Awas, Karyawan Berdedikasi dan Berkomitmen Paling Rawan Mengalami Burnout

  • Whatsapp
Ilustrasi

MALANG – Burnout atau yang bisa diistilahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah ‘terbakar habis,’ adalah kondisi dimana manusia terbakar habis energinya. Kalau diibaratkan, seperti lilin yang terbakar dan lama kelamaan akan habis.

Psikolog Industri Organisasi dari Psychologycal Education and Research Ceria Hati, Gebi Angelina Zahra MPsi, menceritakan jika kondisi burnout ini pertama kali dikeluarkan oleh Psikolog asal Jerman bernama Herbert Freudenberger pada tahun 1967 di Amerika Serikat.

“Saat itu dia membuka klinik gratis untuk pemuda-pemuda asal Amerika yang ingin mengatasi permasalah kecanduan obat dan masalah-masalah medis lainnya,” terangnya saat dikonfirmasi wartawan tugumalang.id pada Selasa (01/06/2021).

Tak disangka-sangka klinik ini sukses besar dan terus berkembang hingga ada sekitar 300 klinik cabang di seluruh Amerika.

“Free clinic movement ini dia memberikan pelayanan secara gratis dan dilaksanakan oleh psikolog-psikolog volunteer. Jadi banyak pesikolog volunteer atau pekerja sukarela, dan karena ini gratis maka pendanaannya melalui donasi,” beber Gebi.

Lulusan S1 Psikologi dari Universitas Negeri Malang (UM) ini juga menceritakan jika klinik ini buka dari jam 6 malam sampai jam 10 malam, dan rata-rata jumlah pasien itu dalam sehari ada 40 orang pasien di setiap klinik.

“Jadi, kondisi Freudenberger dan para volunteer ini bekerja formal dari pagi sampai sore. Freudenberger bekerja sebagai psychoanalys di rumah sakit, dan malamnya dia bekerja di free clinic movement ini,” ceritanya.

“Dia (Freudenberger) mendapat 2 tuntutan yang demandnya tinggi, yang pertama tuntutan kerja formalnya dan kedua tuntutan kerjaan di free clinic movement ini,” imbuhnya.

Kondisi inilah yang membuat Freudenberger mengalami kondisi lelah secara fisik dan emosional, bahkan sampai tidak bisa tidur.

“Ia juga terus menerus mendapatkan siksaan dari tuntutan-tuntutan yang ia alami, sampai gak punya hari libur, sampai gak punya hari istirahat. Volunteernya juga mengalami hal itu, waktu simposium mereka melaporkan hal yang sama. Mereka merasa capek banget karena hal ini sudah berlangsung sejak lama,” ucap perempuan peraih gelar master dari Universitas Airlangga (Unair) ini.

Sejak saat itulah Freudenberger mengeluarkan istilah ‘burnout.’ Jadi, ia mendapatkan tuntutan yang sangat besar, dan itu berlangsung sangat lama dan tidak hanya sehari atau dua hari.

“Waktu itu mereka belum sadar ya kalau tuntutan mereka itu memberatkan, berlangsungnya itu berjangka waktu setahun sampai tiga tahun. Sampai dia capek emosi, fisik dan di situ dia bilang kita mengalami burnout atau terbakar habis sampai tidak memiliki waktu untuk diri sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gebi menjelaskan bahwa burnout itu sendiri artinya adalah perasaan negatif ke suatu pekerjaan dalam waktu sangat lama dan berkepanjangan.

“Intinya burnout itu ada tuntutan dahulu, dia berada di tuntutan itu dalam jangka waktu yang lama dan dia tidak bisa mencapai tuntutan itu, Sampai akhirnya dia memiliki perasaan negatif ke tuntutan itu. Jadi ada perasaan gak suka, lelah, capek, stress sampai akhirnya dia menarik diri,” tegasnya.

Baca Juga  Sempat Menggelora, Kini Kampung Tangguh Semeru Lesu

“Kita mendapat tekanan terus, merasa tidak mampu sampai akhirnya dia meninggalkan si tuntutan itu. Jadi, sejak awal dia harus memiliki perasaan gak mampu memenuhi tuntutan itu. Ketika dia merasa tuntutan itu bisa dipenuhi, artinya dia belum burnout,” sambungnya.

Selain itu, Orang-orang yang rentan terkena burnout ternyata adalah orang-orang yang justru memiliki dedikasi tinggi dan punya komitmen tinggi terhadap suatu perusahaan atau pekerjaan.

“Tapi kenapa mereka punya dedikasi dan komitmen ini karena mereka ingin diterima dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Jadi, orang-orang yang ingin diterima oleh lingkungan sekitar atau orang-orang yang ingin mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar membuat mereka harus serba perfek dan bagus supaya dapat pengakuan,” jelasnya.

