Tugumalang.id – Gagal ginjal kronis kini menjelma menjadi epidemi dan pembunuh massal yang senyap di Indonesia. Praktisi nutrisi klinis, Dr Hans Kristian Pranoto, melalui kanal YouTube SB30Health, mengungkap sekitar 15 persen populasi dewasa telah mengidap gagal ginjal kronis, dengan angka kematian 42.000 jiwa setiap tahun di Indonesia.
Fenomena ini, menurutnya, diperburuk oleh fakta bahwa gejala awal gangguan ginjal seringkali tidak dikenali dan diabaikan oleh masyarakat.
Sebagian besar orang baru menyadari adanya masalah ketika kerusakan telah mencapai tahap lanjut, ditandai dengan manifestasi fisik yang jelas.
“Kebanyakan orang baru mencari pertolongan medis ketika organ vitalnya sudah tak mampu lagi bekerja dan ditunjukkan dengan adanya pembengkakan di bagian tubuh tertentu, seperti mata, tangan, atau kakinya,” ujar Dr Hans.
Baca Juga: Dinkes Kota Batu Himbau Waspadai Kasus Gagal Ginjal pada Anak
Keterlambatan fatal inilah yang menjadikan ginjal sebagai ancaman tersembunyi yang sangat mematikan. Padahal, kata dia, ginjal adalah organ yang menjalankan fungsi multidimensi yang esensial.
Tidak hanya menyaring darah dari zat sisa, tetapi juga meregulasi keseimbangan PH, elektrolit, dan tekanan darah. Selain itu, ginjal bertugas sebagai sistem daur ulang cerdas.
Melakukan reabsorpsi untuk menyerap kembali nutrisi penting seperti 100 persen glukosa dan air, sekaligus bertanggung jawab dalam mengeluarkan produk sisa seperti kreatinin dan kelebihan asam urat.
Tiga Pemicu Utama Gagal Ginjal yang Fatal
Dr Hans Kristian mengatakan, kegagalan ginjal sebagian besar merupakan akibat langsung dari tiga faktor risiko yang menggerus fungsi organ secara perlahan.
Pertama adalah Diabetes Tipe 2 yang tidak terkontrol. Kelebihan glukosa yang terus-menerus membanjiri sirkulasi darah memaksa ginjal bekerja terlalu keras dalam upaya menyaring dan mereabsorpsi gula, akhirnya merusak nefron (unit penyaringan) ginjal.
Baca Juga: Waspada! Volume Buang Air Kecil Menurun, Salah Satu Gejala Gangguan Gagal Ginjal Akut
Kedua adalah hipertensi kronis (tekanan darah tinggi). Kondisi ini menyebabkan tekanan terus-menerus pada pembuluh darah kecil ginjal, merusak kemampuan filtrasi organ secara permanen.
Ketiga, yang sering kali diremehkan adalah penggunaan NSAID jangka panjang. Obat-obatan Anti-Peradangan Non-Steroid (seperti obat anti nyeri) yang dikonsumsi rutin dalam durasi lama dapat mengganggu suplai darah ke ginjal, menambah beban kerja yang berujung pada kerusakan fungsional.
Kategori Makanan Pemicu Gagal Ginjal
Selain penyakit kronis, Dr. Hans mengidentifikasi tiga kategori makanan yang harus dihindari karena secara langsung berkontribusi pada beban kerja dan inflamasi ginjal.
Pertama adalah gula, baik gula murni maupun gula tersembunyi (hidden sugar) seperti High Fructose Corn Syrup (HFCS) atau maltodekstrin. Dr Hans mengatakan kebutuhan gula harian tubuh adalah nol gram, menyoroti bahwa setiap tambahan gula adalah beban yang harus diatasi ginjal.
Kategori kedua adalah karbohidrat olahan (refined carbs), termasuk tepung terigu, roti gandum olahan, sereal gandum, dan tepung singkong olahan.
“Makanan ini menyebabkan lonjakan gula darah karena memiliki Indeks Glikemik dan Glycemic Load yang tinggi,” kata dia.
Kategori terakhir adalah yang paling sering dikonsumsi yaitu kombinasi karbohidrat tinggi dengan lemak atau protein. Makanan seperti bakso, iga bakar, sosis, barbeque, makanan bersaus, es krim, cookies, kerupuk, dan keripik menghasilkan zat berbahaya yang disebut AGEs (Advanced Glycation End-products), memicu peradangan dan kerusakan sel ginjal.
Strategi Proteksi Nutrisi dan Pola Hidup
Untuk memutus rantai kerusakan ini, Dr. Hans Kristian menawarkan solusi yang berfokus pada perubahan nutrisi. Strategi pertama adalah dengan menerapkan diet rendah karbohidrat untuk mengendalikan kadar gula darah secara fundamental dan mengurangi tekanan pada sistem penyaringan ginjal.
Kedua, ia menganjurkan pengayaan vitonutrisi alami dari sayuran, dengan menekankan pentingnya vitamin B1 serta senyawa kurkumin yang berasal dari kunyit dan temulawak karena sifat anti-inflamasinya.
Solusi ketiga adalah dengan mengonsumsi protein minim proses untuk mengurangi zat sisa, aditif, dan pengawet yang memberatkan proses eliminasi dan detoksifikasi ginjal.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Sabrina Rb.
Editor: Herlianto. A





























