Selasa, Juni 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Catatan Mudik (10): Peziarah di Situs Makam Sunan Gunung Jati Gunakan Tanaman Selasih untuk Tabur Bunga

Redaksi by Redaksi
Mei 4, 2022 6:33 pm
in Pilihan Redaksi
Bunga Selasih untuk tabur bunga ke makam

Masyarakat berziarah di kompleks makam Sunan Gunung Jati, gunakan Bunga Tanaman Selasih untuk tabur bunga. foto/Abdi Purmono

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Wartawan senior Abdi Purmono mudik dari Malang ke Medan dengan sepeda motor. Saat ini sudah berada di kawasan Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Sumatera. Rabu (4/5/2022) Abdi Purmono mengabarkan melalui pesan WhatsApp, motornya sedang diservis di layanan mudik Tunas Honda Pramuka, Bandar Lampung. Di diler itu Motornya ganti oli karena sudah menempuh jarak 1.100 km. Namun, catatan Berikut bukan soal motornya yang diservis, tapi catatannya saat melintas di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Tengah, Situs Makam Sunan Gunung Jati.

==========================

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

SAAT memasuki wilayah Cirebon, saya melihat pemandangan menarik selepas dari wilayah Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, Senin pagi, 2 Mei 2022 atau tepat 1 Syawal 1443 Hijriah alias lebaran hari pertama.

Di sebuah jembatan penghubung Brebes-Cirebon, tampak 6-7 orang menjual ikatan tanaman hijau yang sepintas mirip tanaman kemangi, yang bernama ilmiah Ocimum sanctum. Banyak orang membelinya.

Bunga Tanaman Selasih. foto/Abdi Purmono

Saya penasaran, namun tetap melanjutkan perjalanan tanpa sempat memotret pemandangan tersebut. Rasa penasaran saya terjawab tatkala memasuki wilayah Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon. Persisnya di Situs Makam Sunan Gunung Jati, satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Ribuan orang nyaris menutup jalan pantai utara (pantura) Jawa Tengah baik dari arah Brebes maupun Indramayu, setelah mereka turun dari sepeda motor dan keluar dari mobil.

Seratusan sepeda motor dipakir di area parkir dan di tepi jalan. Sedangkan puluhan mobil diparkir di tepi jalan.

Tradisi nyekar ke makam. foto/Abdi Purmono

Banyak penjual kembang di kiri-kanan jalan. Sangat jelas terlihat orang-orang membeli ikatan tanaman serupa yang saya lihat di perbatasan Brebes-Cirebon. Ada ikatan kecil, ada ikatan besar.

Dan, rasa penasaran saya dijawab Pak Tisno, 68 tahun. Ia menjual menjual aneka kembang yang biasa dipakai untuk ziarah kubur. Tisno juga menjual beragam bentuk tasbih, baju koko, kopiah, sarung, jiriken, madu, dan bermacam minuman kemasan botol.

“Tanaman ini namanya bunga selasih,” kata Tisno kepada saya.

Menurut Tisno, selasih atau Ocimum basilicum identik sebagai tanaman khas Cirebon. Ia menjualnya tiap hari, tapi selasih paling laris terjual di masa Lebaran, saat ribuan dan bahkan bisa ratusan ribu orang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan juga makam keluarga. Rupanya, di Cirebon, selasih juga biasa dibawa masyarakat nyekar di tempat pemakaman umum.

Selasih juga laris terjual di bulan Ramadan. Tapi, selain Lebaran, selasih justru paling laris manis terjual di hari Jumat kliwon. Banyak yang memanfaatkannya untuk kegiatan ritual.

“Kalau pas Jumat Kliwon, ramai banget yang beli, kayak orang mau berlebaran,” ujar Tisno, yang sudah berjualan kembang ziarah lebih dari 40 tahun.

kompleks makam Syech Maulana Dzatul Kahfi. foto/Abdi Purmono

Selasih ikatan kecil dijual Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu selasih ikatan besar. Kembang campuran Rp 5 ribu per bungkus. Kembang campuran ini terdiri dari bunga kingkong, soka merah dan kuning, melati, dan irisan daun pandan.

Di masa lampau, kata Tisno, orang berziarah cukup bawa selasih. Kebiasaan ini diwarisi dari Sunan Gunung Jati alias Syekh Maulana Syarif Hidayatullah hingga sekarang.

Tiada makna khusus penggunaan selasih. Tidak apa-apa juga berziarah tanpa bawa selasih maupun kembang campuran. Namun, rasanya lebih afdal saja berziarah bawa selasih.

