Tugumalang.id – Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dibuka dengan momen yang tak terlupakan. Tuan rumah yang sempat dipandang sebelah mata justru mencuri perhatian lewat gol spektakuler Siphiwe Tshabalala saat menghadapi Meksiko di laga pembuka Grup A FIFA World Cup 2010, di Soccer City Stadium, Johannesburg Afrika Selatan.
Sebelum turnamen dimulai, banyak pihak memprediksi Afrika Selatan akan kesulitan bersaing. Mereka berada di grup berat bersama Prancis, Uruguay, dan Meksiko. Bahkan, kekalahan telak sempat diperkirakan bakal menimpa Afrika Selatan.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Ribuan suporter tuan rumah memadati stadion dengan semangat membara, meniup vuvuzela tanpa henti, menciptakan atmosfer khas yang mengguncang dunia sepak bola.
Baca Juga: Pencarian Bakat Pesepak Bola Putri Segera Digelar di 12 Kota
Momen puncak terjadi pada menit ke-55. Berawal dari kombinasi apik dengan Kagisho Dikgacoi, olah bola di tengah lapangan kemudian mengalir sempurna ke sisi kiri. Tshabalala, yang saat itu berusia 26 tahun, melesat cepat menuju kotak penalti menyambut bola itu.
Tanpa ragu, ia melepaskan tendangan keras kaki kiri. Bola meluncur deras ke sudut atas gawang Meksiko yang dikawal Oscar Perez. Tendangan itu tak mampu dibendung hingga merobek gawang Meksiko. Gol tersebut langsung memecah kebisingan stadion menjadi euforia sepanjang masa.
Selebrasi Tshabalala usai merobek gawang lawan dengan tarian khas Afrika Selatan menjadi salah satu selebrasi paling iconik dalam sejarah gelaran piala dunia. Publik Afrika Selatan yang penuh energi dan kebanggaan, seolah menandai kebangkitan tuan rumah di panggung dunia.
Baca Juga: Akar Sepakbola Putri Menguat, 1.918 Anak Ikuti Turnamen Milklife Soccer Challenge Malang Seri 1 2025-2026
Gol indah itu tak hanya membuka skor, tetapi juga memberi kepercayaan diri bagi Afrika Selatan. Meski laga berakhir imbang 1-1, hasil tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan mereka yang cukup mengesankan. Saat itu Afrika Selatan finis dengan total raihan empat poin di fase grup.
Tshabalala sendiri mengenang momen tersebut sebagai bukti kekuatan mimpi. Ia meyakini mimpi yang kuat bisa membawa tim nasional Afrika Selatan berjuluk Bafana Bafana itu mengguncang dunia.
“Saat Piala Dunia diumumkan akan digelar di Afrika Selatan pada 2004, saya bahkan belum menjadi pemain sepak bola. Tapi saya pernah berkata kepada teman, saya akan ada di sana pada 2010, bermain untuk Bafana Bafana,” ujarnya dilansir fifa.com.
Gol roket Tshabalala bukan sekadar pembuka turnamen, melainkan simbol harapan dan kebanggaan Afrika Selatan. Kini, gol itu layaknya sebuah momen yang selalu indah untuk dikenang dalam sejarah sepak bola dunia.
“Gol saya di piala dunia 2010 akan menjadi istimewa selamananya,” kata dia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























