MALANG, Tugumalang.id – Di tahun 1970an, Bandara Juwata yang ada di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara masih berupa bandara perintis yang belum banyak menerima penumpang.
Saat itu, bandara dioperasikan oleh dua orang, salah satunya adalah Bambang Mangku Bagyo, pemuda asal Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
“Waktu itu cuma ada kepala bandara dan saya,” kenang Bambang yang saat ini sudah berusia 74 tahun.
Merantau jauh dari Jawa ke Kalimantan Utara bukan perkara mudah. Namun, bagi Bambang, perantauan justru menjadi sekolah kehidupan.
Baca Juga: Rekomendasi Travel Malang-Juanda 24 Jam: Solusi Praktis Perjalanan ke Bandara
Di Tarakan, ia banyak bertemu pengusaha, politisi, hingga relasi dari dalam dan luar negeri. Jaringan itulah yang kelak menjadi modal sosial penting dalam perjalanan hidupnya.

Bambang bukan datang tanpa bekal. Lulusan STM Nasional jurusan Teknik Mesin ini juga pernah menempuh latihan kejuruan penerbangan dengan spesialisasi kelistrikan untuk perhubungan dan fasilitas udara.
Puluhan tahun bekerja, Bambang menyadari satu hal penting. Indonesia tidak kekurangan orang, tetapi sering tertinggal dalam keterampilan.
Sejak era 1980-an, ia mulai aktif melatih tenaga kerja dan mencetak lebih dari 600 SDM terampil. Baru-baru ini, gagasan besarnya menemukan bentuk yang lebih terstruktur melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Karoseri Jenggolo Baru Majapahit, binaan Proyek Nata Agung Perwujudan.
Baca Juga: Punya Fasilitas yang Lengkap dan Dijamin Nyaman! Rekomendasi Tempat Menginap Terdekat dari Bandara Abdul Rachman Saleh Malang
“Pelatihan sudah saya lakukan sejak lama, tapi untuk kepentingan sosial kami bentuk badan hukumya berupa yayasan,” ujar Bambang yang merupakan Pimpinan Proyek Nata Agung Perwujudan.
BLK ini berlokasi di Jalan Majapahit, Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Di sana, anak-anak muda ditempa dengan skill teknis, pemasaran, dan manajerial, sambil bekerja langsung di lapangan.

Tak ada biaya masuk yang perlu dibayar. Bahkan, peserta berpotensi mendapatkan uang saku saat magang.
“Supaya bisa gratis, mereka belajar sambil bekerja. Saya ingin mereka cepat mengejar ketertinggalan,” ujar Bambang.
Ia menjelaskan, salah satu pencapaian anak-anak didik BLK ini adalah berhasil memodifikasi sepeda roda tiga menjadi bentor, kendaraan box, hingga ambulans. Beberapa unit bahkan telah diserahkan kepada pemerintah desa untuk dimanfaatkan dalam melayani masyarakat.
Bambang berharap, anak-anak didiknya bisa terserap ke perusahaan-perusahaan yang ada di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Berdasarkan pengamatannya, perusahaan di sana membutuhkan banyak SDM.
Menurutnya, Pulau Jawa memiliki cadangan SDM melimpah yang bisa disiapkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Namun, keterampilan SDM ini perlu dipoles agar sesuai dengan kriteria yang diminta perusahaan.
“Permintaan SDM di sana sangat banyak dan saya melihat di Jawa ini ada banyak SDM yang potensial, hanya perlu dilatih keterampilannya,” kata Bambang.
Ia mencontohkan, perkebunan dengan luas lahan yang mencapai ratusan ribu hektare akan membutuhkan ratusan ribu tenaga kerja. Di lahan seluas lima hektare, dibutuhkan setidaknya lima orang tenaga kerja.
“Mereka bisa membawa anak istri. Artinya, seribu hektare bisa menghidupi seribu kepala keluarga. Bayangkan jika luasnya ratusan ribu hektare,” imbuh Bambang.
BLK ini juga melatih anak didik untuk menjadi wirausaha. Mereka tidak selalu diarahkan untuk menjadi tenaga kerja di perusahaan.
Meski berbasis di Kepanjen, BLK Karoseri Jenggolo Baru Majapahit terbuka untuk masyarakat umum. Saat ini, terdapat belasan anak didik yang menimba ilmu di sana. Beberapa di antaranya berasal dari Kalimantan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























