Tugumalang.id – Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Malang telah mengaktifkan gerakan sosialisasi dan penyebaran literasi untuk menangkal informasi hoax dan informasi provokatif di Kota Malang.
Kepala Diskominfo Kota Malang, Nur Widianto menyampaikan bahwa pemanfaatan gadget oleh masyarakat tak dapat dibendung di era perkembangan teknologi digital saat ini.
“Tentu masyarakat harusnya memanfaatkan ruang digital dengan bijak. Faktanya, sebagian besar masyarakat kita masih menelan informasi begitu saja,” ucapnya, Sabtu (6/9/2025).
Baca Juga: Pedagang Jualan di Tepi Jalan, DPRD Kota Malang Minta Pemkot Tata Pasar Kebalen
Ia mengatakan, informasi hoax akan semakin berbahaya ketika masyarakat justru ikut serta menyebarluaskan karena merasa mendapat informasi pertama.
“Kami mencermati, ujaran kebencian, disinformasi, fitnah sampai provokasi itu memang bisa bergerak begitu bebas di ruang digital,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya menggencarkan edukasi literasi digital di berbagai forum masyarakat. Masyarakat diminta untuk selalu memverifikasi kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
“Yang sering saya sampaikan saat forum adalah mencari tahu kebenaran sebuah informasi, bisa melalui media mainstream untuk memastikan sejauh mana kebenaran informasi yang diterima masyarakat,” tuturnya.
Baca Juga: Fakta Menarik Rekrutan Anyar Arema FC, Alfiansyah: Bek Sayap Potensial
Pihaknya juga menggandeng relawan, komunitas hingga lintas perangkat daerah untuk menggencarkan program literasi digital itu. Hal ini diharapkan menjadikan masyarakat semakin bijak dalam menyikapi informasi yang belum pasti kebenarannya.
Di sisi lain, pihaknya juga akan terus memantau keberadaan informasi informasi hoax yang beredar di media sosial Kota Malang agar bisa segera diantisipasi.
Dia mencontohkan, akhir Agustus lalu sempat beredar video bernarasikan seolah gedung DPRD Kota Malang terbakar. Padahal, aksi demo belum berlangsung.
“Itu jelas tidak benar. Kalau informasi seperti ini terus didaur ulang dan disebarkan, lama lama bisa dianggap kebenaran dan itu berbahaya,” tandasnya.
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























