Tugumalang.id – Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2025 di Kota Batu, Jawa Timur menyasar seluruh sektor. Tak terkecuali pada sektor pertanian. Manfaat DBHCHT ini juga dirasakan oleh 20 kelompok tani (poktan) di kota wisata tersebut.
Hal itu diwujudkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu dan Bagian Perekonomian Setda (BPSDA) Kota Batu melalui ‘Pelatihan Peningkatan Kelas Kelompok Tani’ yang digelar di Hotel Filadelfia, Desa Sidomulyo, Kota Batu, Kamis (25/9/2025).
Baca Juga: Dapat Alokasi DBHCHT Rp 10 Miliar, RSUD Lawang Optimalkan Layanan Kesehatan
Total ada 20 poktan yang mengikuti kegiatan itu. Di antaranya perwakilan kelompok tani di 3 kecamatan yakni Kecamatan Batu, Junrejo, dan Bumiaji. Materi utama pelatihan terkait penilaian kelas kemampuan poktan.

Pelatihan tersebut menghadirkan 3 narasumber dari tiga lembaga, antara lain dari Kejari Kota Batu selaku pendamping kegiatan DBHCHT, Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Batu, Dra. Emilyati, M.Si. dengan materi terkait kebijakan ekonomi daerah dan Ir. Suhirmanto, M.Si., dari Polbangtan Malang yang membawakan materi penilaian kelas kemampuan kelompok tani.
Baca Juga: Dapat Alokasi DBHCHT Rp 10 Miliar, RSUD Lawang Optimalkan Layanan Kesehatan
Diketahui, pada 2025 ini, Pemkot Batu menerima kucuran DBHCHT sebesar Rp39 miliar. Dari jumlah itu, Rp2,7 miliar di antaranya dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan poktan yang berimplikasi pada mutu pertanian di Kota Batu.
Kabag BPSDA Kota Batu, Emilyati membenarkan jika peruntukan DBHCHT sudah seyogyanya dinikmati seluruh masyarakat, termasuk untuk kesejahteraan petani. Terlebih sektor pertanian di Kota Batu jadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah.
Emil menegaskan bahwa dana DBHCHT 2025 Kota Batu diperuntukkan untuk berbagai program strategis, antara lain perlindungan tenaga kerja non formal, bantuan sarana produksi pertanian, program kesehatan, peningkatan fasilitas publik, serta sosialisasi pemberantasan rokok ilegal.
”Ini menjadi kepastian bahwa setiap rupiah DBHCHT memberi manfaat nyata bagi masyarakat, baik untuk kesejahteraan, kesehatan, maupun pembangunan fasilitas umum,” tegasnya.
Sementara, soal pemanfaatan DBHCHT untuk sektor pertanian sendiri ditujukan untuk memperbanyak petani naik kelas. Kepala Distan-KP Kota Batu, Heru Yulianto menjelaskan bahwa pelatihan ini digelar tahunan secara bertahap menyasar seluruh poktan.
Dari total 270 poktan yang ada di Kota Batu, terdiri dari beragam kelas, mulai tingkat pemula, lanjut dan madya. Ditargetkan seluruh poktan dapat mencapai tingkat madya. Peningkatan kelembagaan poktan penting agar poktan dapat mengakses bantuan ke pemerintah pusat.
Dengan adanya penilaian ini, diharapkan pembinaan dan pemberdayaan dapat lebih tepat sasaran, serta menjadi dasar dalam penyusunan strategi penguatan kelembagaan petani di Kota Batu.
Menurutnya, hasil pemetaan kelas kemampuan kelompok tani akan menjadi acuan bagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam memberikan pendampingan untuk meningkatkan kualitas serta kemandirian kelompok tani.
“Kalau kelembagaan sudah mandiri dan bagus dan bisa dikategorikan tingkat madya, bantuan dari pemerintah pusat bisa disalurkan. Beda lagi kalau struktur kepengurusan vakum, tentunya tidak bisa mengakses bantuan ke pusat,” jelas Heru.
Heru menambahkan bahwa pihaknya rutin setiap tahun untuk melakukan penilaian untuk menentukan kelas poktan. Tak menutup kemungkinan, kata dia, ada beberapa poktan yang turun kelas. Hal ini bisa disebabkan karena berkurangnya jumlah anggota, lantaran meninggal atau sudah lanjut usia.
”Jadi tiap tahunnya dievaluasi terus, faktor apa yang mengakibatkan poktan ini turun kelas. Maka kita cari solusi dan melakukan pembinaan agar bisa kembali naik kelas,” paparnya.’
Selain pelatihan dan pembinaan, dana DBHCHT juga diperuntukkan dalam bentuk bantuan modal usaha sarana produksi (saprodi) pertanian seperti alat-alat pertanian, benih tanaman, pupuk, hingga benih ikan.
Ketua Panitia kegiatan, Ayun Richana, menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya memberikan materi teknis, tetapi juga menjadi momentum penguatan motivasi kelompok tani agar terus meningkatkan kualitas kelembagaan.
“Dengan penilaian kelas kelompok tani, diharapkan muncul dorongan semangat bagi para petani untuk meningkatkan kualitas kelembagaan sehingga kemampuan kelompok semakin baik dari tahun ke tahun,” jelasnya.
Bagi Pemkot Batu, ini merupakan komitmen untuk mendukung peningkatan kapasitas kelembagaan petani sebagai upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kelompok tani di Kota Batu bisa lebih berdaya saing, mandiri, serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























