MALANG, Tugumalang.id – Dalam rangka melatih kreativitas siswa mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna. SDIT Insan Permata Malang menyelenggarakan gelar karya bertajuk “Pejuang Jelantah Jenjang 2: Ubah Jelantah, Jaga Bumi Kita!” pada Jumat (12/6/2026).
Para siswa yang duduk di kelas 2 ini menampilkan beragam produk inovatif hasil dari mengolah limbah jelantah yang dibawa dari rumah masing-masing. Jelantah tersebut kemudian diolah menjadi produk lilin dan sabun batang yang lebih memiliki nilai manfaat dan ekonomi.
Koordinator Jenjang 2 SDIT Insan Permata, M. Taufiqi Rochman menjelaskan gelar karya ini merupakan hasil dari project yang dilaksanakan oleh siswa sejak awal semester genap 2025/2026.
Baca Juga: Bukan Sekadar Kemah, Camping With Father SDIT Insan Permata Malang jadi Moemen Berharga Ayah dan Anak

“Gelar karya ini merupakan puncak dari project yang dilakukan anak-anak di semester genap ini. Mereka mulai mengerjakan proyeknya dari awal semester 2 yang dihasilkan beberapa produk, antara lain lilin sama sabun,” kata pria yang akrab disapa Ustadz Fiqi.
Sementara soal pemilihan tema project berdasarkan hasil telaah salah satu surat yang ada di kitab suci Al Quran yakni surat At-Tin. Telaah ayat suci Al Quran kemudian dipadukan dengan buku pengantar yang berjudul Pejuang Jelantah.
Apresiasi Kreativitas Siswa
Melihat kreativitas siswa dalam mengolah limbah jelantah menjadi produk yang punya nilai guna. Ustadz Fiqi memberikan apresiasi terhadap motivasi dan keterampilan siswa dalam menuangkan ide dalam mengolah jelantah menjadi sabun batang yang bisa dipakai untuk cuci tangan dan juga lilin.
Baca Juga: 106 Siswa Lulus, Wisuda SDIT Insan Permata Malang Angkatan XVI Penuh Haru dan Semangat Masa Depan
“Kreativitas anak-anak luar biasa dari segi packing, mereka membuat pola sendiri dan kita ajari untuk membuat box. Kemudian warna-warnanya juga mereka membuat sendiri, mereka belajar warna primer dan mencampurkan dengan warna lain, jadi sesuai ide mereka untuk warna-warna produknya,” ungkapnya.
Sedangkan soal alasan mengapa sabun dan lilin yang dipilih. Ustadz Fiqi menjelaskan sebenarnya ada banyak ide produk yang ingin dikembangkan.

Hanya saja siswa lebih cenderung ke sabun dan lilin, karena cukup mudah terutama bagi siswa yang masih duduk di kelas 2 dan mereka sanggupnya membuat sabun dan lilin.
Proses pembuatan produk diakui tidak terlalu lama meski sempat terpotong bulan Ramadan. Di acara gelar karya ini sebagai puncak dari pameran produk, siswa berani dan mampu menunjukkan kreasinya kepada orang tua, kakak kelas, adik kelas, serta menjelaskan bagaimana proses dan hasilnya.
Mendapat Antusiasme yang Luar Biasa
Event gelar karya bertajuk Pejuang Jelantah ini mendapat antusiasme yang luar biasa dari orang tua siswa dan warga di sekitar sekolah.
Ustadz Fiqi menyebut kurang lebih ada 250 pengunjung yang datang dan menyaksikan pameran produk siswa SDIT Insan Permata Malang. Mereka begitu antusias membeli produk hasil kreasi siswa.
“Alhamdulillah sambutan orang tua luar biasa, karena ini baru pertama kali gelar karya yang produknya benar-benar memanfaatkan limbah rumah tangga,” jelasnya.
“Kemudian mereka bawa sendiri jelantah-nya, lalu dijernihkan diolah menjadi sabun dan lilin. Memang prosesnya panjang seperti itu, tapi antusias luar biasa banyak yang borong,” kata Ustadz Fiqi menambahkan.
Ia berharap gelar karya ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya dan bisa dilaksanakan di jenjang-jenjang selanjutnya. Menurutnya masih ada banyak yang perlu diperbaiki dari project karya yang dikembangkan siswa.
“Harapan kami, semoga ini (gelar karya) bisa berlanjut dan apa yang masih perlu diperbaiki, kalau bisa juga lanjut di jenjang-jenjang selanjutnya,” harapnya
“Semoga wali murid juga bisa mendukung anak-anak, karena tidak hanya belajar tekstual tetapi juga mengaplikasikan apa yang perlu mereka pelajari di kelas dengan menghasilkan karya riil,” tandas Ustadz Fiqi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A


















