Oleh: Irham Thoriq, CEO Tugu Media Group
Tugumalang.id – Pagi ini, Sabtu 14 Mei 2025, rapat bersama dengan calon mahasiswa magang dari Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.
Tapi, saya yang justru dapat banyak pelajaran. Dari salah seorang peserta magang Risma Elinawati, 22 tahun.
Bagaimana tidak, dia bisa hidup di Kota Malang, hanya dengan Rp100 ribu, untuk sepuluh hari.
Baca Juga: Pemkot Batu Berikan Beasiswa Kuliah Mahasiswi Yatim Piatu Berprestasi
Risma adalah mahasiswi asal Brebes, Jawa Tengah. Ayahnya jualan cilok, ibunya jualan nasi uduk kecil-kecilan di depan rumahnya. Risma punya dua adik.
Karena keterbatasan biaya, Risma rata-rata dikirim oleh orang tuanya seratus ribu. ”Biasanya cukup sampai sepuluh hari, tapi rata-rata tujuh hari sudah habis,” kata Risma.
Untuk menyiasati agar uangnya cukup, Risma di kosannya masak sendiri. Biasanya, setiap minggu dia beli beras satu kilo sebesar Rp17 ribu.
Sedangkan lauknya, biasanya dia beli, kadang masak sendiri. ”Seperti lauk sayur sop Rp3 ribu sudah bisa sehari, kalau lagi ngirit betul lauk bisa habis cuma Rp5 ribu,” imbuhnya.
Baca Juga: Risa Faiqul Ummah, Mahasiswi Al-Qolam Raih Runner Up Putri Universitas Jawa Timur 2024
Karena keterbatasan dana ini, Risma sangat jarang nongkrong di kafe layaknya teman-temannya yang lain. ”Kalau terpaksa saja misal ada kerja kelompok, teman-teman ngajak di kafe, ya saya ikut. Tapi sebisa mungkin selalu saya ajak ke perpustakaan agar ngirit,” imbuhnya.
Perjuangan Risma akhir-akhir ini lebih sedikit ringan. Karena, dalam tiga semester terakhir, dia sudah mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah yang cair setiap 6 bulan sekali.
Uang Kuliah Tunggal (UKT) dia setiap semester senilai Rp 2,1 juta, sudah ditanggung oleh KIP terserbut.
Sedangkan sisanya sekitar Rp 4,1 juta buat dia bayar kos-an senilai Rp 550 ribu setiap bulan. ”Kadang saya kirim juga sebagian ke keluarga, karena orang tua saya itu kadang ngutang untuk bisa ngirim saya,” imbuhnya.
Bapaknya, kata Risma, pernah berhutang ke Bank BRI untuk biaya kehidupan Risma dan adik-adiknya. ”Hutang Rp 1 juta bilangnya untuk modal usaha, ibu kadang hutang ke langganan belanja buat bahan nasi uduk, makanya sebagian dari KIP kadang saya kirim,” imbuhnya.
Pernah suatu ketika, Risma mengaku tidak bisa menghubungi orang tuanya, karena paketan data orang tuanya habis. Karena itulah, dia terpaksa hutang ke teman-temannya untuk biaya hidup sehari-hari.
”Hutang dulu ke teman, tiga hari setelah dikirim orang tua saya kembalikan, kadang juga orang tua mengirim setiap 7-10 hari itu Rp 200 ribu, tapi paling sering seratus ribu,” katanya.
Dengan kuliah ini, Risma ketika lulus kelak ingin bekerja di perusahaan lalu menjadi pengusaha. Dia ingin mengangkat perekonomian keluarga. ”Makanya saya mengambil peminatan industri dan organisasi,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A





























