Tugumalang.id – Menjadi difabel tuna daksa tidak pernah mudah. Selain harus berjalan dengan tongkat, beban psikologis berupa bully-an dari teman, kadang menjadi hantu yang menakutkan.
Inilah yang dirasakan oleh Aan Susianto, 45 tahun, karyawan Tugu Media Group, perusahaan media digital yang berhome base di Kota Malang.
Ketika masih Sekolah Dasar (SD), dia sering menjadi korban bully teman-temannya. Meski peristiwa itu sudah berlalu sekitar 32 tahun, tapi masih terngiang di pikiran alam bawah sadar Aan Susianto. Dia berharap, saat ini tidak ada lagi pelajar atau mahasiswa yang menjadi korban bullying.
Baca Juga: Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan Gaungkan Inklusi dengan Melibatkan Wartawan Difabel dalam Program JFC 2025

“Waktu itu saya sering dibilang kaki bengkok, kaki bengkok,” kata pria yang akrab disapa Dodik ini.
Dia merasakan korban bully sangat lama yakni saat masih Sekolah Dasar (SD) mulai dari kelas 1 SD hingga kelas 6. ”Baru mereda dan hampir tidak pernah lagi itu saat sudah SMP,” kata suami dari Yuliana, 40 tahun, ini.
Tidak hanya dari teman sekelasnya, kadang bullyan juga datang dari tetangga. Yang menjadi korban tidak hanya dia, tapi juga ibunya.
Baca Juga: Cerita Satu Laptop Difabel dari CSR, Dipakai Kerja Hingga Kuliah
”Ada tetangga bilang ke ibu saya, ngapain anakmu di sekolahin tinggi-tinggi wong keadaannya seperti itu,” imbuh alumnus SMK Nasional, Kota Malang ini.
Saat ini Dodik berusaha melupakan segala bully-an yang pernah dia terima. Kalau saat ini ada yang membully dia, sudah tidak ngefek lagi.

Kalau dulu, dia sering sekali menangis saat di bully. ”Kalau sekarang sudah tidak mempan,” kata pria yang mengalami tuna daksa sejak lahir ini.
Di tengah pendidikan dan pergaulan yang semakin modern, dia berharap bully tidak lagi terjadi. ”Saya kira peran guru untuk mengedukasi sangat penting,” katanya.
Saat ini, Dodik fokus untuk bekerja dengan optimal. Dia bersyukur bisa bekerja di sektor formal, dan mendapatkan pemasukan tetap.
Dia ingin membahagiakan ibunya Sumiati, 65 tahun. Sedangkan ayahnya, Sanusi, sudah meninggal dunia empat tahun yang lalu.
“Alhamdulillah setiap bulan bisa bantu finansial ibu saya, meski cuma sedikit,” kata anak pertama dari empat bersaudara ini. ”Saya juga ingin segera punya anak, mohon doanya,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Irham Thoriq
Editor: Herlianto. A





























