Malang, Tugumalang.id – Arief Wibisono, 49, akrab dipanggil Bison. Penulis asal Kota Malang ini telah menulis enam buku, yakni Empat Dekade Musik Malang, KWARTET S, History Book Aremania, Sejarah Rumah Potong Hewan, dan Perjuangan Laskar Hizbullah Kota Malang.
Selain menulis buku, pria asal Gadang, Sukun, Kota Malang ini juga dikenal sebagai seorang pengarsip. Meski kuliahnya mengambil jurusan Administrasi Negara di Universitas Merdeka Malang, ia sangat hobi mengarsip.
“Suka saja, meski gak dapat uang,” kata Bison dalam sebuah obrolan di Toko Kopi Abah, Klojen, Kota Malang, Selasa (9/12/2025).
Kurang lebih sudah 25 tahun ia menjadi pengarsip. Sebagaimana hobi, tentu saja ia mengarsip sambil bekerja di sektor formal. “Saya menganggap saya sendiri gila. Kalau gak gila, gak bisa mengarsip dengan sabar begitu,” kata pria yang pernah bekerja di salah satu perusahaan air mineral kemasan ini.
Cerita Manusia: Menyimpan Sejarah Malang dalam Ratusan Arsip
Total ada sekitar 200 arsip berupa sejarah dan kenangan penting tentang banyak hal soal Malang Raya. Mulai dari sepak bola, musik, transportasi, budaya, dan lain sebagainya.
Baca juga: Kisah Penonton dan Pedagang Pesona Gondanglegi 2025 Bertahan Berhari-Hari Meski Panas Menyengat

Salah satu arsip yang paling berkesan adalah momen saat pendiri Arema FC, Acub Zainal, meresmikan Stadion Tambak Sari di Surabaya pada tahun 1965.
“Menarik karena ada pemandangan yang kontras, yakni pendiri Arema yang gak pernah akur dengan Persebaya, kok bisa meresmikan stadion di kandang Persebaya,” katanya.
Terlepas dari fakta bahwa saat itu Acub Zainal menjabat sebagai Pangdam V Brawijaya, foto tersebut tetap menjadi foto bersejarah. “Saya dapat majalah momen ini dari keluarga beliau langsung,” kata pria dengan dua orang anak ini.
Selain itu, foto bersejarah lainnya yang ia arsip adalah foto konser grup band legendaris God Bless di Stadion Gajayana pada tahun 1988. “Kalau itu saya dapat karena waktu itu saya menonton langsung,” katanya.
Baca juga: Anak Sopir Menjadi Guru Besar Unisma, Kisah Inspiratif Prof Istirochah Pujiwati
Saat itu, jumlah penonton mencapai 500 orang. “Ini konser besar untuk ukuran waktu itu, karena populasi penduduk belum banyak,” katanya.
Kebanggaannya, dari proses mengarsip itu ia bisa berkarya dengan menerbitkan banyak buku. “Selain itu saya juga sedang buat museum terminal di Arjosari. Ini juga berkat proses mengarsip saya, jadi kegilaan saya ada sedikit manfaatnya,” katanya lalu terkekeh.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko


















