MALANG, Tugumalang.id – Setiap tahun, Plt Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman mengejar beasiswa ke luar negeri untuk mengikuti short course atau program pendidikan singkat bertema lingkungan.
Sejak tahun 2023, ia selalu berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar terkait pengelolaan sampah selama 2-3 minggu.
Ia kerap mengupayakan pendidikan dari luar negeri ini agar pengetahuan terkait lingkungan hidup terus bertambah. Ilmu yang telah ia dapatkan pun langsung ia terapkan dalam pekerjaannya yang setiap hari bergelut dengan permasalahan sampah di Kabupaten Malang.

Di tahun 2023, pria yang akrab disapa Avi tersebut mendapatkan beasiswa dari Aarhus University Denmark. Kemudian di tahun 2024, ia mendapatkan beasiswa dari lembaga pelatihan Niras yang juga berlokasi di Denmark.
Baca Juga: Bupati dan DPRD Kabupaten Malang Tantatangani Nota Kesepakatan Rancangan Perubahan KUA-PPAS
Pada tahun 2025, ia menjadi salah satu dari 25 peserta terpilih dari lebih dari seribu pelamar untuk beasiswa Australian Awards di Griffith University, Australia.
“Saya antusias mengejar beasiswa seperti ini untuk membuka wawasan,” kata Avi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, selama ini sudah banyak informasi terkait lingkungan hidup yang beredar di dunia maya. Akan tetapi, pengalaman yang didapat melalui first-hand learning sangat berbeda.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mempelajari bagaimana pemerintah Australia mengelola transisi energi dari batu bara ke energi terbarukan secara menyeluruh.
Tidak hanya bertransformasi dari segi teknologi, mereka juga memberdayakan masyarakat terdampak lewat pendidikan dan pelatihan ulang.
Baca Juga: Bapenda Kabupaten Malang Menyapa Warga di Bululawang, Permudah Layanan Pajak
“Mereka memikirkan ekosistem secara menyeluruh. Tidak hanya teknologinya, tapi juga masyarakatnya. Pemerintah hadir di setiap proses,” ujar Avi.
Dari arsitektur ke lingkungan
Meski saat ini getol mengejar ilmu tentang lingkungan, Avi dulu menempuh pendidikan S1 Teknik Arsitektur dan S2 Manajemen Konstruksi di Universitas Brawijaya. Awalnya, ia bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang.
Di tahun 2020, Avi menempuh program Doktoral Ilmu Lingkungan di Universitas Brawijaya dan lulus pada tahun 2024 dengan gelar cum laude.
Pada tahun 2023, Avi menjabat sebagai Sekretaris DLH Kabupaten Malang dan kini merangkap sebagai Plt Kepala DLH Kabupaten Malang.
Avi menuturkan, bekerja di sektor lingkungan memiliki tantangan tersendiri. Permasalahannya yang dihadapi mulai dari hal-hal fisik yang terlihat secara kasatmata hingga perilaku masyarakat.
“Urusan dengan masyarakat, seperti perilaku, itu lebih menantang daripada yang berkaitan dengan fisik,” kata Avi.
Memimpin dengan empati
Dalam bekerja, Avi tidak hanya mengedepankan pemikirannya, tetapi juga empati. Ia pernah menginap di Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) demi merasakan langsung keluhan masyarakat.
“Saya menginap untuk tahu rasanya menjadi masyarakat yang tinggal di sekitar TPA. Ya memang di sana bau,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, ia makin yakin bahwa solusi lingkungan harus dibangun dari pemahaman lapangan dan empati sosial.
Menurutnya, pemimpin harus merasakan sendiri fenomena yang ada di lapangan baru kemudian memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah.
Membangun ekosistem pengelolaan sampah terpadu
Saat ini, Avi tengah menginisiasi kerja sama internasional di bidang pengelolaan sampah organik. Dengan Denmark, ia menjajaki kolaborasi dalam pengolahan sampah berbasis biopori, maggot, dan konversi sampah ke energi (biogas).
Program ini fokus pada sampah organik karena 70 persen sampah di Kabupaten Malang adalah organik. Kebanyakan persoalan yang muncul di TPA pun disebabkan sampah organik.
“Kalau masalah sampah organik bisa diselesaikan, maka pengelolaan sampah akan jauh lebih ringan,” tegasnya.
Tak berhenti pada dirinya, Avi juga aktif memotivasi pelajar SMP dan SMA untuk menaruh minat pada isu lingkungan dan beasiswa luar negeri.
Ia kerap memberikan materi dalam bahasa Inggris, mengenalkan bahwa isu lingkungan saat ini menjadi topik global yang menjanjikan.
“Kalau ingin dapat beasiswa ke luar negeri, kuasai bahasa Inggris dan cintai isu lingkungan. Peluangnya besar, baik di bidang energi, pelestarian lingkungan, maupun perilaku,” ucapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























