Malang, Tugumalang.id – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 32 mengedukasi siswa SDN 1 Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, tentang pentingnya mengelola uang sejak dini melalui program SAKU (Siswa Atur Keuangan).
Program tersebut diinisiasi Aliya Syarifathul Zahra, mahasiswa Program Studi Perpajakan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB angkatan 2024. Kegiatan itu bertujuan membantu siswa membedakan kebutuhan dan keinginan sekaligus mengenalkan dasar-dasar pengelolaan keuangan.
Program SAKU menjadi bentuk kontribusi mahasiswa MMD UB dalam memperkuat life skill dan literasi finansial bagi siswa kelas 3 dan 4 SDN 1 Dawuhan. Edukasi ini dinilai penting di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya perilaku konsumtif pada anak-anak.
Aliya menjelaskan, materi disampaikan secara visual, interaktif, dan menyenangkan agar siswa lebih mudah memahami pentingnya mengelola uang saku.
Menurut dia, siswa juga didorong menjadi lebih bijak, rasional, dan mampu menentukan prioritas dalam menggunakan uang saku sehari-hari.
“Pemilihan tema literasi keuangan sejak dini dilatarbelakangi pentingnya membangun fondasi finansial yang kuat sebelum anak-anak memasuki usia remaja. Siswa kelas 3 dan 4 berada pada fase perkembangan yang tepat untuk mulai dilatih daya kritisnya dalam membedakan pengeluaran yang bersifat esensial dan non-esensial,” kata Aliya.

“Kami ingin mengubah pola pikir anak-anak agar tidak terjebak dalam budaya boros atau sekadar mengikuti keinginan semata. Melalui edukasi SAKU, kami berharap siswa SDN 1 Dawuhan dapat memahami nilai uang, mampu mendahulukan kebutuhan utama, serta menghargai setiap lembar Rupiah yang mereka miliki,” ujarnya.
Baca juga: Tim Pengabdian Masyarakat UB Latih Kelompok Tani di Blitar Produksi VCO Berkualitas Tinggi
Kegiatan diawali dengan pengenalan mata uang Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara. Selanjutnya, siswa mendapatkan penjelasan sederhana mengenai perubahan harga barang (inflasi) dan pentingnya menabung.
Pada kesempatan itu, Aliya juga memperkenalkan Gerakan 5J dalam merawat uang kertas Rupiah, yakni Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Dibasahi, dan Jangan Distapler agar kondisi fisik uang tetap terjaga.
Edukasi kemudian dilanjutkan melalui gim interaktif bertajuk “Angkat Tanganmu!”. Dalam permainan tersebut, siswa diminta meletakkan kedua tangan di dada saat melihat gambar barang yang termasuk kategori kebutuhan, seperti buku dan tas sekolah. Sebaliknya, mereka diminta melambaikan tangan ke atas ketika melihat gambar barang yang termasuk keinginan, seperti mainan.
Suasana belajar semakin hidup melalui web game interaktif dari Gemini yang mengajak siswa menguji pemahaman mereka secara langsung.
Sebagai praktik langsung, siswa membuat papan interaktif menggunakan kertas Asturo yang dibagi menjadi dua kolom, yakni “Kebutuhan (Harus Ada)” dan “Keinginan (Cuma Pengen)”.
Setiap siswa memperoleh berbagai gambar barang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka diminta menganalisis lalu menempelkan gambar tersebut pada kolom yang sesuai menggunakan lem. Melalui metode learning by doing, siswa belajar mengevaluasi fungsi dan prioritas suatu barang secara konkret.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, hingga berani menjelaskan alasan memilih suatu barang sebagai kebutuhan atau keinginan.
“Melalui kombinasi gim digital, permainan respons fisik, dan media papan Asturo ini, proses belajar menjadi jauh lebih aplikatif. Anak-anak tidak hanya mendengarkan teori, tetapi mengalami langsung proses mengambil keputusan finansial sederhana,” papar Aliya.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, pembagian hadiah bagi peserta yang aktif, serta penyerahan Papan Klasifikasi SAKU kepada pihak sekolah sebagai media pembelajaran di kelas.
Melalui program tersebut, MMD UB Kelompok 32 berharap edukasi literasi keuangan dapat memberikan dampak berkelanjutan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui pencegahan perilaku konsumtif sejak dini serta SDGs 4 (Pendidikan Desa Berkualitas) melalui penyediaan edukasi nonformal yang inovatif.
“Kami berharap program ini menjadi pendorong bagi siswa SDN 1 Dawuhan untuk tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berkarakter, dan bijak dalam mengelola keuangan di masa depan,” harapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























