MALANG, Tugumalang.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memetakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026. Sebanyak 26 dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang memiliki potensi ancaman karhutla.
Lima kecamatan dengan luas ancaman karhutla terbesar adalah Sumbermanjing Wetan, Poncokusumo, Pujon, Tirtoyudo, dan Ampelgading. Berikut rincian luas ancaman karhutla di lima kecamatan terluas beserta jumlah penduduk terpapar:
1. Sumbermanjing Wetan dengan luas ancaman 143,73 kilometer persegi dan jumlah penduduk terpapar 54.208 jiwa
2. Poncokusumo dengan luas ancaman 100,70 kilometer persegi dan jumlah penduduk terpapar 90.716 jiwa
3. Pujon dengan luas ancaman 109,18 kilometer persegi dan jumlah penduduk terpapar 56.658 jiwa
4. Tirtoyudo dengan luas ancaman 85,32 kilometer persegi dan jumlah penduduk terpapar 36.550 jiwa
5. Ampelgading dengan luas ancaman 77,78 kilometer persegi dan jumlah penduduk terpapar 51.329 jiwa.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan, tantangan dalam penanganan karhutla adalah total luas hutan dan lahan yang ada di Kabupaten Malang yang mencapai 3.531 kilometer persegi.
Baca juga: BPBD Kabupaten Malang Petakan 12 Kecamatan Rawan Angin Kencang dan Puting Beliun
“Pemantauan (ke seluruh titik) dan koordinasi menjadi salah satu tantangan kami,” ujar Sadono, belum lama ini.
Tantangan lainnya yang dihadapi adalah titik lokasi kebakaran hutan berada di kawasan hutan pada lereng yang sulit dijangkau oleh petugas pemadaman darat. Di samping itu, risiko kecelakaan kerja dalam operasi pemadaman darat di titik lokasi yang ekstrem cukup tinggi.
“Kami juga memiliki keterbatasan jumlah personel yang memiliki kualifikasi dan kompetensi dalam operasi pemadaman darat,” tutur Sadono.
BPBD mencatat, pada musim kemarau 2024 terdapat 18 titik kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Malang. Lokasi tersebut tersebar di kawasan hutan Perhutani maupun lahan masyarakat di sejumlah kecamatan, seperti Singosari, Kromengan, Bantur, Kalipare, dan Wonosari.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) juga turut bersiaga dalam mengantisipasi potensi karhutla di kawasan konservasi. Salah satu upaya mereka adalah dengan membentuk dan membina kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa.
Keberadaan MPA dinilai cukup efektif dalam mempercepat deteksi dini titik api. Masyarakat yang tergabung dalam kelompok ini pun dibekali cara menangani kebakaran sebelum api meluas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
Deskripsi:Keyword:


















