Kota Batu, Tugumalang.id – Atraksi ndadi atau kesurupan dalam Bantengan Nuswantara Trance Festival ke-18 di Kota Batu sukses menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan, termasuk turis mancanegara. Ribuan penonton memadati sepanjang Jalan Gajah Mada hingga Jalan Panglima Sudirman, Minggu (2/8/2026).
Suara lecutan cambuk bersahutan dengan dentuman kendang, gong, dan alunan gamelan menyemarakkan suasana. Atraksi trance para seniman bantengan menjadi daya tarik utama yang paling dinantikan penonton.
Ketua Pelaksana Bantengan Nuswantara Trance Festival ke-18, Anjani Sekar Arum, mengatakan penyelenggaraan tahun ini memiliki catatan istimewa. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah, seluruh rangkaian kegiatan kali ini digelar murni atas swadaya komunitas dan masyarakat.
“Tahun ini benar-benar digelar murni swadaya masyarakat tanpa ada dukungan dana dari pemerintah. Namun, semangat para seniman tidak pernah surut. Yang paling penting bagi kami, budaya tetap hidup dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” ujar Anjani.
Baca juga: Angkat Budaya Lokal, Kesenian Bantengan Bantolo Warnai Festival 76 IAK di Malang
Meski tanpa dukungan anggaran pemerintah, skala dan gaung festival justru semakin besar. Parade tahun ini diikuti lebih dari 150 kontingen dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Malang Raya, Mojokerto, Blitar, Kediri, Lumajang, hingga Sidoarjo.
Festival ini juga menarik perhatian mancanegara. Sebanyak 18 peserta asal Australia, Jepang, Malaysia, Maroko, dan Cile turut ambil bagian.
“Banyak tamu asing yang datang tahun lalu kembali lagi dengan mengajak rekan-rekan mereka. Mereka memang khusus datang ke Kota Batu untuk menyaksikan Bantengan Nuswantara. Hal ini tentu berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan asing,” jelasnya.
Rangkaian Bantengan Nuswantara Trance Festival telah berlangsung selama beberapa hari sebelum parade puncak. Kegiatan diawali dengan malam penghargaan bagi para sesepuh Bantengan Nuswantara, dilanjutkan pertunjukan seniman nasional dan internasional, serta agenda budaya di Kecamatan Pujon.
Pada puncak acara, panitia menerapkan aturan ketat untuk menjaga kelancaran parade. Setiap kontingen dibatasi waktu sekitar dua menit saat melintasi panggung kehormatan agar seluruh peserta mendapat kesempatan tampil tanpa mengganggu durasi acara.
Baca juga: Ada Festival Bantengan di Jantung Kota Batu, Lewat Jalur Alternatif Saja
Selain menjadi ajang melestarikan warisan budaya Nusantara kepada generasi muda, festival swadaya ini juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM dan pedagang lokal yang memadati jalur parade.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























