Kamis, Juni 25, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Fashion Week dari Pinggiran, Mendobrak ke Pusat

Redaksi by Redaksi
Agustus 11, 2022 8:38 am
in Catatan
fashion week

kawasan Citayam Fashion Week di Sudirman. foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

 

Pietra Widiadi*

READ ALSO

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Deman fashion week lagi melanda, setelah ledakan besar terjadi di Dukuh Atas, kawasan pusat di Jakarta. Anak-anak puber, anak baru gede atau juga sering disebut anak belasan tahun (teenager), mengguncang negeri ini, dengan polah yang luar biasa.

Polah dan lagak mereka diberi cap dengan Citayam Fashion Week, yaitu kreasi anak pinggiran Jakarta dari wilayah Bogor, dengan sebutan Citayam, Bogor dan Depok yang kemudian disingkat dengan SCBD, sebagai plesetan dari Sudirman Centra Business Development, atau pusat pertumbuhan binis di Pusat Jakarta.

SCBD plesetan itu berasal dari Sudirman, Citayam, Bogor dan Depok, jalur KRL sebagai transpotasi murah dari pinggiran Jakarta menuju pusat, yang ongkosnya hanya sekitar 5 ribu rupiah. Ulah ini dalam beberapa pekan ini belakangan ini, sangat heboh. Para warganet dan penikmat media sosial dan media konvensional, baik tulis dan tayang diramaikan oleh langkah dan polah dari anak-anal belasan tahun (teenager) kamu pinggiran Jakarta itu.

Dukuh Atas tepatnya, yaitu ujung dari Jalan utama Jakarta, yaitu Jalan Thamrin menuju aras Senayan melalui Jalan Sudirman. Bahwa perjalanan yang ditempuh hamier 1 jam dari asal mereka bukanlah sebuah halangan.

Langkah menuju pada kebanggaan, bahwa mereka naklukkan Jakarta dengan menguasai Dukuh Atas, di mana Kawasan mahal dekat dengan Stasiun KRL Dukuh Atas. Dengan cara yang dianggap memberontak ini, mereka menawarkan keramaian yang murah dan bisa dicapai dan digapai tanpa harus masuk ke Mall atau Plaza yang mahal, seperti Kawasan di sebelahnya, di Bundaran HI.

Citayam Fashion week
Kawasan Sudirman. foto/dok

Ini seperti ujung awal menuju pada pertunjukan kreasi para remaja yang menunjukkan eksistensi diri. Bahwa kemudian ini menjadi sebuah ledakan dahsyat pertunjukan jalanan, tak lepas dari gosip dan pembicaraan di media sosial dan tak kecuali media masa. Sebenarnya hal ini, pernah juga terjadi sebelumnya, seperti pengulangan dari sebuah gejala sosial, khas pemberontakan kaum pinggiran yang sesak oleh himpitan hidup di perkotaan.

Contoh gampang yang ditemukan pada tahun 2000an adalah demam rock-dangdut yang diperagakan oleh Ratu Ngebor, Inul Daratista. Penyanyi dangdut pinggiran Sidoarjo, yang mampu menantang sang Maestro dangdut Oma Irama. Dua hal yang berbeda, tapi jelas bahwa ini adalah sebuah kreasi. Kreatifitas yang lahir dari kemandirian dan kebarian, serta murah-meriah. Meski banyak cibiran dan cemoohan, pro-contra. Meski, polah anak belasan tahun di Dukuh Atas itu juga disamakan dengan cara berkreasi remaja Jepang dengan Harajuku, atau dikenal dengan Harajuku Style, sebagai subkultur remaja dan pemuda di Jepang.

Ditelisik lebih dalam, kreasi remaja SCBD ini, adalah genuine, asli dan sebuah peragaan unik yang penuh kreasi anak negeri di negara Tropis, Indonesia. Kesesakan di rumah karena tinggal di Kawasan pinggiran yang merupakan keluarga pada pelaju ke Pusat Kota Jakarta. Setelah kesebalan memuncak oleh pandemi yang nyaris tak berujung, melahirkan kelompok kreatif yang mampu mendobrak kemapanan kelas menengah-atas ekonomi Jakarta yang menghegemoni.

Tak penting seberapa murahnya sandang yang dikenakan, yang penting keberanian dan kreasi mendobrak kemapanan akan jati diri kaum muda menjadi sebuah penanda sebagai pendobrak. Sebuah karya yang benar-benar membanggakan.

