Malang, Tugumalang.id – Global Tuberculosis Report 2024 mencatat Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan estimasi 1,09 juta kasus Tuberkulosis (TBC) dan 125 ribu kematian setiap tahun. Kondisi ini menjadikan TBC sebagai tantangan besar yang harus diselesaikan pemerintah, terlebih saat peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025.
Sejak pertama kali ditemukan, penyakit ini telah merenggut hingga satu miliar nyawa di seluruh dunia. Setiap tahun, sekitar satu juta orang meninggal akibat TBC, dan Indonesia menyumbang sekitar 125 ribu kematian dari angka tersebut.
Memasuki tahun 2025, pemerintah menargetkan penemuan 900 ribu penderita TBC di seluruh Indonesia sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi penyakit ini. Namun, upaya menemukan penderita TBC masih menjadi tantangan tersendiri di lapangan.
Baca juga: Sekitar 900 Penderita Kasus TBC di Kabupaten Malang Masih Belum Terdata
Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina, mengatakan pihaknya telah membentuk Panitia Kerja (Panja) TBC untuk memperkuat pengawasan sekaligus mendorong percepatan penanganan. Sebelumnya, pembiayaan penanganan TBC banyak dibantu Global Health, namun kini pemerintah tengah menggodok langkah agar persoalan ini dapat diselesaikan secara mandiri.
“Penanganan TBC secara cepat juga menjadi salah satu program prioritas dari Presiden Prabowo,” kata Arzeti saat ditemui usai peringatan HKN 2025 di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Jumat (21/2025).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg Wiyanto Wijoyo, menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan TBC bukan terletak pada proses pengobatan, melainkan pada penemuan kasus. Menurutnya, proses pencarian penderita TBC membutuhkan tenaga, waktu, serta fasilitas pendukung yang tidak sedikit.
“Ada puluhan orang yang harus diperiksa untuk menemukan satu kasus TBC,” ujarnya.
Baca juga: Dinkes Kota Batu Jemput Bola Lakukan Skrining di Kantong-kantong Kasus TBC
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penanganan akan lebih mudah apabila kasus sudah berhasil ditemukan. Pihaknya hanya perlu melakukan pengawasan ketat agar pasien rutin mengonsumsi obat hingga benar-benar sembuh.
Sistem pengawasan minum obat menjadi kunci utama agar pasien tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya. Hal ini penting karena resistensi obat dapat memperpanjang proses penyembuhan sekaligus meningkatkan risiko penularan.
“Lebih mudah mengobati orang yang sudah positif menderita TBC daripada menemukan orang yang menderita TBC,” ujarnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























