Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Refleksi Tragedi Kanjuruhan: Cahaya Humanisme dalam Kegelapan Duka

Redaksi by Redaksi
Oktober 1, 2023 4:15 pm
in Ruang Cendekia
Tragedi Kanjuruhan - Refleksi Tragedi Kanjuruhan: Cahaya Humanisme dalam Kegelapan Duka

Torehan grafiti luapan kekecewaan suporter atas penegakan keadilan Tragedi Kanjuruhan. Foto: Azmy

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh:  Khoirul Anwar*

Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober 2022. Setahun sudah tragedi itu berlalu.

READ ALSO

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menyebut nama stadion terbesar di Malang Raya itu seketika meresap, membawa getir dalam hati. Sebuah panggung tragedi tak terduga. Memilukan, namun penuh pelajaran mendalam.

Pertandingan sepak bola, Arema FC v Persebaya, yang semestinya menjadi hiburan, malah berakhir dengan pilu. Sorak berganti isak. Tawa tenggelam dalam duka. Sebagai bagian dari mereka, duka ini terasa amat mendalam.

“Di tengah kesedihan, kita belajar merasakan kebahagiaan. Di dalam kehilangan, kita mengerti arti memiliki,” kata filosof Schopenhauer.

Malam itu, bukan hanya soal kalah menang. Bukan soal rivalitas. Ini soal kemanusiaan yang tercabik. Jiwa-jiwa muda meregang. 135 nyawa melayang.

Tragedi ini memberi pelajaran bahwa kehidupan begitu rapuh, namun setiap detiknya berharga.

Kita semua, sebagai manusia, merasakan pilu ini. Sebagai warga Malang, tragedi ini seperti luka yang mencengkam hati. Setiap cerita, setiap wajah, setiap air mata mengajarkan kita tentang arti kehidupan.

Empati, kepedulian, dan kasih sayang menjadi cahaya dalam kegelapan ini. Seperti kata Albert Camus, “Di tengah musim dingin, saya menemukan invincible summer dalam diri saya.” Ini adalah tentang menemukan kekuatan dan harapan di saat-saat tergelap.

Dari sudut Malang, echo tragedi Kanjuruhan terasa begitu nyata. Setiap sudut kota, setiap percakapan di warung kopi, setiap tatapan mata saling bertukar kesedihan dan pertanyaan: mengapa ini bisa terjadi?

Tragedi ini bukan hanya sebuah kejadian yang bisa kita lewatkan begitu saja. Ia menjadi refleksi kolektif bagi kita semua. Seperti kata filosof Spinoza, “Emosi yang ditekan tak pernah mati. Mereka kembali dengan kekuatan yang lebih besar.”

Duka ini, jika tidak kita tangani dengan bijak, bisa membebani generasi berikutnya.

Sebagai manusia, kita diajak untuk tidak hanya berlarut dalam kesedihan, tetapi untuk bangkit. Bukan berarti melupakan, namun mengambil hikmah dan memperkuat tali persaudaraan kita.

Setiap tragedi sejatinya membawa peluang. Peluang untuk belajar, peluang untuk memperbaiki, peluang untuk bersatu.

Banyak yang bilang, “Waktu akan menyembuhkan.” Tetapi, seperti yang dikatakan oleh filosof Kierkegaard, “Hidup hanya dapat dimengerti mundur; namun harus dijalani maju.” Maka dari itu, kita harus maju, meski berjalan dengan beban duka yang berat.

Pelajaran tentang Humanisme

Kanjuruhan adalah pelajaran tentang humanisme. Tentang bagaimana kita sebagai manusia dan warga Malang bisa dan harus saling menyayangi, mendukung, dan bersatu melawan duka.

Refleksi ini penting. Tragedi ini harus menjadi momentum kebangkitan empati dan kemanusiaan. Ingatlah kata-kata Nietzsche, “Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita lebih kuat.” Setiap luka akan sembuh, setiap air mata akan kering, namun pelajaran dari Kanjuruhan harus tetap membekas.

Tragedi ini mengingatkan kita pada nilai-nilai dasar kemanusiaan. Mengajarkan kita bahwa di atas segala perbedaan, ada sesuatu yang jauh lebih penting: kasih sayang, empati, dan persaudaraan.

Mari bersama, sebagai warga Malang, sebagai manusia, kita belajar dan tumbuh dari tragedi ini. Kita bangun kembali semangat kebersamaan, kepedulian, dan humanisme. Karena pada akhirnya, hanya cinta dan empati lah yang bisa menyembuhkan luka. (*)

*Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, anggota tim PBNU Peduli untuk Korban Kanjuruhan

Tags: refleksi tragedi kanjuruhansatu tahun tragedi kanjuruhantragedi kanjuruhan

Related Posts

Achmad Sufyan Wahyudi, M.Pd/ Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Jebakan Penerbitan Nakal dan Mengapa Penulis Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Mesin Cetak

Kamis, 15 Okt 2026
Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Next Post
Pj Wali Kota Malang

Pj Wali Kota Malang Pimpin Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.