Sabtu, Agustus 29, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pertanian

Bahrul Alam, Pemuda Kasembon yang Kembangkan Pertanian Terpadu

Redaksi by Redaksi
November 19, 2022 5:17 pm
in Pertanian
Pemuda Tani pelopor

Kegiatan edukasi pengolahan limbah pertanian di Desa Kasembon. Foto: dok. Bahrul Alam

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang – Mengelola pertanian dan peternakan dengan cara modern bisa memudahkan petani sekaligus memberikan keuntungan maksimal. Dengan demikian, ketahanan pangan dan perekonomian petani dapat ditingkatkan.

Bahrul Alam (28), pemuda asal Dusun Sepudak, Desa Kasembon, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang mengembangkan pertanian terpadu bernama Bara Putra Farm agar pengelolaannya lebih efektif dan efisien.

READ ALSO

Tabrakan Beruntun di Pakis Malang, 8 Korban Alami Luka-luka

Polresta Malang Kota Ringkus 5 Sindikat Curanmor

Bahrul Alam (tengah) bersama Kepala Dispora Jawa Timur, Pulung Chausar (kanan). Foto: dok. Bahrul Alam

Ia memanfaatkan limbah daun untuk pakan ternak dan kotoran hewan untuk pupuk tanaman. Sehingga, pengeluaran bisa ditekan, namun hasil pertanian dan peternakan tetap maksimal.

Berkat upayanya mengembangkan pertanian terpadu ini, Bahrul dipercaya untuk mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang Pemuda Pelopor yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Bahrul sendiri saat ini membudidayakan tanaman palawija dan hortikultura yang diintegrasikan dengan peternakan kambing dan domba.

“Limbah pertanian, seperti daun singkong, kami gunakan untuk pakan ternak. Lalu ternak menghasilkan kotoran yang kemudian diproses menjadi pupuk organik. Pupuk tersebut kami kembalikan lagi ke lahan sebagai pupuk tanaman,” jelas Bahrul.

Mulai Beternak dengan Modal Tabungan

Bahrul mulai beternak di tahun 2016 dengan empat ekor kambing dan domba. Ia berani memulai kendati tak pernah mengenyam pendidikan formal pertanian atau peternakan. Ia merupakan lulusan SMK jurusan teknik komputer. Setelah lulus sekolah, ia bekerja di perusahaan konstruksi di Kalimantan dan Jakarta.

Ia kemudian memutuskan banting setir mengelola peternakan agar tetap bisa tinggal di desa. “Kalau di desa agak sulit untuk teknik, jadi saya ke ternak ruminasia,” ujar Bahrul.

Modal beternak ini ia dapat dari hasil menabung selama bekerja di perusahaan konstruksi. Modal tersebut ia gunakan untuk membeli ternak. Kemudian dari situ, hasilnya ia sisihkan untuk perbaikan kandang.

Ternak ruminasia (kambing dan domba) ia pilih karena pakannya mudah dicari. Menurut Bahrul, 70 persen pakan ternak tersebut merupakan rumput liar yang banyak ditemukan di sekitar situ.

Setelah banyak belajar, Bahrul semakin mengerti tentang tanaman. Ia memahami mana tanaman tanaman-tanaman yang mengandung protein tinggi dan bagus bagi ternak seperti odot, kaliandra, dan indigofera.

Akhirnya, ia mengembangkan tanaman tersebut untuk ternaknya. Pakan tersebut dipanen di lahan sendiri atau di lahan orang lain dengan sistem bagi hasil.

Menurut Bahrul, jika menggunakan cara lama, yaitu mencari rumput liar, peternak akan kesulitan untuk mencari pakan bagi puluhan ternak. Dengan perkembangan pengetahuan, tak hanya pakan didapat dengan mudah, tetapi juga bisa diawetkan sehingga tidak ada yang terbuang.

“Dulu orang cari pakan untuk 10 ekor saja sudah berat. Tapi dengan sistem yang modern, pakannya bisa diproses agar lebih awet dengan cara fermentasi. Jadi lebih praktis,” ujar Bahrul.

Kembangkan Pertanian Terpadu

Pelatihan inovasi pakan ternak.foto/dok pribadi

Pada tahun 2018, dua tahun setelah memulai beternak, ia mengenal sistem pertanian terpadu. “Jadi awalnya saya cuma beternak, kemudian saya kembangkan ke pertanian,” kata Bahrul.

Ia menanam jagung, singkong, dan lain-lain. Untuk afkir (produk yang tidak bisa dijual) dan produk yang tidak laku akan dijadikan pakan ternak. Kemudiam kotoran kambing akan dijadikan pupuk kohe. Jadi saling berintegrasi.

“Dengan begini, cari pakan untuk ternak lebih mudah dan waktunya lebih efisien. Metode ini sudah diikuti oleh peternak-peternak lain,” ujar Bahrul.

