Kamis, Oktober 15, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Natal dan Sila Pertama Pancasila

Redaksi by Redaksi
Desember 26, 2023 4:02 pm
in Ruang Cendekia
Jakfar Shodiq.

Jakfar Shodiq. Foto/dok for TM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Jakfar Shodiq, Manager Seminar Di Lembaga Research Gawa Lelaku Malang.

Tugumalang.id – 25 Desember merupakan hari besar bagi segenap umat kristiani di seluruh dunia tanpa terkecuali mereka yang tinggal di Indonesia.

READ ALSO

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Hari Natal selalu dirayakan setiap tahu oleh umat kristiani yang mana hal itu memiliki maksud untuk merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Walau sebenarnya para ahli bersepakat bahwa tidak diketahui pasti kapan Yesus dilahirkan. Mamun, 25 Desember sudah disepakati menjadi hari perayaan untuk memperingati kelahiran sang kristus.

Ada teori ‘Sejarah Agama’ yang mengatakan bahwa umat kristiani awal mengambil 25 Desember berdasarkan hari raya yang ditujukan untuk Dewa Matahari, Sol Invictus, yang dirayakan pada era Kekaisaran Romawi.

Baca Juga: Jelang Natal, Polisi Gelar Sterilisasi di Gereja Katolik Paroki Maria Tak Bernoda Kepanjen

Satu teori disebut dengan ‘Sejarah Agama’ menyebut, Natal mengambil dari hari libur kaum pagan. Sementara, satu teori lainnya yang disebut ‘komputasi’ atau ‘kalkulasi’ menyebut bahwa kaum kristiani awal menggunakan semacam perhitungan untuk memilih tanggal 25 Desember sebagai hari ulang tahun Yesus Kristus.

Artikel CNN Indonesia “Sejarawan Ungkap Alasan 25 Desember Dipilih Sebagai Hari Natal” menjelaskan. Namun lagi-lagi itu bukanlah hal yang penting untuk diperdebatkan mengenai benar atau tidak tanggal 25 Desember sebagai tanggal kelahiran sang kristus.

Tetap saja tidak akan memengaruhi kesakralan hari itu bagi umat kristiani. Mengingat agama adalah sebuah keyakinan di mana apa pun yang ada dalam agama tersebut akan diyakini oleh para penganutnya.

Baca Juga: Luncurkan 5 Buku Hingga Maliki Award 2022, UIN Malang Sukses Helat Dies Natalis ke-61

Menurut Foucault, pemikir posmo asal Prancis, kebenaran merupakan wacana yang dikampanyekan lalu bisa mendominasi banyak orang hingga kemudian mendapatkan legitimasi.

Jadi sebenarnya tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, semuanya berasal dari wacana yang bisa mendominasi pemikiran khalayak umum lalu kemudian disepakati bersama menjadi sebuah kebenaran.

Hal ini juga diafirmasi oleh salah satu ajaran dalam Islam yakni mengenai metode penetapan hukum dari permasalahan yang tidak pernah terjadi di masa nabi atau tidak memiliki hukum konkrit baik dalam Al-Qur’an atau Hadits, yakni metode Ijtima.

Di mana dengan metode ini para ulama mengkaji suatu permasalahan tertentu untuk menentukan hukumnya dan lalu menyepakati kebenaran dari hasil kesepakatan itu.

Pada awal kedatangan ajaran kristen, agama ini merupakan salah satu objek buruan untuk ditumpas pada era kekaisaran Romawi, namun pada pemerintahan Raja Konstantin Agung (305 hingga 337 M), agama ini besar dan berkembang karena diberikan perlindungan khusus.

Dari sinilah agama Kristen besar hingga bisa menguasai daratan Eropa. Pengaruh agama ini kemudian menjadi semakin kuat, sehingga seorang raja akan mengalami krisis keabsahan (krisis legitimasi) kekuasaan kalau tidak diberkati oleh gereja.

Posisi gereja kemudian menjadi lebih tinggi daripada posisi negara. Gereja yang diwakili oleh Sri Paus menjadi lebih berkuasa daripada raja-raja kristen yang memerintah di daratan Eropa ketika itu.

Pada mulanya bung Karno selaku ketua tim PPKI membacakan hasil dari pada rumusan Piagam Jakarta yang diantaranya adalah sila pertama yang berbunyi “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Namun hal itu menuai tantangan dari berbagai umat non-Islam yang sampai menolak untuk bergabung dengan Indonesia. Kemudian Mohammad Hatta, Wachid Hasjim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Mohammad Hasan mendiskusikan dan lalu memprakarsai perubahan pada sila pertama itu dengan frasa yang kita kenal hingga saat ini yakni “Ketuhanan yang Esa.”

Dari peristiwa ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa kesatuan dan persatuan lebih penting dari hanya sekedar memperdebatkan agama mana yang lebih benar. Karena, Kembali pada pendapat Foucault di atas tidak ada kebenaran yang mutlak termasuk agama.

Yang meyakini agama Kristen tetaplah dengan keyakinan, yang Islam juga tetaplah dengan keyakinannya, yang Hindu, Budha, Konghucu dan juga Katolik tetaplah pada keyakinan.

Namun yang lebih penting adalah tidak melupakan bahwa kita adalah bangsa Indonesia persatuan dan kesatuan dengan landasan bhinneka tunggal ika harus terus kita junjung tinggi.

 

Editor: Herlianto. A

Tags: natalPancasilaSila Pertama

Related Posts

Achmad Sufyan Wahyudi, M.Pd/ Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Kamis, 15 Okt 2026
Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Next Post
Suasana Bakso Presiden saat kereta api melintas.

Suasana Ekstrem Kuliner Bakso Legendaris di Kota Malang, Makan sambil Lihat Kereta Api Melintas

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.