Menurutnya, orang-orang yang memiliki dedikasi dan komitmen ini membuat mereka jadi tidak mementingkan dirinya sendiri, tentu karena untuk bisa mendapatkan pengakuan. Mereka tidak memberikan dirinya waktu untuk beristirahat, tidak memberikan waktu untuk dirinya melepaskan stress.

Kemudian ia juga menyebutkan bahwa orang yang rentan terkena burnout adalah orang yang memiliki ekspektasi tinggi. Kemudian orang yang perfeksionis itu juga rentan terkena burnout. Lalu, orang yang agreeable atau orang yang gampang setuju dengan tuntutan orang di lingkungan sosial juga rentan terkena burnout.

“Misalnya tuntutan sosial untum diterima di lingkungan sosial harus baik hati, tidak sombong, harus nikah tepat waktu, harus punya kerjaan yang gajinya Rp 6 juta. Itu kan mempengaruhi ekspektasi seseorang untuk harus mendapatkan gaji Rp 6 juta atau Rp 10 juta per bulan karena sosial yang bilang kerjaan yang bagus itu kayak gini dan posisi harus manager,” paparnya.

Selain para budak industri, ternyata siswa atau mahasiswa juga rentan terkena burnout. Sebuah studi mengatakan bahwa burnout tidak hanya di bidang pekerjaan.

“Karena penyebab kelelahan burnout itu macem-macem mulai dari anak yang ditekan sama orang tuanya untuk mendapatkan nilai tinggi, dan saat si anak tidak mampu melakukan itu dan dirasakan berkepanjangan maka anak ini bisa burnout, jadi ada namanya Study Burnout juga,” katanya.

“Kalau di Study Burnout kita melihatnya dari penyebab-penyebab seperti tuntutan orang tua tadi, lalu standar pendidikan kita yang nilainya harus segini gimanapun caranya,” tambahnya.

Gebi juga menyebut ada tiga tahapan burnout, ketiga tahapan tersebut diantaranya mendapatkan tuntutan, kemudian mulai muncul perasaan negatif terhadap suatu pekerjaan, dan terakhir dia akan menarik diri dari pekerjaan tersebut.

“Pertama dia mendapat tuntutan terlebih dahulu dan tuntutan ini tidak bisa dia penuhi. Jadi, tuntutan ini terlalu berlebih-lebihan untuk dia. Kemudian muncullah perasaan negatif ke pekerjaan, dia gak suka sama tuntutannya, gak bisa nikmati pekerjaan, kemudian melihat pekerjaan sebagai beban yang menyakitkan bagi dia. Dan jika ini berlanjut akan membuat seseorang merasa gagal karena dia tidak bisa memenuhi tuntutan itu terus menerus, dan tidak bisa memberikan hasil apa-apa,” sebutnya.

Baca Juga  Panglima TNI Tinjau Langsung Pelaksanaan Vaksinasi untuk TNI di Malang

“Dan yang ketiga, dia akan menarik diri dari pekerjaan, artinya dia gak mau kerja. Bahkan, sampai keluar dari pekerjaan dan meninggalkan tanggung jawab. Atau bahkan mengambil langkah-langkah ekstrim seperti saat dia merasa stress berlebihan sampai merasa gak mampu dan gagal, tiba-tiba secara impulsif pekerjaan itu didelete karena sudah muak dan kesal,” sambungnya.

Ia juga menyampaikan apa saja ciri-ciri yang bisa dilihat dari orang yang mengalami burnout. Dan apesnya, orang-orang yang mengalami burnout tidak bisa dilihat secara fisik.

“Kalau secara fisik tidak bisa dilihat seperti penyakit lainnya, tapi bisa dilihat dari perilaku. Misalnya melaporkan sering susah tidur, bahkan ketika sudah tidur masih merasakan capek. Kemudian dia sering cerita merasa kurang dihargai, dan merasa gagal,” tuturnya.

Ciri-ciri burnout juga bisa dilihat dari kinerja orang tersebut yang tiba-tiba anjlok. Ia mulai sering absen padahal awalnya rajin, hingga performa kerjanya yang menurun.

“Kalau dari kerjaan bisa dilihat dari tingkat absen, orang yang burnout ini tingkat absennya tinggi misalnya tiba-tiba gak masuk kerja bilang sakit atau bilang apa. Sebenarnya tidak masuk ini adalah bentuk pelarian dia untuk lari dari tuntutan kerja,” ungkapnya.

“Kemudian kerjaannya dibawah performa, kalau kerjaannya dibawah standar itu bisa jadi ciri-ciri burnout,” tambahnya.

Peran bos yang aneh-aneh permintaannya ternyata juga jadi penyebab orang makin terbakar habis secara emosional alias burnout.

