Selasa, Juni 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Berita

Inovasi Diperlukan untuk Bentuk Ekosistim Pendidikan di Indonesia

CEO PT Paragon Technology and Innovation dalam Webinar Fellowship Jurnalisme Pendidikan

Redaksi by Redaksi
Juli 27, 2021 8:20 pm
in Berita
CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat.

CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG – Indonesia masih berjuang untuk mengembangkan dunia pendidikan menjadi lebih efektif relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Oleh karena itu, ekosistem pendidikan sangatlah penting untuk mencapai level tersebut dan inovasi sangat diperlukan untuk membentuk ekosistem pendidikan tersebut.

“Dalam perusahaan besar, semua elemen harus bergerak menjadi sebuah ekosistem. Karena inovasi ini adalah guru, karena inovasi ini buka solo genius tapi kolektif jenius,” terang CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat, saat memberikan materi dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 yang digagas Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP).

READ ALSO

Kenapa Kita Betah Nonton Video Pendek? Ternyata Ini Alasannya

Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu Bagi Ekologi

“Memang inovasi dan enterpreunership itu dekat. Entrepreneurship itu berangkat dari keresahan, pingin merubah ekosistem, memikirkan Indonesia 10 tahun bahkan sampai 100 tahun ke depan, lalu gak seneng frontline dan gak seneng birokrasi. Makanya saya seneng ketemu jurnalis karena jurnalis itu garda terdepan,” sambungnya.

Ia mencontohkan bahwa industri media adalah industri yang sangat lekat dengan yang namanya inovasi.

“karena gak ada industri yang lebih gila dan inovatif dari media, karena beritanya telat sehari maka selesai. Karena gak ada yang lebih mati daripada koran kemarin,” ungkapnya.

“Jadi, definisi inovasi inovasi adalah sesuatu yang baru dan berguna. Sehingga maksudnya kesadaran yang baru, ketemu hal-hal baru, kemudian ada yang menemukan dan ada yang melakukan komersialisasi,” sambungnya.

Para pembicara webinar Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 yang digagas oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP).

Ia juga mencontohkan bahwa GWPP adalah salah satu inovasi yang sangat mampu dikembangkan kedepannya.

“Contoh inovasi juga GWPP, tapi berkembang jadi apa nih? Apakah nanti yayasan GWPP ini jadi semacam social impack agency atau jadi melting pot. Tempat dan fasilitas sidah tersedia, yang paling mahal di inovasi ide dan orangnya juga udah ada. Jadi, ini masih bisa bergerak terus nih, ikut leader fest atau ikut partnership yang lain. Makanya saya selaku berpikir di GWPP ini menjadi salah satu elemen aja,” bebernya.

Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan bahwa inovasi juga merupakan sebuah kultur, dimana diskusi yang dilakukan tidak satu arah. Kemudian diskusi tersebut terus menerus diulang-ulang, kemudian muncul perasaan saling percaya.

“Kemudian inovasi juga memakan waktu yang lama, kalau gak lama bukan inovasi namanya. Inovasi bahkan datang ketika orang gak butuh, jadi seolah-olah kita menulis sesuatu yang baru akan populer 2-3 tahun lagi. Tapi karena kita lakukan lebih awal, maka yang harusnya 3 tahun lagi maka 1 tahun aja sudah ngetrend,” tandasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa jika terkait inovasi bisa belajar dari Steve Jobs yang mengatakan innovation is the ability to see change as and opportunity, not a thread. Kemudian juga innovation distinguishes betwen a leader and a follower.

“Inovasi kan dimana ada kesulitan, maka di situ ada kesempatan, ternyata itu juga perubahan yang sangat lama di Cina,” paparnya.

Ia juga mengatakan bahwa bangsa Indonesia memiliki aset yang luar biasa melimpah, tapi aset ini baru bisa hidup kalau terjadi komunikasi atau human connectiion. Kemudian juga harus ada disiplin dan harus ada karya.

“Aset itu apa? Misalnya, 450 kabupaten/kota di Indonesia beda-beda, habis itu setiap tempat itu ada ekosistem ada pengusaha sukses, kemudian ada juga pengusaha gak berhasil masalahnya apa. Ada juga artikel, ada media, dapam media ini ada informasi terkait daerah tersebut tersusun rapi, tapi media itu oalau gak ada yang baca kan gak bisa, jadi media ini harus dongengkan untuk mencapai mimpi yang lebih besar. Ini sebetulnya yang hisa kita lihat di sini bahwa untuk berinovasi diperlukan kemampuan yang berbeda, jadi memicu diskusi, perlu ability semua pihak, bisa tetap berjalan walau berbeda-beda, kemudian bisa sepakat,” jelasnya.

Salman juga mengungkapkan waktu yang dibutuhkan agar ekosistem itu bisa terbentuk.

“Untuk penulisan suatu topik memungkinkan dibutuhkan satu tahun setengah, kalau untuk bisnis model media baru mungkin tiga tahun. Paragon sendiri membuat lab research gak bisa hanya sepuluh tahun karena ada basic-basic risearchnya dulu nih mulai dari infrastruktur, hubungan, dan lainnya. Jadi memang lama, apalagi kalau bibit-bibit itu setahu saya 20 tahun lebih,” ungkapnya.

“Tapi, kalau membangun (ekosistem) pabrik itu 2 tahun menurut saya, karena sifatnya menginstal. Contohnya pabrik handphone itu 3-4 tahun kalau kita lihat dari industri. Kadang lebih lama dari yang kita bayangkan, tapi juga hisa sebentar. Misalnya ada pabrik yang ingin membangun di Indonesia, etos kerja masyarakat kita yang akan jadi game changernya,” tambahnya.

