Tugumalang.id – Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) bakal mewarnai malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah atau pada Selasa, 3 Maret 2026. Fenomena ini menjadi menarik karena juga menjadi momentum bagi umat Muslim untuk juga melaksanakan Salat Khusuf (salat gerhana bulan) di jelang Salat Tarawih.
Diketahui, hukum Salat Gerhana Bulan adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Berbeda dengan salat sunnah lainnya, salat ini memiliki keunikan tersendiri.
Pasalnya, salat ini dilakukan sejak dimulainya gerhana hingga bulan kembali tampak utuh. Berikut panduan dan tata cara Salat Khusuf:
Baca Juga: Malam Ini, Gerhana Bulan Penumbra, Simak Faktanya!
Pertama, Salat Khusuf dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid. Jika merujuk pada prediksi terjadinya GBT di malam ke-14 Ramadan 2026 nanti, fenomena blood moon bakal dimulai sejak sore menjelang magrib.
Salat ini terdiri dari 2 rakaat, di mana setiap rakaatnya memiliki 2 kali berdiri (membaca Al-Fatihah & surat) dan 2 kali rukuk. Diawali dengan niat Salat Sunnah Khusuf, salat ini juga diawali dengan membaca Doa Iftitah, Ta’awudz, dan Surah Al-Fatihah.
Selanjutnya, jamaah disunnahkan membaca surah yang panjang (seperti Al-Baqarah) dengan suara lantang (Jahar). Perbedaannya terletak pada gerakan usai rukuk pertama, di mana setelah pada fase bangkit lagi atau i’tidal, gerakan tidak berlanjut pada gerakan sujud.
Baca Juga: Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2023 Dini Hari Bisa Diamati di Malang Raya
Setelah bangkit, jamaah kembali membaca Al-Fatihah dan surah Al-Qur’an yang lebih pendek dari sebelumnya. Gerakan sujud baru dilakukan usai rukuk di rakaat kedua.
Gerakan ini dilakukan secara berulang dimana 1 rakaat terdiri dari 2 kali berdiri dan 2 kali rukuk sebelum akhirnya berlanjut pada tahap Tahiyat Akhir dan Salam.
Selanjutnya, setelah salam dan salat berakhir, imam disunnahkan berdiri untuk menyampaikan khotbah singkat dengan tema seputar mengagumi akan kebesaran Allah SWT atas setiap fenomena alam yang terjadi.
Sebab itu, umat muslim diajak senantiasa memperbanyak istighfar, doa, sedekah, dan amal saleh.
Sebagai informasi, fenomena Blood Moon terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus sempurna. Saat itu, bulan akan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti Bumi yang disebut Umbra. Meski cahaya matahari terhalang total oleh bumi, atmosfer kita tetap membiaskan cahaya merah ke permukaan Bulan.
Namun, efek orbit ini membuat bulan tidak serta-merta menghilang atau gelap, melainkan berubah warna menjadi merah tembaga atau jingga gelap, sehingga sering dijuluki sebagai Blood Moon. Fenomena langka ini bisa disaksikan dengan mata telanjang di Indonesia.
Diketahui, masyarakat di seluruh zona waktu Indonesia (WIB, WITA, dan WIT) dapat menyaksikan fenomena ini. Namun sebagai, catatan, untuk wilayah bagian Barat seperti Jakarta dan Sumatra, saat Bulan mulai terbit di ufuk timur, ia sudah dalam kondisi gerhana atau mendekati fase totalitas.
Berdasarkan data astronomi, berikut jadwal mulai terjadinya gerhana hingga puncaknya:
1. Gerhana Sebagian Mulai
16:50 WIB
17:50 WITA
18:50 WIT
2. Gerhana Total Mulai
18:04 WIB
19:04 WITA
20:04 WIT
3. Puncak Gerhana
18:33 WIB
19:33 WITA
20:33 WIT
3. Gerhana Total Berakhir
19:02 WIB
20:02 WITA
21:02 WIT
4. Gerhana Sebagian Berakhir
20:17 WIB
21:17 WITA
22:17 WIT
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