“Kan sebaiknya kita membawa keharuman alami saat berziarah, seperti halnya kita dianjurkan menjaga kebersihan dan mewangikan badan,” kata Tisno.

Ziarah di makam Syech Maulana Dzatul Kahfi. foto/Abdi Purmono

Sebenarnya, kompleks pemakaman itu terbagi dua lokasi, yaitu Astana Gunung Jati dan Astana Gunung Sembung.

Walau bernama Astana Gunung Jati, di lokasi justru tidak terdapat makam Sunan Gunung Jati, melainkan makam Syekh Dzatul Kahfi, penyebar agama Islam di Cirebon sebelum Sunan Gunung Jati. Nama lain Syekh Dzatul Kahfi ialah Syekh Nurjati, Syekh Datuk Kahfi, Syekh Idhofi Mahdi atau Syekh Nurul Jati.

Di Astana Gunung Jati terdapat pemakaman umum warga, di bawah makam Syekh Dzatul Kahfi. Makanya ribuan peziarah terlihat di sana.

Sedangkan makam Gunung Jati ada di bukit kecil bernama Astana Gunung Sembung. Kompleks ini juga terbuka untuk umum, tapi inilah makam khusus Sunan Gunung Jati, ulama maupun makam keluarga keraton Cirebon.

Kompleks Makam. foto/Abdi Purmono

Makam Sunan Gunung Jati sendiri sejatinya tertutup tiap harinya. Bukan orang sembarangan yang boleh melihatnya.

Lokasi Astana Gunung Jati dan Astana Gunung Sembung terpisah jarak sekitar 400 meter, masih di satu desa yang sama.

Tradisi berziarah dengan membawa selasih dilakoni Amir Yadi, 40 tahun, warga setempat. Yadi datang bersama rombongan keluarga usai melaksanakan salat Idul Fitri.

Yadi membeli 30 ikat selasih kecil, yang kemudian ditaruh di atas sejumlah batu nisan. Habis itu mereka mendaraskan doa.

“Rasanya lebih mantap pakai selasih daripada pakai kembang campuran. Selasih kan khas Cirebon, yang diwariskan Sunan Gunan Jati. Kalau kembang campuran kan umum di mana-mana,” kata Yadi.

Penjual bunga tanaman Selasih. foto/Abdi Purmono

Apa yang dilakukan Yadi juga dilakukan ribuan peziarah lainnya. Bukan cuma di Astana Gunung Jati, di depan pintu makam Sunan Gunung Jati pun banyak tumpukan selasih.

Berat tumpukan bunga selasih bisa mencapai puluhan dan bahkan ratusan kilogram jika dikumpulkan jadi satu.

Masuk akal sih. Bayangkan, seperti diutarakan Suwanto, tukang parkir di Astana Gunung Jati, di hari pertama Lebaran saja ditaksir ada 100 ribu peziarah.

Di hari kedua lebaran (2 Syawal) jumlah peziarah berkurang hingga separuhnya.

“Saya jadi tukang parkir sudah 10 tahun. Jadi sudah biasa ngeliat ribuan peziarah bawa selasih. Dihitung saja sendiri kalau satu orang peziarah rata-rata bawa 5 ikatan kecil, kalikan saja dengan sekitar 100 ribu peziarah di hari pertama lebaran ini,” kata Suwanto.

Penunjuk arah ke situs makam Sunan Gunung Jati. foto/Abdi Purmono

Suwanto dan 7 orang kawannya senang-senang saja ribuan orang berziarah karena pendapatan mereka melonjak drastis selama Lebaran.

Kegembiraan juga dirasakan Tisno dan puluhan pedagang karena kembang dagangan mereka, khususnya selasih, laris manis.

Selasih dan kemangi memang sangat mirip, bagai saudara kembar identik. Keduanya tanaman aromatik kaya akan minyak
esensial dan senyawa fenolik yang digunakan sebagai pelengkap masakan dan
juga berkhasiat sebagai obat tradisional seperti untuk migrain, stres, demam, dan diare.

Jadi, bukan sekadar wangi, selasih pun punya fungsi sosial-keagamaan dan kesehatan.

Reporter: Abdi Purmono
editor: jatmiko

 

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: catatan mudikcirebonMudik 2756 KilometerMudik bersepeda motor Malang-MedanMudik Malang-Medan dengan Bersepeda MotorSitus Makam Sunan Gunung Jati

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
Kuliner pedas di kota malang

Lima Rekomendasi Kuliner Pedas di Malang, Cocok Disantap Bareng Keluarga

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.