Awalnya pro-cons yang muncul, sampai dipikirkan dialihkan lokasinya, supaya lebih mapan. Padahal kreasi itu, meletakkan dasar tentang kebutuhan publik, ruang publik yang tidak dikooptasi oleh ekonomi kapital. Yaitu gambaran murah, keterjangkauan dan kemampuan, keluarga anak-anak itu. Ide memindahkan ke Sarinah oleh Eric Tohir, menarik tetapi jelas tidak memahami kemandirian dan pendobrakan kelas bawah, dengan dasar murah dan meriah itu.

Lalu, pontang-panting kaum mapan dari kota-kota satelit Jakarta juga mencoba mengimitasi, seperti di Surabaya, Bandung dan bahkan kota pinggiran sekaliber Malang, juga didera demam fashion week. Dengan nama yang jelas-jelas ditiru, seolah itu lah mainstream tentang kemeriahan kota. Tidak kreatif, jadinya fashion week, melenggak-lenggok di kota-kota satelit itu. Maka kemudian seolah menutupi kreasi dan pendobrakan kaum pinggian yang ingin menunjukkan eksistensinya.

Panggung itu akan “dibajak” oleh sebuah kemapanan elan kapitalis, seolah sebagai upaya melindungi dengan soal hak cipta, atau bahkan diancam akan ditutup kalua mengganggu keamanan dan keresahan berlalu lintas. Seolah mau dibantu, seolah mau diamankan karena tidak aman dan tidak mampu.

Dari sini, maka dapat dilihat bahwa hegemoni, cara menguasai pola dan polah perilaku golongan tertentu ditetapkan oleh sebuah entitas pemilik modal. Ini merujuk pada, pemikiran Antonio Gramci (1937), pada awal perkembangnya teori Postmoderen. Jadi kreasi ini, hanya boleh lahir dari kaum mapan, kaum borjuasi kelas menengah. Bahwa tawaran murah seperti tidak pantas, kalua itu memberikan warna sebuah peragaan.

Berkembangnya gaya karena ada hegemoni, didobrak oleh kalangan pinggiran dengan bergaya apa adanya. Hanya bersolek, bergerombol, jalan sana-sini memutar Dukuh Atas, lalu diimitasi oleh kaum muda kelas menengah dari kota-kota satelit Jakarta. Ini tidak genuine lagi. Artinya, kaum pinggiran yang di luar Jakarta, tidak mendorong kaum pinggiran di kota-kota pinggiran untuk mempertontonkan kreasi mereka.

Katakanlah di Malang yang kemudian muncul, Kayutangan Fashion Week, yang akhir-akir jalan utama Malang itu diramaikan sebagai imitasi kota Yogyakarta. Meski nampaknya tidak penting bagi mereka yang lagi mabuk swapoto di area yang dianggap layak. Hanya jalan yang dihiasi lampu dan tempat duduk tapi tidak dikembangkan dengan regulasi yang bisa menampung wadah kreatifitas. Ini jadi pihak Pemerintah, mendorong adanya kemacetan dan menghambat lalu-lalang, lalu lintas. Jelas ini beda jauh dengan Dukuh Atas dari SCBD.

Bukan kreatifitas kaum muda yang didorong, meski kemudian keramian yang ada melahirkan pola konsumerisme, tentang gaya kaum muda yang nonkrong, atau butung tempat nongkrong. Pemerintah, lewat dinas-nya, seperti Dinas Pemuda dan Olahraga, mustinya lebih kreatif dan cerdik, bukan hanya pesolek tempatnya tetapi pesolek kreatifitas untuk mewadai begitu banyaknya kaum muda yang tidak memiliki ruang berkeasi yang kreatif.

*Founder Pendopo Kembangkopi Malang, Petani dan Sosiolog

editor: jatmiko

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: Fashion Week

Related Posts

Fairouz Huda. Foto/dok
Catatan

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Rabu, 24 Jun 2026
M. Lutfi Khoirudin, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Rabu, 24 Jun 2026
Bagian 1 Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026) tentang perjalanan takdir dan pohon cinta. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra
Catatan

Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta

Selasa, 23 Jun 2026
Dr. KH. Abdurrahhman, S.H.I, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Political Framing Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren

Senin, 22 Jun 2026
Dr. KH Ahmad Fahrur Rozi. Foto/dok
Catatan

Jangan Hukum Pesantrennya, Hukum Pelakunya

Sabtu, 20 Jun 2026
Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang
Catatan

Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang

Jumat, 19 Jun 2026
Next Post
Indonesia menang

Indonesia Melaju ke Final Piala AFF U 16, Tundukkan Myanmar Lewat Adu Pinalti dengan skor 5-4

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.