Kota Batu, Tugumalang.id – Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan Pemerintah Kota Batu akan memperketat tata kelola lahan pertanian, khususnya di kawasan hulu Kota Batu. Langkah ini diambil setelah ditemukan indikasi hilangnya sabuk gunung akibat alih fungsi lahan pertanian secara masif hingga menyebabkan area hulu mulai gundul.
Temuan tersebut disaksikan langsung oleh orang nomor satu di Kota Batu itu saat meninjau sejumlah titik terdampak limpasan banjir lumpur yang terjadi pekan lalu. Banjir tersebut diduga kuat dipicu kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan aspek konservasi.
Saat melakukan penyisiran di sejumlah kawasan hulu pada Selasa (31/3/2026), ditemukan pola tanam pertanian yang mulai mengabaikan kaidah konservasi. Pergeseran tata kelola lahan terjadi dengan tidak diterapkannya sistem terasering di lahan miring, sehingga meningkatkan risiko erosi.
Pola Tanam Gulutan Picu Risiko Erosi
Nurochman menjelaskan, mayoritas petani penggarap lahan sayur di kawasan lereng mulai abai terhadap kaidah konservasi tanah. Saat ini, pola tanam yang banyak digunakan berupa sistem gulutan atau petakan hamparan yang searah dengan kemiringan lereng.
“Rata-rata dari pertanian di lereng dari alih fungsi itu banyak yang tidak menggunakan sistem terasering. Tapi menggunakan gulutan atau petakan-petakan hamparan. Jadi tidak ada ketahanan,” ungkap Cak Nur, sapaan akrabnya.
Secara teknis, tidak diterapkannya sistem terasering membuat air hujan tidak tertahan di setiap tingkatan lahan. Akibatnya, air langsung mengalir deras ke bawah lereng. Kondisi ini semakin diperparah dengan karakteristik tanaman sayur yang tidak memiliki tajuk lebar serta akar tunggang kuat untuk mengikat struktur tanah.
Baca juga: Wali Kota Batu Sentil Wisata Buatan di Hulu, Komitmen Lingkungan Tak Bisa Ditawar
Pola gulutan tanpa sabuk gunung ini menyebabkan terjadinya erosi lembar atau sheet erosion. Lapisan tanah atas yang subur hanyut terbawa aliran air dan berubah menjadi lumpur pekat yang menyumbat saluran drainase hingga meluap ke badan jalan.
“Jadi ketika hujan deras, lahan ini masih sangat berpotensi terjadi erosi karena permukaannya langsung hamparan. Jenis gulutan atau paritnya tidak dibuat untuk memecah arus air, tapi justru mempercepat laju air ke bawah,” imbuhnya.
Peralihan Komoditas Jadi Pemicu
Politisi PKB itu menjelaskan perubahan pola tanam tersebut disinyalir bermula dari peralihan komoditas petani dari tanaman keras seperti apel ke tanaman sayuran semusim. Faktor ekonomi menjadi alasan utama petani memilih metode pengolahan lahan yang lebih praktis.
Pengolahan lahan tanpa infrastruktur konservasi dinilai lebih cepat dan murah. Namun, kondisi tersebut justru memicu dampak lingkungan yang cukup serius di kawasan hulu.
Dampaknya, biaya yang dihemat di tingkat petani justru berbanding lurus dengan meningkatnya biaya sosial dan perbaikan infrastruktur di wilayah hilir. Lumpur yang terbawa aliran air tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga menggerus aspal jalan hingga sepanjang 50 meter di salah satu jalan desa akibat derasnya arus.
Berdasarkan pantauan di sepanjang jalan utama Desa Tulungrejo hingga Sumberbrantas, komoditas pertanian didominasi hortikultura seperti wortel, kubis, kentang, brokoli, dan sayuran lainnya. Pola tanam terasering hampir tidak ditemukan, sementara mayoritas lahan menggunakan sistem guludan yang mengikuti kontur tanah.
Pemkot Batu Siapkan Langkah Intervensi
Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Batu melalui dinas terkait saat ini tengah mengkaji langkah konkret berupa intervensi dan edukasi kepada petani terkait pentingnya sistem terasering dan konservasi lahan.
Ke depan, Pemkot Batu juga akan memperketat pengawasan metode pengolahan lahan, terutama bagi penggarap di kawasan hutan lindung dan perhutanan sosial.
“Kami akan lakukan koordinasi untuk mengambil kesimpulan. Isu seperti ini harus ada langkah konkret ke depan, agar ada komitmen yang sama antara pemerintah dan petani mengenai metode tanam yang aman bagi lingkungan,” tegas Cak Nur.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