“Jadi penyebab burnout ada yang dari individu dan dari segi situasi. Dan situasi ini bisa dari pekerja yang tidak sesuai dengan si individu, bisa juga karena ketidakjelasan tugas-tugas kerja yang artinya dia diberikan pekerjaan tapi tidak dijelaskan pekerjaan ini bagus dasarnya apa tidak jelas, kemudian cara mengerjakan pekerjaan ini yang benar seperti apa tidak dikasih tau. Kemudian penghargaan di tempat kerjanya kurang, misalnya dia sudah bekerja tapi sama bosnya malah dimarahi, atau dia sudah kerja tapi sama bosnya tidak dikasih reward atau penghargaan dari kantor,” tegasnya.

Selain itu, juga ada kondisi burnout karena tidak ada support system yang baik, itu juga yang menyebabkan kondisi burnout.

“Misalnya teman kantornya yang iri sama dia, teman kantornya musuhin dia, terus pulang ke rumah tapi orang tuanya ngata-ngatain pekerjaan dia atau mengatakan pekerjaan yang dilakukan orang ini gak berharga,” singgungnya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi kondisi burnout, orang tersebut bisa mulai memakai asupan makanan yang teratur dan tidur tepat waktu. Selain itu olahraga juga menjadi salah satu solusi tepat.

Baca Juga  Polres Malang Berhasil Raih Satwil Terbaik Jawa Timur

“Salah satu sarannya adalah olahraga, selain untuk meningkatkan stamina, olahraga kan membuat stress ke badan, kalau burnout kan stress ke mental dan fisik, dengan kita berolahraga akan mengalihkan stress di otak kita ke stress di fisik saat olahraga. Jadi capek dan lelahnya kita tiba-tiba merasakan jantung ini terpompa dan ngos-ngosan, kalau orang melakukan itu orang jadi teralihkan stress di otaknya tentang kerjaan atau tuntutannya teralihkan,” jelasnya.

“Dan efeknya kalau badan jadi capek dia bisa tidur lebih nyenyak, jadi dia bisa recharge energi lebih banyak dengan olahraga,” imbuhnya.

Secara psikologis, mengenali diri sendiri juga bisa menjadi solusi kenapa seseorang yang mengalami burnout harus menjadi perfeksionis, berdedikasi dan berkomitmen untuk mendapatkan pengakuan.

“Kemudian dari psikologisnya, kita melihat orang burnout ini karena perfeksionis, berdedikasi tinggi dan berkomitmen tinggi karena dia pingin dapat pengakuan. Jadi, kunci permasalahan psikologis apapun gak hanya burnout adalah mengenali diri sendiri, kita harus mengenali diri sendiri kenapa kota jadi orang yang mengejar pengakuan dan penerimaan orang lain, dan itu harus diselesaikan,” tegasnya.

“Pengalaman-pengalaman yang menjadikan dirinya seperti itu yang harus diterima dan dimaafkan. Kalau tidak bisa sendiri bisa melalui bantuan Psikolog, tapi melalui Psikolog pun akan diarahkan untuk mecari tahu masalah itu,” sambungnya.

Gebi juga menyarankan untuk mulai mempelajari manajemen stres itu seperti apa. Belajar cara resolusi konflik itu seperti apa jika lingkungan kerjanya jelak. Kemudian belajar masalah regulasi waktu supaya pekerjaan dan kehidupan bisa seimbang.

“Kemudian juga kerjain hobi, jangan sampai kit gak punya hal untuk menyeimbangkan tuntutan atau stress. Masuk juga ke komunitas-komunitas yang bisa menjadi support system. Juga bisa cari support system, misalnya cari pacar yang bisa jadi support system kita, bukannya orang yang justru menambah tuntutan,” paparnya.

Kemudian karena burnout keluarnya karena tuntutan yang tidak sesuai dengan kemampuan orang tersebut sehingga tuntutan itu tidak terpenuhi, maka harus tahu mana perkejaan yang cocok dengan diri kita. Hal ini sangat penting untuk mencegah burnout itu terjadi.

“Kita harus tahu kemampuan kita ada dimana dan kekurangan kita itu apa. Dan kalau cari kerjaan jangan asal ngelamar, lihat dulu tugas-tugasnya apa dan butuhnya kemampuan seperti apa. Jadi, jangan sampai waktu wawancara pekerjaan kita hanya tanya gajinya berapa, coba tanya kerjaan ini tugasnya ngapain aja. Coba dikomunikasikan pekerjaan ini seperti apa sehingga saya bisa melakukan tuntutan pekerjaan dengan baik,” tuturnya.

“Kita melakukan itu untuk mengurangi missmatch antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan kita sendiri. Supaya burnout ini tidak terjadi dari awal,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *