Malang, Tugumalang.id – DPRD Kota Malang mendorong setiap kampus di Malang memiliki sistem pendampingan kesehatan mental yang mudah diakses mahasiswa. Hal itu menyusul dugaan percobaan bunuh diri mahasiswa kedokteran UB yang melompat dari lantai 6 gedung fakultas pada Kamis (10/9/2026).
Anggota DPRD Kota Malang Suryadi menekankan, catatan kasus percobaan bunuh diri yang mayoritas dilakukan mahasiswa bukan persoalan remeh. Tak hanya aspek keamanan kampus, tekanan yang dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan juga perlu menjadi perhatian serius.
“Bunuh diri bukan semata mata soal tempat. Ketika satu lokasi sudah diperketat pengamanannya, tetapi kejadian serupa masih terjadi di tempat lain, maka kita perlu melihat persoalan yang lebih mendasar, yaitu apa yang sedang dialami mahasiswa,” kata Suryadi, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: UIN Malang Survei Kondisi Keberagaman dan Kesehatan Mental di Ma’had
Tak dapat dipungkiri, mahasiswa pastinya menghadapi berbagai tekanan. Mulai persoalan akademik, keluarga, ekonomi, relasi sosial hingga masalah pribadi.
Untuk itu, ia meminta setiap kampus memiliki sistem pendampingan kesehatan mental yang lebih kuat dan mudah diakses mahasiswa.
“Saya beberapa bulan lalu sudah menyampaikan pentingnya pendampingan kesehatan mental bagi mahasiswa, terutama mahasiswa semester akhir. Jangan sampai kita baru bergerak setelah terjadi peristiwa,” tegasnya.
Di sisi lain, pihaknya juga mendorong Pemkot Malang membuka ruang dialog bersama para rektor dan pimpinan seluruh kampus yang ada di Kota Malang.
Formula langkah pencegahan, sistem deteksi dini, layanan konseling, pendampingan hingga kemudahan akses bagi mahasiswa diharapkan tercetus dari ruang dialog tersebut.
“Malang dikenal sebagai kota pendidikan yang nyaman bagi mahasiswa. Jangan sampai persoalan seperti ini membuat orang tua khawatir menyekolahkan anaknya di Kota Malang,” ucapnya.
“Kita harus memastikan bahwa lingkungan pendidikan kita aman, sehat dan mampu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pertolongan ketika menghadapi masalah,” sambungnya.
Baca juga: Universitas Brawijaya Siapkan Peraturan Rektor Kesehatan Mental untuk Mahasiswa
Lebih jauh, Suryadi meminta sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Kota Malang mulai memberikan perhatian lebih serius terhadap pendidikan karakter dan penguatan mental peserta didik.
Sebab, selain kecerdasan akademik, kemampuan mengelola tekanan juga penting dimiliki generasi muda.
Ia menegaskan, persoalan kesehatan mental mahasiswa merupakan tanggung jawab bersama. Kampus, keluarga, pemerintah dan masyarakat harus membangun ekosistem yang memungkinkan mahasiswa berbicara dan mendapatkan bantuan tanpa merasa dihakimi.
“Jangan sampai generasi kita salah arah dan salah langkah hanya karena merasa menghadapi masalah seorang diri. Kita harus hadir sebelum mereka sampai pada titik yang paling berat,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko































