Malang, Tugumalang.id – Penawar Special Learning Centre (PSLC), lembaga terapi yang fokus pada anak berkebutuhan khusus, mengungkap salah satu tantangan penting dalam penanganan anak dengan spektrum autisme, yaitu ketidaksukaan terhadap pelukan. Fenomena ini bukan semata soal keengganan emosional, melainkan berkaitan erat dengan gangguan pemrosesan sensorik.
Menurut PSLC, anak-anak autis yang enggan disentuh atau dipeluk kerap mengalami gangguan dalam memproses rangsangan sensorik dari lingkungan sekitar. Sentuhan fisik, seperti pelukan, bisa terasa berlebihan atau bahkan menyakitkan bagi mereka.
Anak Tak Suka Dipeluk Bisa Menunjukkan Gangguan Sensorik
Clinical Director PSLC, Dr. Ruwinah Abdul Karim, menjelaskan bahwa gangguan pemrosesan sensorik membuat anak kesulitan menginterpretasi stimulus, termasuk sentuhan. Akibatnya, mereka merespons sentuhan dengan penolakan atau ketidaknyamanan yang intens.
“Memahami kondisi ini sangat penting agar orang tua dan terapis tidak memaksa anak untuk menerima pelukan. Justru, pendekatan yang lembut dan penuh empati akan membuat anak merasa lebih aman,” jelas Ruwinah, yang akrab disapa Wina.
Baca juga: PSLC Ungkap Fakta Anak Autis Sering Menyakiti Diri
Edukasi untuk Orang Tua dan Masyarakat
Sebagai pusat terapi dan pembelajaran yang menangani autisme dan kebutuhan khusus lainnya, PSLC terus mendorong edukasi kepada orang tua dan masyarakat luas. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman terhadap tantangan yang dihadapi anak-anak dengan spektrum autisme, termasuk dalam hal interaksi fisik.
“Gangguan sensorik bukan berarti anak tidak menyayangi orang tuanya. Mereka hanya butuh waktu dan pendekatan yang berbeda untuk merasa nyaman dengan sentuhan,” tambahnya.
Komitmen PSLC Melalui PSLCNet
Ruwinah juga menambahkan bahwa penanganan masalah sensorik ini harus dilakukan secara holistik, melibatkan terapi okupasi dan intervensi yang terintegrasi, serta dukungan penuh dari keluarga. Terapi yang konsisten dan lingkungan yang mendukung akan membantu anak mengelola sensitivitas sensoriknya secara bertahap.
“Cinta mereka (anak) mungkin hadir lewat kedekatan non-verbal. Orang tua perlu memahami bahasa cinta anak, bukan memaksakan norma sosial,” ungkapnya.
Baca juga: Takut Terapi? Ini Alasan Orang Tua Masih Ragu Berikan Terapi untuk Anak Autisme, Ungkap PSLC
Hal inilah yang menjadi komitmen PSLC dengan menghadirkan PSLCNet sebagai pusat terapi sekaligus edukasi bagi orang tua yang memiliki anak dengan spektrum autisme. Kehadiran PSLCNet diharapkan memberikan kemudahan bagi orang tua untuk mendapatkan akses terapi bagi anak di bawah tenaga terapis profesional, serta edukasi seputar permasalahan tumbuh kembang anak.
Apalagi saat ini PSLCNet telah tersebar di beberapa daerah, mulai dari Medan, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, Banjarnegara, Batam, dan beberapa daerah lainnya. Masyarakat dapat dengan mudah menjangkau layanan yang diberikan PSLC melalui PSLCNet.
Selain itu, PSLC aktif mengadakan pelatihan, seminar, dan program edukasi bagi para pendidik, terapis, dan orang tua untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan, dalam menangani anak dengan autisme dan masalah pemrosesan sensorik.
Melalui pendekatan ini, PSLC berharap dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak berkebutuhan khusus dan membantu mereka berkembang optimal sesuai potensinya.
Informasi Seputar PSLC dan PSLCNet
Bagi Anda yang ingin tahu lebih lanjut atau ingin berkonsultasi mengenai tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus? masyarakat dapat menghubungi:
✳ Instagram dan TikTok: @pslc.indonesia
💡Facebook: Pslc Indo
☎️ WhatsApp: 0812-3069-7798 (Admin 1) dan 0812-3583-5126 (Admin 2)
Fenomena anak yang tidak suka dipeluk sebagai bagian dari tantangan pemrosesan sensorik ini menjadi perhatian serius PSLC, terutama dalam upaya mendukung keluarga dan komunitas autisme di Indonesia.
PSLC terus mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan memahami kebutuhan khusus anak-anak tersebut. Agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang inklusif dan penuh kasih sayang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko
