Belajar Bertani Otodidak

Bahrul tidak pernah mengikuti sekolah atau kelas pertanian dan peternakan. Ia belajar seorang diri melalui berbagai sumber. Salah satunya dengan konsultasi ke tetangga yang petani. Kemudian ia juga belajar dengan browsing di google dan youtube.

“Saya juga bergabung dengan komunitas peternak di Facebook dan menjalin relasi dengan para peternak yang ada di situ,” kata Bahrul.

Selain itu, komunitas tersebut juga berisi mahasiswa dan dosen sehingga banyak ilmu yang bisa ia dapat. Dari situ ia mempraktikan apa yang ia pelajari dan mendapat banyak pengalaman.

Mengukuti Ajang Pemuda Pelopor

Bahrul tak pernah menyangka ia akan mengikuti ajang Pemuda Pelopor. Ia mendapat kesempatan tersebut secara tidak sengaja.

Awalnya, Bahrul mengikuti program Petani Milenial di tahun 2021. Program tersebut berisikan petani-petani berusia 17-39. Beberapa bulan setelahnya, perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang mengunjungi Desa Kasembon untuk mencari kandidat Pemuda Pelopor yang akan mewakili Kabupaten Malang.

Sistem pertanian terpadu yang dilakukan Bahrul menarik perhatian Dispora Kabupaten Malang sehingga ia pun dipilih untuk mewakili Kabupaten Malang di ajang Pemuda Pelopor kategori pangan tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Saya kemudian mengajukan proposal ke Dispora Provinsi Jawa Timur. Seleksinya diikuti 28 orang dari seluruh Jawa Timur,” kata Bahrul.

Ia mengangkat konsep pertanian terpadunya. Ia juga mempresentasikan kegiatannya pemuda tani di Desa Kasembon bernama Guyubing Cah Angon.

Guyubing Cah Angon adalah perkumpulan pemuda tani dan ternak untuk belajar bersama serta untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Setelah dilakukan survei dari Dispora Provinsi Jawa Timur dan mengikuti sejumlah seleksi, Bahrul meraih juara 1 dan berhak mewakili Provinsi Jawa Timur ke ajang Pemuda Pelopor di tingkat nasional.

“Tapi untuk yang nasional nggak lolos karena produk yang dibawa ternyata harus melewati pengolahan. Produk kami ya buah, palawija, susu, dan daging. Jadi tidak ada produk yang dibawa ke Jakarta,” jelas Bahrul.

Pertanian identik dengan generasi yang lebih tua. Namun Bahrul membuktikan menjadi petani dan peternak juga bisa dilakukan oleh generasi muda, bahkan lebih baik dan lebih efisien.

“Untuk generasi muda, jangan takut menjadi petani. Potensi di pertanian masih bagus. Lahan masih luas. Peternakan juga masih menjanjikan,” pesan Bahrul.

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: jatmiko

Tags: Desa KasembonGuyubing Cah Angon.Pemuda Peloporpertanianpertanian terpadupeternakanpupuk koheruminasiaTernak ruminasia

Related Posts

Petugas melakukan olah TKP kecelakaan yang terjadi di Pakis. Foto: Satlantas Polres Malang
Pertanian

Tabrakan Beruntun di Pakis Malang, 8 Korban Alami Luka-luka

Minggu, 1 Feb 2026
Polresta Malang Kota membongkar sindikat curanmor di Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Bisnis

Polresta Malang Kota Ringkus 5 Sindikat Curanmor

Selasa, 24 Des 2024
Tersangka KUR Fiktif
Hukum & Kriminal

Ajukan KUR Fiktif di Bank Plat Merah hingga Miliaran Rupiah, 4 Tersangka Ditahan

Selasa, 10 Des 2024
Gelapkan
Bisnis

Gelapkan Dagangan dan Bikin Nota Fiktif di Blitar Kota, Dua Sales PT Bintang Sayap Utama Dipolisikan

Kamis, 5 Des 2024
Pencuri,Pecahkan kaca mobil,Gasak surat penting - Pecahkan Kaca Mobil, Pencuri di Pakisaji Gasak Surat Berharga dan Uang Tunai Rp2 Juta
Pertanian

Desa Tawangargo di Malang Jadi Pilot Project Program Closed Loop Agribisnis Hortikultura

Rabu, 4 Sep 2024
Bunga yang terlihat cantik berikut memiliki kadar racun dan zat yang sangat mematikan bagi makhluk hidup lainnya. Foto/Pixabay
Pertanian

Terlihat Cantik dan Indah, 5 Bunga Ini Bisa Berisiko Mematikan

Jumat, 16 Agu 2024
Next Post
Timnas Iran.

Profil Timnas Iran di Piala Dunia 2022, Sang Penantang dari Asia

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.