MALANG – Hasil riset Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang mengungkapkan kondisi ekosistem lamun di pesisir Jawa Timur, termasuk wilayah Malang Selatan, berada dalam kondisi terancam. Penutupannya tercatat kurang dari 30 persen.
Temuan ini dipresentasikan dalam agenda Diseminasi Perkembangan Perancangan Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional Tertentu (RZ KSNT) Cadangan Karbon Biru yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa waktu lalu.
Metode Riset Lamun di Malang Selatan
Perwakilan peneliti, Citra Satrya Utama Dewi, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa penelitian dilakukan melalui program Seagrass Watch dengan metode Line Intercept Transect (LIT). Teknik ini menggunakan rol meter yang ditarik tegak lurus dari bibir pantai ke arah laut. Setiap 10 meter, peneliti menempatkan transek kuadrat untuk menghitung persentase tutupan lamun.
“Meski tutupan lamun di Malang Selatan kurang dari 30 persen, namun masih memiliki kemampuan menyimpan karbon. Jika kerusakannya disebabkan faktor alam, ekosistem lamun bisa pulih. Namun jika karena pembangunan, potensi pemulihannya jauh lebih kecil,” jelas Citra.
Baca juga: FDA Sebut Udang Indonesia Berbahaya, Dosen UB: Masih Layak Dikonsumsi
Lamun, Penyimpan Karbon Biru yang Terabaikan
Lamun sering luput dari perhatian karena jarang dimanfaatkan secara ekonomis oleh manusia. Padahal, lamun berperan penting bagi ekosistem laut, terutama sebagai penyerap karbon biru (blue carbon).
“Dari temuan kami, banyak lamun hilang akibat reklamasi dan pembangunan. Hilangnya lamun akan berdampak langsung pada keberlanjutan populasi dugong, yang membutuhkan sekitar 30 kilogram lamun per hari sebagai sumber makanan utamanya,” tambahnya.
Selain itu, lamun terdiri dari dua bagian utama:
Above ground: daun dan batang.
Below ground: rimpang dan akar yang tersimpan di dalam sedimen.
Bagian below ground inilah yang menjadi penyimpan karbon terbesar dalam ekosistem lamun.
Peran Lamun bagi Ekosistem Laut

Tak hanya menyerap karbon, lamun juga berperan penting menjaga kelangsungan hidup terumbu karang. Lamun mampu menyaring lumpur dan partikel halus sehingga aliran air ke area karang tetap jernih dan tidak kelebihan nutrien.
Jika lamun hilang, pertumbuhan alga akan sulit dikendalikan. Akibatnya, permukaan terumbu karang bisa tertutup alga, yang berpotensi merusak ekosistem laut secara keseluruhan.
Dalam diseminasi hasil penelitian tersebut, materi yang dipaparkan mencakup dua riset utama, yaitu pertama, studi Blue Carbon di Lamongan dan Pulau Tabuhan (2023) bersama dengan DKP Jawa Timur, yang memetakan jenis, sebaran, biomassa, dan stok karbon lamun sebagai baseline potensi karbon biru pesisir utara Jawa Timur.
Sedangkan, publikasi kedua membahas potensi stok Blue Carbon di Pesisir Malang (2024). Di sana, terdapat lima jenis lamun, yaitu: Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isotifolium, and Thalassia hemprichii.
Di daerah Malang Selatan, ada lima pantai yang menjadi site monitoring, yaitu pantai: Bale Kambang, Kondang Merak, Gatra, Pantai Waru-waru, dan Sendang Biru.
Lamun atau dikenal juga sebagai seagrass, berbeda dengan rumput laut (seaweed). Ia menuturkan bahwa lamun adalah satu-satunya produsen primer di laut dangkal yang mempunyai peluang menyimpan karbon di laut (blue carbon).
Untuk itu, ia mendorong semua pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat, untuk lebih memperhatikan ekosistem lamun melalui kebijakan perlindungan dan restorasi. Langkah ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Goals (SDGs): ke-13 (Penangan Perubahan Iklim), ke-14 (Ekosistem Lautan), dan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























