Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Citra Filsafat dan Duduk Perkara Al Ghazali Sebagai Biang Keladi

Redaksi by Redaksi
Desember 23, 2022 2:24 pm
in Ruang Cendekia
Dr Fahruddin Faiz, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pegiat filsafat.

Dr Fahruddin Faiz, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pegiat filsafat. Foto/tangkap layar YouTube Gita Wirjawan

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Filsafat secara umum di Indonesia tidak populer, sering dicurigai bahkan sampai disebarluaskan bahwa filsafat itu haram. Ini pengakuan Dr Fahruddin Faiz, salah satu pegiat filsafat sekaligus dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat berbicara di podcast Gita Wirjawan belum lama ini.

Anggapan itu, menurut Fahruddin Faiz, tidak tepat karena berdasarkan pengalamannya membaca sejarah peradaban besar dunia, justru peradaban besar itu tumbuh atau diawali dari kajian filsafat.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

“Padahal sejauh yang saya baca, peradaban-peradaban besar dunia itu muncul karena jayanya filsafat di peradaban itu,” tutur Dr Fahruddin Faiz.

Sementara itu, di kalangan masyarakat Indonesia filsafat justru sering dicurigai. Termasuk di kalangan umat muslim sendiri, sering sekali membanggakan zaman keemasan Islam di masa lalu akan tetapi lupa bahwa kejayaan itu karena filsafat.

Menurutnya, transformasi kejayaan Islam itu terjadi pada abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi. Saat itu memang dukungan sangat besar untuk dunia ilmiah dan filsafat dari para penguasa dinasti dan kerajaan-kerajaan Islam.

Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah khalifah Al Ma’mun yang menyuport penerjemahan karya-karya filsafat ke dalam bahasa Arab.

Pada masa kejayaan itu, kata dia, mereka umat Islam menunjukkan keterbukaan tidak hanya pada filsafat Yunani saja tetapi juga membuka diri dan belajar dari India dan Tiongkok.

Namun demikian, kejayaan Islam mulai menurun semenjak abad ke-13. Tentu saja faktornya tidak tunggal, ada beberapa hal. Pertama, diserangnya Baghdad, ibu kota Dinasti Abbasiyah, oleh Hulagu Khan.

Kedua, ditemukannya mesin cetak di Eropa pada abad ke-15 yang bisa mengakselerasi dokumentasi pengetahuan dalam bahasa Eropa. Sehingga mereka lebih berpengetahuan, lebih berpendidikan, dibanding yang ada di timur tengah waktu itu.

Menyoal Al Ghazali

Ketiga, ini masih dalam perdebatan yaitu hadirnya Imam Al Ghazali, yang sering dituduh meruntuhkan semangat filsafat dalam Islam. Ghazali memang sering dituduh begitu gara-gara tulisan-tulisannya mengkritik filsafat Ibn Sina dan Al Farabi sebagai figur filsuf terkemuka kala itu.

Akhirnya, peradaban ilmiah umat Islam jadi macet. Namun ini tidak sepenuhnya benar. Menurut Fahruddin Faiz, harusnya dipahami kaitannya Imam Al Ghazali yang memilih menjadi sufi.

Dia menulis karya monumental berjudul Ihya Ulumuddin. Dan, dia menulis dalam genre kesufian dengan gaya sufistiknya yang lebih cenderung ke akhirat, orientasinya tidak duniawi.

Nah, menurut Fahruddin Faiz, hadirnya karya sufistik Al Gahazali itu bertepatan dengan momentum penyebab pertama keruntuhan peradaban Islam yaitu kalahnya umat Islam atas pasukan mongol.

“Situasi yang turun ini ketemu wawasan-wawasan sufistik yang agak pasrah. Semuanya jadi diserahkan kepada Allah ini cocok sudah,” katanya.

Itu ibaratnya, seperti orang sudah kalah disuruh sabar, disuruh ngalah. Bukan berarti nasehat untuk sabar dan ngalah ini salah, tapi momennya tidak pas.

“Jadi disaat orang harus bangkit tapi malah disuruh sabar. Semuanya sudah ketentuannya Allah, kita pasrahkan saja. Ini tidak jadi bangkit, akhirnya banyak orang yang menuduh bahwa Imam Al Ghazali jadi biang keladinya, sebenarnya mentalitas zamannya. Baru ditaklukkan, baru kalah, sedang trauma. Dan, pada akhirnya dapat pelarian, ajaran-ajaran untuk lebih cenderung pasrah,” kata dia.

Penulis: Sekar Ayu Damayanti

Editor: Herlianto. A

Tags: Al GhazaliCitra FilsafatFahruddin FaizFilsafatNgaji Filsafat

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Remaja korban kecelakaan

Remaja di Gondanglegi Berbonceng Tiga Disenggol Truk R-6, Dua Orang Tewas

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.