Kamis, Juli 9, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Hulu Kota Batu Mulai Gundul, Pemkot Batu Siapkan Pengawasan Ketat Lahan Pertanian

Redaksi by Redaksi
April 5, 2026 4:09 pm
in News
Hulu Kota Batu

Wali Kota Batu Nurochman saat meninjau sejumlah titik terdampak limpasan banjir lumpur di kawasan hulu. Foto: Prokopim KWB

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Kota Batu, Tugumalang.id – Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan Pemerintah Kota Batu akan memperketat tata kelola lahan pertanian, khususnya di kawasan hulu Kota Batu. Langkah ini diambil setelah ditemukan indikasi hilangnya sabuk gunung akibat alih fungsi lahan pertanian secara masif hingga menyebabkan area hulu mulai gundul.

Temuan tersebut disaksikan langsung oleh orang nomor satu di Kota Batu itu saat meninjau sejumlah titik terdampak limpasan banjir lumpur yang terjadi pekan lalu. Banjir tersebut diduga kuat dipicu kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan aspek konservasi.

READ ALSO

Empat Spesies Baru Kumbang Ditemukan di UB Forest Jawa Timur, Satu Diabadikan dengan Nama Brawijaya

Kelompok Homoseksual Sumbang Kasus HIV Baru di Kota Batu Tahun 2026

Saat melakukan penyisiran di sejumlah kawasan hulu pada Selasa (31/3/2026), ditemukan pola tanam pertanian yang mulai mengabaikan kaidah konservasi. Pergeseran tata kelola lahan terjadi dengan tidak diterapkannya sistem terasering di lahan miring, sehingga meningkatkan risiko erosi.

Pola Tanam Gulutan Picu Risiko Erosi

Nurochman menjelaskan, mayoritas petani penggarap lahan sayur di kawasan lereng mulai abai terhadap kaidah konservasi tanah. Saat ini, pola tanam yang banyak digunakan berupa sistem gulutan atau petakan hamparan yang searah dengan kemiringan lereng.

“Rata-rata dari pertanian di lereng dari alih fungsi itu banyak yang tidak menggunakan sistem terasering. Tapi menggunakan gulutan atau petakan-petakan hamparan. Jadi tidak ada ketahanan,” ungkap Cak Nur, sapaan akrabnya.

Secara teknis, tidak diterapkannya sistem terasering membuat air hujan tidak tertahan di setiap tingkatan lahan. Akibatnya, air langsung mengalir deras ke bawah lereng. Kondisi ini semakin diperparah dengan karakteristik tanaman sayur yang tidak memiliki tajuk lebar serta akar tunggang kuat untuk mengikat struktur tanah.

Baca juga: Wali Kota Batu Sentil Wisata Buatan di Hulu, Komitmen Lingkungan Tak Bisa Ditawar

Pola gulutan tanpa sabuk gunung ini menyebabkan terjadinya erosi lembar atau sheet erosion. Lapisan tanah atas yang subur hanyut terbawa aliran air dan berubah menjadi lumpur pekat yang menyumbat saluran drainase hingga meluap ke badan jalan.

“Jadi ketika hujan deras, lahan ini masih sangat berpotensi terjadi erosi karena permukaannya langsung hamparan. Jenis gulutan atau paritnya tidak dibuat untuk memecah arus air, tapi justru mempercepat laju air ke bawah,” imbuhnya.

Peralihan Komoditas Jadi Pemicu

Politisi PKB itu menjelaskan perubahan pola tanam tersebut disinyalir bermula dari peralihan komoditas petani dari tanaman keras seperti apel ke tanaman sayuran semusim. Faktor ekonomi menjadi alasan utama petani memilih metode pengolahan lahan yang lebih praktis.

Pengolahan lahan tanpa infrastruktur konservasi dinilai lebih cepat dan murah. Namun, kondisi tersebut justru memicu dampak lingkungan yang cukup serius di kawasan hulu.

Dampaknya, biaya yang dihemat di tingkat petani justru berbanding lurus dengan meningkatnya biaya sosial dan perbaikan infrastruktur di wilayah hilir. Lumpur yang terbawa aliran air tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga menggerus aspal jalan hingga sepanjang 50 meter di salah satu jalan desa akibat derasnya arus.

Berdasarkan pantauan di sepanjang jalan utama Desa Tulungrejo hingga Sumberbrantas, komoditas pertanian didominasi hortikultura seperti wortel, kubis, kentang, brokoli, dan sayuran lainnya. Pola tanam terasering hampir tidak ditemukan, sementara mayoritas lahan menggunakan sistem guludan yang mengikuti kontur tanah.

Pemkot Batu Siapkan Langkah Intervensi

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Batu melalui dinas terkait saat ini tengah mengkaji langkah konkret berupa intervensi dan edukasi kepada petani terkait pentingnya sistem terasering dan konservasi lahan.

Ke depan, Pemkot Batu juga akan memperketat pengawasan metode pengolahan lahan, terutama bagi penggarap di kawasan hutan lindung dan perhutanan sosial.

“Kami akan lakukan koordinasi untuk mengambil kesimpulan. Isu seperti ini harus ada langkah konkret ke depan, agar ada komitmen yang sama antara pemerintah dan petani mengenai metode tanam yang aman bagi lingkungan,” tegas Cak Nur.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko

Tags: Ancaman Bencana Kota batukondisi hulu kota batulingkungan kota batupemkot batupertanian kota batuwali kota batu nurochman

Related Posts

Empat Spesies Baru Kumbang Ditemukan di UB Forest Jawa Timur, Satu Diabadikan dengan Nama Brawijaya
News

Empat Spesies Baru Kumbang Ditemukan di UB Forest Jawa Timur, Satu Diabadikan dengan Nama Brawijaya

Kamis, 9 Jul 2026
1465a067 D08c 420d 9740 857d4b6871c6
News

Kelompok Homoseksual Sumbang Kasus HIV Baru di Kota Batu Tahun 2026

Kamis, 9 Jul 2026
BPBD Kabupaten Malang Siap Hadapi Kemungkinan Erupsi Gunung Kelud
News

BPBD Kabupaten Malang Siap Hadapi Kemungkinan Erupsi Gunung Kelud

Kamis, 9 Jul 2026
PJT I Gaungkan Edukasi Penyelamatan Sumber Daya Air Lewat Selorejo Run Challenge 2026, Catat Jadwalnya!
News

PJT I Gaungkan Edukasi Penyelamatan Sumber Daya Air Lewat Selorejo Run Challenge 2026, Catat Jadwalnya!

Kamis, 9 Jul 2026
Anak Muda dan Pengasuh Pesantren di Malang Berkumpul Jelang Muktamar NU, Hasilkan 9 Seruan Moral yang Penting
News

Anak Muda dan Pengasuh Pesantren di Malang Berkumpul Jelang Muktamar NU, Hasilkan 9 Seruan Moral yang Penting

Kamis, 9 Jul 2026
Kebakaran Rumah di Pakisaji Malang Diduga Berawal dari Anak Bermain Korek
News

Kebakaran Rumah di Pakisaji Malang Diduga Berawal dari Anak Bermain Korek

Kamis, 9 Jul 2026
Next Post
Tewas di Sungai

Pria Gondanglegi Ditemukan Tewas di Sungai, Diduga Epilepsi Kambuh

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.