Jumat, Agustus 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Menengok Candi Jago yang Punya 6 Kisah Klasik di Reliefnya

Redaksi by Redaksi
Maret 12, 2023 9:04 am
in Pilihan Redaksi
Candi Jago

Bagian depan Candi Jago. Foto: Aisyah Nawangsari

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Kalau berjalan-jalan ke kawasan Bromo, jangan lupa pulangnya mampir ke Candi Jago. Bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Singosari ini cukup unik dibandingkan candi-candi lainnya. Selain memiliki corak dua agama, Candi Jago juga memiliki enam relief yang menceritakan tentang enam kisah.

Tatakan arca Dewi Padma yang kini berada di Museum Nasional Jakarta. Foto: Aisyah Nawangsari

Candi Jago berada di lereng Gunung Bromo, tepatnya di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini dibangun pada tahun 1268 Masehi pada masa Kerajaan Singhasari.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Nama Candi Jago sendiri diambil dari kata Jajaghu yang artinya keagungan. Candi ini didirikan untuk menghormati Raja Wisnuwardhana. Di kawasan candi ini juga terdapat arca perwujudan Raja Wisnuwardhana. Sayang, kepala arca tersebut hilang, sehingga hanya ada bagian tubuhnya saja.

Arca perwujudan Raja Wisnuwardhana yang diapit dua Muka Kala. Foto: Aisyah Nawangsari

Bagian bawah candi memiliki corak Buddha, sementara bagian atasnya memiliki corak Hindu Siwa. Pun demikian dengan relief yang ada di candi ini. Tiga relief di bagian bawah menceritakan tentang agama Buddha, sementara tiga relief di bagian atas bercerita tentang agama Hindu Siwa.

Relief pertama yang ada di Candi Jago merupakan Tantri Kamandaka, yaitu fabel-fabel yang sarat pesan dan pelajaran hidup. Relief ini dipahat di bagian candi paling bawah.

Kemudian relief kedua yang ada di atas Tantri Kamandaka adalah kisah Ari Dharma atau yang kini dikenal dengan Angling Dharma. Relief selanjutnya adalah Kunjarakarna yang bercerita tentang surga dan neraka.

Relief keempat bercerita tentang Parthayajnya, yaitu kisah Pandawa Lima saat bermain dadu. Relief kelima berkisah tentang Arjunawiwaha, yaitu pertempuran antara raksasa dan para dewa yang melibatkan Arjuna. Relief terakhir adalah Kresnayana, kisah cinta Kresna dan Dewi Rukmini.

“Yang bercorak agama Buddha adalah Tantri Kamandaka, Ari Dharma, dan Kunjarakarna. Tiga lainnya bercorak Hindu Siwa,” ujar Mimin Yuni Marita, Juru Pelihara Candi Jago.

Muka Kala di sisi lain dari arca perwujudan Raja Wisnuwardhana. Foto: Aisyah Nawangsari

Pada masanya, Candi Jago digunakan sebagai pendarmaan abu raja yang sudah meninggal. Raja yang didharmakan di candi ini adalah Raja Wisnuwardhana.

“Raja yang meninggal, abunya dibawa ke sini. Selain itu, (candi ini) juga untuk ritual umat, baik Hindu dan Buddha. Jadi seperti perayaan Nyepi atau Waisak (dilakukan di sini),” tutur Mimin.

Kompleks Candi Jago tak hanya berisi struktur candi saja. Di bagian depan candi, terdapat sebuah struktur yang menyerupai bunga teratai. Mimin menyebut bahwa itu adalah tatakan arca Dewi Padma yang kini berada di Museum Nasional Jakarta. “Di situ (tatakan) ada bunga teratai, simbolnya agama Buddha,” kata Mimin.

Tumpukan batu di belakang candi. Foto: Aisyah Nawangsari

Di halaman candi terdapat arca perwujudan Raja Wisnuwardhana yang diapit dua kepala raksasa penjaga candi atau Muka Kala. Beberapa meter di depan arca tersebut, juga terdapat satu arca Muka Kala. Diduga, dua Muka Kala dulunya di tempat di sisi kanan kiri pintu masuk candi, sementara satu Muka Kala ditempatkan di atas.

Kemudian di bagian belakang candi terdapat tumpukan batu-batu berukuran besar. Menurut Mimin, batu-batu tersebut belum diketahui posisi awalnya, sehingga ditumpuk begitu saja.

“Itu tumpukan batu-batu candi yang lepas yang tidak diketahui posisi awalnya. Jadi itu batu-batu yang sekedar dikumpulkan,” kata Mimin.

Candi Jago berada di tengah pemukiman warga dan terlihat jelas dari pinggir jalan raya. Pengunjung bisa dengan mudah menemukan candi ini.

Salah satu relief Tantri Kamandaka di Candi Jago yang menceritakan tentang bangau bersorban. Foto: Aisyah Nawangsari

Untuk masuk ke Candi Jago tidak dipungut biaya. Namun, pengunjung bisa iuran seikhlasnya dengan memasukkan uang ke kotak yang ada di dekat pintu masuk.

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: jatmiko

Tags: Agama buddhaCandi Jagogunung bromokerajaan SinghasariRaja WisnuwardhanaTantri Kamandaka

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
Unira kerja sama dengan UTM

Perkuat Komitmen dengan UTM, Unira Malang Siapkan Kolaborasi Akademik

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.