Ia juga mengatakan bahwa patokan terbentuknya ekosistem di dunia pendidikan adalah dari sisi emosional secara psikologis. Salman mencontohkan terciptanya diskusi yang enak atau akrab hingga suasana intens.

Sementara Direktur Center for Policy and Public Management SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) ITB, Yudo Anggoro

“Kadang-kadang yang psikologis ini abstrak ya, gimana sih culture itu terbentuk, kalau kampus itu kalau diskusi bisa keterusan atau bisa keasikan. Jadi, passion ketemu passion, ini yang agak susah, kita punya accept tapi seberapa bagus koneksinya, seberapa bagus gayung bersambutnya di medsos,” katanya.

Dikala Pandemi COVID-19, membangun sesuatu yang fisik atau infrastruktur adalah sesuatu yang sulit. Membangun laboratorium sampai mempersiapkan manufacturing memerlukan kehadiran fisik dipastikan akan tersendat. Jadi, yang membutuhkan kehadiran fisik dipastikan akan tertunda, tapi yang berbasis digital justru bisa berakselerasi.

“Jadi justru seputar optimalisasi digital bisa tumbuh 2-3 kali lebih cepat, tapi jangan lupakan yang dibutuhkan saat pandemi berakhir seperti bikin pabrik baru sampaikan pariwisata. Dari situ lintas sektor harus bekerja sama, karena ternyata ada yang terdampak dan ada yang tidak tersampak. Terutama yang siap harus mengajari yang belum siap. Contohnya kampus-kampus di Bandung itu belajar ke Telkom, jadi Telkom mengajarkan bagaimana pembelajaran via online,” tukasnya.

Lebih lanjut, Direktur GWPP sekaligus Pimpinan Redaksi Tugu Jatim, Nurcholis MA Basyari, mengatakan salah satu contoh orang inovatif yang hisa dicontoh menurutnya adalah Salman Subakat.

“Kalau saya belajar dari Mas Salman ini ketika beliau berbeda pendapat dengan orang lain, tapi beliau bilang ‘saya tidak setuju dengan gagasan anda, saya nilai gagasan anda tidak tepat, tapi atas nama gagasan berekspresi dan hak untuk memberikan ekspresi, maka saya akan membela anda untuk tetap menyampaikan gagasan atau ide-ide,'” tegasnya.

Sementara Direktur Center for Policy and Public Management SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) ITB, Yudo Anggoro, mengatakan bahwa ekosistem di dunia pendidikan bukan hanya tanggung jawab pelaku pendidikan saja, tapi juga harus merangkul stakeholder yang lain.

“Jadi ekosistem dunia pendidikan harus dekat dunia industri, harus dekat komunitas atau masyarakat, harus dekat dengan elemen-elemen masyarakat yang lain,” paparnya.

Ia mengambil contoh kalau di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB yang melakukan pendidikan berbasis kasus, artinya dalam melakukan pengajaran atau penelitian SMB ITB harus melihat kondisi realnya di masyarakat.

“Misalnya di masyarakat kami melakukan pendidikan di area bisnis dan manajemen, kita lihat ada inovasi apa sih yang berkembang di masyarakat. Apakah misalkan ini tentang greenlogistic, apakah ini tentang pengembangan startup bisnis, apakah ini tentang konsep manufacturing cerdas. Aspek-aspek inilah yang bisa disediakan dunia industri seperti PT Paragon,” tandasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa PT Paragon juga seringkali mendukung tumbuhnya komunitas-komunitas agar pembelajaran tidak berdasarkan textbook saja, tapi juga bisa menyelesaikan masalah di masyarakat.

“Itu penting, karena kalau pendidikan berbasis textbook, penelitian berbasis jurnal, maka dia hanya akan seperti di menara gading atau hanya di atas tapi tidak bisa menyelesaikan problem di masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Rizal Adhi Pratama
Editor: Sujatmiko

Caption:

foto1: CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat

Foto2: Direktur Center for Policy and Public Management SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) ITB, Yudo Anggoro.

Foto3: pemateri dan peserta Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2

Tags: CEO PT Paragon Technology and InnovationGerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP).Salman Subakat

Related Posts

Ilustrasi Orang Menonton Video Pendek di Sosial Media (Foto: Pinterest)
Berita

Kenapa Kita Betah Nonton Video Pendek? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 8 Mei 2026
Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Wikipedia
Berita

Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu Bagi Ekologi

Selasa, 28 Apr 2026
Kubah Masjid At-Taqwa di Karangploso jatuh akibat terpaan angin kencang. Foto: BPBD Kabupaten Malang
Berita

Angin Kencang di Karangploso Rusak 10 Bangunan, Kerugian Total Rp119,5 Juta

Selasa, 7 Okt 2025
Yai Mim membeberkan rencana pindah rumah (M Sholeh)
Berita

Usai Jalani Pemeriksaan Polisi, Yai Mim Ungkap Rencana Pindah Rumah

Selasa, 7 Okt 2025
Kursi kursi yang dipersiapkan untuk audiens acara dakwah Dr Zakir Naik di Starion Gajayana, Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Berita

Panitia Siapkan 10 Ribu Kursi untuk Acara Dakwah Dr Zakir Naik di Stadion Gajayana Malang

Kamis, 10 Jul 2025
Jemaah haji asal Kepanjen, Sukardi dilaporkan hilang di Makkah. Foto: dok. Keluarga
Berita

Jemaah Haji Asal Kabupaten Malang Dilaporkan Hilang di Makkah

Selasa, 24 Jun 2025
Next Post
Crazy Rich Malang akan bangun RS lapangan di kota Malang

Akan Bangun RS Lapangan di Kota Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Hujan Ringan! Prakiraan Cuaca Kota Malang Minggu 15 Maret 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.