kotoran dapat terpisah otomatis melalui sistem ayakan dan magnet.
Baca juga: Go International, Tiga Alumni ITN Malang Resmi Berkarier di Raksasa Galangan Kapal Hanwha Ocean Korea Selatan
Kepala Koperasi Amarta Padi Blitar, Ibu Siti Marfuah, memberikan apresiasi atas inovasi mahasiswa karena terbukti lebih efisien dibandingkan metode manual yang selama ini digunakan.
Selain itu, pameran juga menampilkan beragam karya lain, seperti alat penyaring tahu, alat penyiram tanaman otomatis berbasis Arduino Uno, perancangan ulang tata letak gudang bahan baku, redesain usaha Depot Es Talun, meja jahit multifungsi, serta alat pemotong daging.
Meskipun baru pertama kali dilaksanakan, capstone design Teknik Industri ITN Malang terus dikembangkan melalui konsep continuous improvement.
“Alhamdulillah, testimoni dari mitra UKM rata-rata sangat positif setelah mencoba alat yang dirancang mahasiswa. Harapannya, Teknik Industri ITN Malang terus melahirkan inovator muda yang memberikan manfaat nyata bagi industri skala kecil,” pungkas Prima Vitasari.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Artikel ini disusun melalui kerja sama publikasi Tugumalang.id dengan ITN Malang
redaktur: jatmiko





























