Rabu, Juni 24, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Redaksi by Redaksi
Juni 24, 2026 9:51 am
in Catatan
Fairouz Huda. Foto/dok

Fairouz Huda. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Fairouz Huda – Nahdliyin Pinggiran

​Tugumalang.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang, dinamika internal di tubuh jam’iyyah kian memperlihatkan polarisasi yang mengkhawatirkan.

READ ALSO

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta

Kontestasi kini terjebak dalam pusaran konflik dua kelompok besar: kubu yang bersikeras mempertahankan status quo kepemimpinan, dan kubu yang berambisi kuat untuk menggusur incumbent.

​Ketegangan nyata dari syahwat politik struktural ini bahkan telah mengoyak marwah organisasi pada forum resmi tertinggi di bawah muktamar. Publik menjadi saksi bagaimana perebutan palu sidang secara ugal-ugalan terjadi dalam rapat pleno pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Kediri kemarin.

Baca Juga: Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Insiden memilukan tersebut diproyeksikan berpotensi besar akan terulang kembali dengan eskalasi yang lebih masif pada muktamar mendatang jika ego masing-masing kelompok tidak diredam.

Di tengah ambisi faksional yang kian vulgar, khazanah ilmu dan keluhuran adab yang selama ini menjadi fondasi utama NU seolah sengaja dikesampingkan demi satu tujuan mutlak: kemenangan.

​Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan Nahdliyin. NU sejatinya bukanlah entitas politik, bukan pula korporasi bisnis yang memburu profit maupun pengaruh kekuasaan.

NU adalah samudera keilmuan, moralitas, dan adab demi tegaknya Islam rahmatan lil ‘alamin—Islam yang membawa rahmat dan kedamaian bagi semesta alam. Para pendiri (muassis) mendirikan jam’iyyah ini bukan untuk merebut kekuasaan atau menumpuk kekayaan, melainkan sebagai wadah pengabdian dan khidmat kepada umat.

​Sayangnya, pemandangan hari ini justru memperlihatkan pergeseran paradigma yang ironis. Para pemburu jabatan di struktur PBNU kini tampak tak ubahnya seperti “pengemis kuasa”.

Semangat ikhlas yang melandasi pergerakan NU perlahan luntur, digantikan oleh nalar pragmatis. NU yang seharusnya menjadi tempat mencari berkah, kini terancam direduksi menjadi tempat merampok ‘berkat’.

​Khittah Kepemimpinan: Diminta Kyai, Bukan Mengemis Amanah

​Merujuk pada tradisi luhur salafus sholih, calon pemimpin di tubuh Nahdlatul Ulama idealnya tidak menampilkan ambisi pribadi yang meledak-ledak.

Pemimpin NU sejatinya harus dipinang dan diminta langsung oleh para kyai sepuh berdasarkan rekam jejak keilmuan (dhori) dan kematangan moralitas (bathini). Sungguh naif jika kepemimpinan tertinggi ormas Islam terbesar di dunia ini harus diperebutkan lewat kasak-kusuk politik dan intrik yang mengabaikan marwah organisasi.

​Jika muktamar kali ini didekati dengan hati yang bersih—bukan dengan nalar kepentingan kelompok—maka figur yang dinilai paling layak untuk diminta memimpin PBNU adalah KH. Achmad Azaim Ibrahimy. Beliau saat ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Baca Juga: UIN Maliki Malang Jalin Kerja Sama Global dengan Zintan University Libya

​Secara histori dan genealogi keilmuan, Kiai Azaim adalah representasi otentik dari sanad keilmuan murni NU. Beliau merupakan cucu dari pahlawan nasional sekaligus ulama kharismatik NU, KHR. As’ad Syamsul Arifin. Keterikatan ini memberikan legitimasi historis yang luar biasa kuat.

Pesantren Sukorejo adalah tempat bersejarah di mana Khittah NU 1926 dirumuskan kembali pada Muktamar ke-27 tahun 1984, serta tempat di mana asas Pancasila diterima pertama kali oleh NU. Mengalir darah ketokohan dan ketegasan KHR. As’ad dalam diri Kiai Azaim, menjadikannya figur moral yang sangat disegani.

​Rekam jejak kepemimpinan beliau di NU juga tercatat kuat lewat kontribusi gagasan dan spiritualitasnya yang konsisten menjaga harmoni dunia santri.

Keteduhan, keikhlasan, dan kekhusyukan Kiai Azaim dalam menjaga jam’iyyah sangat tampak nyata, termasuk konsistensi ketokohannya yang membawa angin sejuk di tengah memanasnya suasana Munas di Kediri kemarin. Di saat riuh rendah perebutan palu sidang pleno terjadi, Kiai Azaim tetap hadir sebagai oase spiritual yang teduh dan menenangkan.

​Penjaga NU Dhohiron wa Bathinan

​Kendati memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni dan legitimasi historis yang tak tertandingi dari pesantren jangkar NU, KH. Azaim Ibrahimy tampaknya enggan dan tidak bersedia untuk tampil mengambil peran dalam wilayah kepemimpinan struktural PBNU.

​Sikap ini bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan sebuah laku tasawuf tingkat tinggi dan manifestasi nyata dari adab NU yang sesungguhnya: tidak memburu jabatan.

Kiai Azaim tampaknya memilih jalan yang lebih sunyi namun sangat vital, yakni mengambil tugas kultural sebagai Penjaga NU secara dhohiron wa bathinan (lahir dan batin).

​Di saat struktur organisasi rentan diintervensi oleh kepentingan politik luar dan terjebak pragmatisme, Kiai Azaim memilih membentengi NU dari bilik pesantren melalui jalur tirakat, riyadhoh, dan pendidikan santri.

Beliau menyadari bahwa NU tidak hanya membutuhkan nakhoda di atas kertas, tetapi membutuhkan jangkar spiritual yang memastikan kapal besar ini tidak karam diterjang badai ambisi.

Keputusan untuk tetap berada di jalur kultural ini menjadi kritik sunyi yang tajam sekaligus tamparan keras bagi para pemburu jabatan struktural: bahwa kehormatan tertinggi di NU bukan terletak pada ketukan palu sidang atau kursi ketua, melainkan pada keikhlasan menjaga kesucian umat dan organisasi.

​Muktamar mendatang harus menjadi momentum refleksi total. Jika NU ingin selamat dari kehancuran moral dan kegaduhan serupa seperti di Kediri, para muktamirin harus menghentikan syahwat politik para “pengemis kuasa” dan kembali mendengarkan getaran spiritual dari pesantren-pesantren bersejarah seperti Sukorejo.

 

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: KH AzaimMunasNU

Related Posts

M. Lutfi Khoirudin, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Rabu, 24 Jun 2026
Bagian 1 Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026) tentang perjalanan takdir dan pohon cinta. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra
Catatan

Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta

Selasa, 23 Jun 2026
Dr. KH. Abdurrahhman, S.H.I, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Political Framing Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren

Senin, 22 Jun 2026
Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi. Foto/dok
Catatan

Jangan Hukum Pesantrennya, Hukum Pelakunya

Sabtu, 20 Jun 2026
Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang
Catatan

Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang

Jumat, 19 Jun 2026
Takdir
Catatan

Tombol ON yang Menyalakan Takdir

Kamis, 18 Jun 2026
Next Post
Rendra Masdrajad Safaat. Foto/dok

DPRD Kota Malang Sesalkan Aksi Vandalisme ASM dan Desak Pelaku Ditindak 

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bapenda Kota Malang Sosialisasikan Opsen PKB dan BBNKB hingga Tingkat RT RW

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.