Jumat, Agustus 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Hulu Kota Batu Mulai Gundul, Pemkot Batu Siapkan Pengawasan Ketat Lahan Pertanian

Redaksi by Redaksi
April 5, 2026 4:09 pm
in News
Hulu Kota Batu

Wali Kota Batu Nurochman saat meninjau sejumlah titik terdampak limpasan banjir lumpur di kawasan hulu. Foto: Prokopim KWB

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Kota Batu, Tugumalang.id – Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan Pemerintah Kota Batu akan memperketat tata kelola lahan pertanian, khususnya di kawasan hulu Kota Batu. Langkah ini diambil setelah ditemukan indikasi hilangnya sabuk gunung akibat alih fungsi lahan pertanian secara masif hingga menyebabkan area hulu mulai gundul.

Temuan tersebut disaksikan langsung oleh orang nomor satu di Kota Batu itu saat meninjau sejumlah titik terdampak limpasan banjir lumpur yang terjadi pekan lalu. Banjir tersebut diduga kuat dipicu kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan aspek konservasi.

READ ALSO

Unisma dan Wali Kota Malang Lepas 60 Biker NU ke Muktamar di Jombang

Pelawak Topan Srimulat Meninggal Dunia, Sempat Keluhkan Sakit Perut

Saat melakukan penyisiran di sejumlah kawasan hulu pada Selasa (31/3/2026), ditemukan pola tanam pertanian yang mulai mengabaikan kaidah konservasi. Pergeseran tata kelola lahan terjadi dengan tidak diterapkannya sistem terasering di lahan miring, sehingga meningkatkan risiko erosi.

Pola Tanam Gulutan Picu Risiko Erosi

Nurochman menjelaskan, mayoritas petani penggarap lahan sayur di kawasan lereng mulai abai terhadap kaidah konservasi tanah. Saat ini, pola tanam yang banyak digunakan berupa sistem gulutan atau petakan hamparan yang searah dengan kemiringan lereng.

“Rata-rata dari pertanian di lereng dari alih fungsi itu banyak yang tidak menggunakan sistem terasering. Tapi menggunakan gulutan atau petakan-petakan hamparan. Jadi tidak ada ketahanan,” ungkap Cak Nur, sapaan akrabnya.

Secara teknis, tidak diterapkannya sistem terasering membuat air hujan tidak tertahan di setiap tingkatan lahan. Akibatnya, air langsung mengalir deras ke bawah lereng. Kondisi ini semakin diperparah dengan karakteristik tanaman sayur yang tidak memiliki tajuk lebar serta akar tunggang kuat untuk mengikat struktur tanah.

Baca juga: Wali Kota Batu Sentil Wisata Buatan di Hulu, Komitmen Lingkungan Tak Bisa Ditawar

Pola gulutan tanpa sabuk gunung ini menyebabkan terjadinya erosi lembar atau sheet erosion. Lapisan tanah atas yang subur hanyut terbawa aliran air dan berubah menjadi lumpur pekat yang menyumbat saluran drainase hingga meluap ke badan jalan.

“Jadi ketika hujan deras, lahan ini masih sangat berpotensi terjadi erosi karena permukaannya langsung hamparan. Jenis gulutan atau paritnya tidak dibuat untuk memecah arus air, tapi justru mempercepat laju air ke bawah,” imbuhnya.

Peralihan Komoditas Jadi Pemicu

Politisi PKB itu menjelaskan perubahan pola tanam tersebut disinyalir bermula dari peralihan komoditas petani dari tanaman keras seperti apel ke tanaman sayuran semusim. Faktor ekonomi menjadi alasan utama petani memilih metode pengolahan lahan yang lebih praktis.

Pengolahan lahan tanpa infrastruktur konservasi dinilai lebih cepat dan murah. Namun, kondisi tersebut justru memicu dampak lingkungan yang cukup serius di kawasan hulu.

Dampaknya, biaya yang dihemat di tingkat petani justru berbanding lurus dengan meningkatnya biaya sosial dan perbaikan infrastruktur di wilayah hilir. Lumpur yang terbawa aliran air tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga menggerus aspal jalan hingga sepanjang 50 meter di salah satu jalan desa akibat derasnya arus.

Berdasarkan pantauan di sepanjang jalan utama Desa Tulungrejo hingga Sumberbrantas, komoditas pertanian didominasi hortikultura seperti wortel, kubis, kentang, brokoli, dan sayuran lainnya. Pola tanam terasering hampir tidak ditemukan, sementara mayoritas lahan menggunakan sistem guludan yang mengikuti kontur tanah.

Pemkot Batu Siapkan Langkah Intervensi

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Batu melalui dinas terkait saat ini tengah mengkaji langkah konkret berupa intervensi dan edukasi kepada petani terkait pentingnya sistem terasering dan konservasi lahan.

Ke depan, Pemkot Batu juga akan memperketat pengawasan metode pengolahan lahan, terutama bagi penggarap di kawasan hutan lindung dan perhutanan sosial.

“Kami akan lakukan koordinasi untuk mengambil kesimpulan. Isu seperti ini harus ada langkah konkret ke depan, agar ada komitmen yang sama antara pemerintah dan petani mengenai metode tanam yang aman bagi lingkungan,” tegas Cak Nur.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko

Tags: Ancaman Bencana Kota batukondisi hulu kota batulingkungan kota batupemkot batupertanian kota batuwali kota batu nurochman

Related Posts

Unisma dan Wali Kota Malang Lepas 60 Biker NU ke Muktamar di Jombang
News

Unisma dan Wali Kota Malang Lepas 60 Biker NU ke Muktamar di Jombang

Jumat, 28 Agu 2026
Topan Srimulat Meninggal Dunia, Sempat Keluhkan Sakit Perut
News

Pelawak Topan Srimulat Meninggal Dunia, Sempat Keluhkan Sakit Perut

Jumat, 28 Agu 2026
Savic Ali Dorong Pemimpin NU Visioner dan Responsif terhadap Perubahan
News

Savic Ali Dorong Pemimpin NU Visioner dan Responsif terhadap Perubahan

Jumat, 28 Agu 2026
Muktamar NU Mulai Bahas Tata Tertib Pemilihan Ketum PBNU
News

Muktamar NU Mulai Bahas Tata Tertib Pemilihan Ketum PBNU

Jumat, 28 Agu 2026
Fakta Menarik Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kembali ke Tanah Kelahiran
News

Fakta Menarik Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kembali ke Tanah Kelahiran

Jumat, 28 Agu 2026
Truk Damkar Terguling di Oro-Oro Ombo, Lima Orang Luka-Luka
News

Truk Damkar Terguling di Oro-Oro Ombo, Lima Orang Luka-Luka

Jumat, 28 Agu 2026
Next Post
Tewas di Sungai

Pria Gondanglegi Ditemukan Tewas di Sungai, Diduga Epilepsi Kambuh

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.