Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Budaya

Debut Aduhai Swara Pertiwi di Festival Seni Tradisi #1

Redaksi by Redaksi
Februari 24, 2025 1:33 pm
in Budaya
Penampilan Swara Pertiwi – Festival Seni Tradisi. Foto/dok

Penampilan Swara Pertiwi – Festival Seni Tradisi. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Komunitas Swara Pertiwi RW 09 Kelurahan Merjosari, Kota Malang, menorehkan sejarah baru dalam perjalanannya sebagai komunitas seni.

Pada ajang Festival Seni Tradisi #1 yang berlangsung pada 22-23 Februari 2025 di Taman Krida Budaya, Kota Malang, Jawa Timur, komunitas yang seluruh anggotanya merupakan emak-emak ini menghadapi tantangan yang tak biasa: menjadi penabuh gamelan untuk mengiringi Mini Ludruk (Ludruk Malangan).

READ ALSO

Tradisi Bersih Desa Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Masyarakat Jawa

Tradisi Ater-Ater, Warisan Budaya Jawa Menjaga Hangatnya Silaturahmi

Bagi mereka, ini bukan sekadar penampilan biasa, melainkan sebuah pengalaman penuh keringat, ketegangan, dan kebanggaan.

Baca Juga: Rumah Budaya Ratna, Wadah untuk Asah Kreativitas Para Seniman dan Sastrawan di Malang

Swara Pertiwi selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di tingkat lokal. Namun, menjadi pengiring ludruk merupakan hal baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tantangan ini datang dari Studi Akting Malang, yang mengajak mereka bergabung dalam proyek seni pertunjukan tersebut.

Kesempatan emas ini bukan tanpa hambatan. Sebagai pengiring ludruk, Swara Pertiwi harus menguasai ritme khas Ludruk Malangan dalam waktu yang sangat singkat—hanya dua minggu.

Berbagai kendala mereka hadapi, mulai dari memahami struktur musik, menjaga kekompakan permainan, hingga mengatasi rasa gugup tampil di hadapan penonton.

Baca Juga: Tinggalkan Pekerjaan Sebagai Arsitek, Seniman Teguh Nuswantoro Jadikan Kegiatan Seni Rupa Sebagai Merawat Hobi Masa Kecil

“Awalnya terasa mustahil. Kami belum pernah bermain gamelan untuk mengiringi ludruk sebelumnya, tiba-tiba harus tampil di panggung besar. Deg-degan luar biasa!” ungkap Tutik, salah satu penabuh gamelan Swara Pertiwi.

Menyadari keterbatasan waktu, Swara Pertiwi bergerak cepat mencari dukungan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah bekerja sama dengan Laboratorium Gamelan Universitas Gajayana Malang (UNIGA).

Pimpinan perguruan tinggi ini menyambut baik inisiatif tersebut dan memberikan fasilitas latihan guna mempercepat proses adaptasi.

“Kami sangat mendukung kegiatan-kegiatan seni dan budaya seperti ini. Selain sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar, ini juga menjadi cara untuk menjaga keberlanjutan seni tradisional,” ujar Prof. Dr. Ernani Hadiyati, M.S, Rektor Universitas Gajayana.

Proses latihan Swara Pertiwi di ruang gamelan UNIGA. Foto/dok
Proses latihan Swara Pertiwi di ruang gamelan UNIGA. Foto/dok

Setiap malam selama dua minggu, tangan-tangan yang sebelumnya terbiasa mengurus rumah tangga kini memukul kendang, bonang, saron, peking, demung, dan gong dengan penuh semangat.

Kesalahan demi kesalahan mereka lalui, rasa lelah diabaikan, semua demi sebuah penampilan yang membanggakan.

Minggu, 23 Februari 2025, menjadi hari yang tak terlupakan bagi Swara Pertiwi. Dengan kostum yang telah dipersiapkan secara cermat oleh Irwan AKA, mereka melangkah ke panggung dengan hati berdebar.

Dukungan dari Sindu dan Fandi sebagai pendamping sekaligus pelatih memberikan energi tambahan untuk menghadapi panggung besar.

Saat alunan pertama gamelan menggema, suasana di Taman Krida Budaya Jawa Timur berubah. Nada-nada gamelan yang dimainkan Swara Pertiwi berpadu dengan aksi para pemain ludruk di atas panggung. Getaran tabuhan gamelan menciptakan atmosfer magis yang membuat penonton terpukau.

