Malang, Tugumalang.id – Otoritas Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak mengonsumsi, menjual, atau menyajikan udang beku produksi Indonesia dari PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods).
Larangan tersebut dirilis pada situs resmi FDA sejak sebulan yang lalu karena ada dugaan kontaminasi radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada sampel udang dari kontainer produk BMS Foods yang diekspor ke Amerika Serikat.
Temuan FDA mencatat kadar Cesium-137 (Cs-137) hanya sebesar 68 Bq/kg, jauh di bawah ambang batas intervensi resmi FDA yang mencapai 1.200 Bq/kg. Namun sebenarnya, kadar tersebut masih 17 kali lebih rendah dari batas yang dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Hal ini diamini oleh Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) Prof. Dr. Ir. Mohamad Fadjar, M.Sc. Menurut dia, secara ilmiah, temuan 68 Bq/kg ini masih sangat aman.
”Konsumen tidak perlu khawatir, udang Indonesia tetap layak dikonsumsi,” tegas Prof. Fadjar, Senin (8/9/2025).
Baca juga: Dosen UB: Bendera One Piece Adalah Ekspresi dan Kritik Sosial yang Dilindungi
Meski begitu, pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kedutaan Besar Amerika Serikat saat ini tengah melakukan investigasi mendalam.
Laporan final hasil investigasi diperkirakan akan keluar pada pertengahan September, dan akan menjadi dasar penjelasan resmi pemerintah kepada publik.
“Koordinasi antar-lembaga sudah berjalan baik. Pemerintah ingin memastikan informasi yang disampaikan ke masyarakat benar-benar akurat dan transparan,” ujarnya.
Menurutnya, indikasi awal menguatkan kontaminasi tidak berasal dari proses budidaya udang, pakan, maupun air tambak. Dugaan sementara mengarah pada fasilitas produksi PT BMS yang berada di kawasan industri Cikande, Serang.
“Artinya, kasus ini terjadi secara insidental, bukan masalah struktural pada budidaya udang nasional. Jadi tidak bisa digeneralisasi bahwa semua udang Indonesia terpapar radioaktif,” jelasnya.
Sebagai langkah pro aktif sementara, ekspor PT BMS ke Amerika Serikat ditangguhkan hingga hasil investigasi tuntas. Namun, Prof. Fadjar menekankan bahwa kasus ini hanya berdampak pada batch tertentu dan tidak memengaruhi perusahaan eksportir udang lainnya.
Baca juga: Tim Pengabdian Dosen UB Gelar Pelatihan Analisis Data Penelitian dengan Menggunakan SPSS
“Kita harus melihat proporsional. Industri udang nasional tetap memiliki standar mutu yang ketat, dan kasus ini hanyalah kejadian tunggal yang kini sedang ditangani serius,” katanya.
Prof. Fadjar menegaskan, udang merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, sehingga keamanan dan kualitasnya selalu diawasi. Bahkan ia menuturkan jika reputasi udang Indonesia sudah lama diakui dunia.
”Hanya dengan satu kasus ini jangan sampai meruntuhkan kepercayaan pasar internasional. Justru ini momentum untuk memperkuat pengawasan,” jelasnya.
Atas adanya isu ini, ia mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi simpang siur.
“Udang Indonesia aman dikonsumsi. Mari kita tunggu hasil investigasi resmi pemerintah. Semua pihak kini bekerja keras menjaga kredibilitas industri ini,” tegasnya lagi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