“Begitu tabuhan pertama keluar, rasa gugup langsung hilang. Kami seperti masuk ke dalam dunia lain, dunia di mana gamelan dan ludruk menjadi satu kesatuan yang hidup,” ujar Novie Kusumawati, penabuh kendang sekaligus ketua komunitas Swara Pertiwi.

Komunitas Swara Pertiwi RW 09 Kelurahan Merjosari saat tampil ajang Festival Seni Tradisi #1. Foto/dok
Komunitas Swara Pertiwi RW 09 Kelurahan Merjosari saat tampil ajang Festival Seni Tradisi #1. Foto/dok

Penonton yang hadir tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian dan dedikasi Swara Pertiwi dalam melestarikan seni tradisional.

Festival Seni Tradisi #1 merupakan ajang yang bertujuan untuk merayakan dan menjaga seni tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Berbagai komunitas seni dari berbagai daerah turut serta dalam perhelatan ini, menampilkan beragam bentuk kesenian tradisional Indonesia.

“Kami ingin menciptakan ruang bagi masyarakat untuk kembali merasakan keindahan dan kekuatan tradisi yang tetap hidup di tengah modernisasi. Seni tradisional bukan sesuatu yang usang, melainkan warisan berharga yang harus kita jaga bersama,” ujar salah satu panitia penyelenggara.

Bagi Swara Pertiwi, keterlibatan dalam festival ini bukan hanya soal tampil di atas panggung, tetapi juga soal membangun keberanian, menumbuhkan solidaritas, dan merasakan makna mendalam dari seni tradisional. Lebih dari itu, mereka berhasil membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berkarya.

“Komunitas ini akan terus berlatih dan terbuka untuk berbagai kolaborasi seni ke depan. Siapa tahu suatu hari nanti kami bisa memiliki pertunjukan sendiri, atau bahkan melahirkan lebih banyak perempuan yang mencintai gamelan,” kata Novie dengan penuh optimisme.

Langkah ini menjadi bukti bahwa seni tradisional bisa menjadi ruang inklusif bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang atau usia.

Melalui semangat belajar dan kebersamaan, Swara Pertiwi menunjukkan bahwa tradisi tetap bisa hidup, berkembang, dan menyentuh banyak hati. Dentingan gamelan mereka kini bukan sekadar suara instrumen, tetapi simbol ketekunan, keberanian, dan cinta pada warisan budaya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Sumber: Rilis komunitas Swara Pertiwi

Editor: Herlianto. A

Tags: Festival SeniKelurahan Merjosarikota malangSwara Pertiwi

Related Posts

Tradisi bersih desa
Budaya

Tradisi Bersih Desa Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Masyarakat Jawa

Kamis, 28 Mei 2026
Ilustrasi tradisi ater-ater di Jawa. (Foto: Instagram/ @perpusipkabtegal)
Budaya

Tradisi Ater-Ater, Warisan Budaya Jawa Menjaga Hangatnya Silaturahmi

Rabu, 27 Mei 2026
Ilustrasi Wamen Kebudayaan RI Giring Ganesha saat mengunjungi objek cagar budaya Villa Bima Shakti di Selecta Kota Batu. Foto: Azmy
Budaya

Pemkot Batu Perluas Pendataan Objek Cagar Budaya di 2026, Ada Bunker Jepang hingga Situs Petirtaan

Selasa, 12 Mei 2026
Fakta menarik busana khas Malangan yang diluncurkan pada rangkaian HUT ke-112 Kota Malang sebagai identitas baru. /Foto: Instagram @pemkotmalang
Budaya

Identitas Budaya Baru, 8 Fakta Menarik Busana Khas Malangan yang Perlu Diketahui

Senin, 6 Apr 2026
Pertunjukan di rumah kelahiran Shakespeare. Foto: Shakespeare's Birthplace
Budaya

Sastrawan di Inggris, Menyusuri Jejak Sastra Klasik di Negeri Matahari Tak Pernah Tenggelam

Selasa, 31 Mar 2026
Ilustrasi Lepet ketan lacang merah yang dibungkus dengan janur dan tali rafia (Foto: Pinterest @Rien_Borneo)
Budaya

Ini 5 Macam Varian Lepet Pendamping Ketupat yang Tidak Boleh Terlewat

Minggu, 29 Mar 2026
Next Post
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin memimpin apel di halaman Balai Kota Malang. (Foto/Prokopim Setda Kota Malang)

Pimpin Apel Pertama, Wakil Wali Kota Malang "Kulo Nuwon" di Balai Kota Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.