MALANG, Tugumalang.id – KH Yahya Sabrowi, pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, dikenal sebagai ulama yang alim dan telaten mengajarkan kitab kepada para santri. Keteladanannya dikenang sang cucu, KH Nasihuddin Al-Khuzainy, yang juga pengasuh pondok pesantren tersebut.
Dalam acara Haul Akbar ke-39 dan Reuni Nasional Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran, Gondanglegi, Malang, KH Nasihuddin menceritakan kenangannya bersama Kiai Yahya. Menurut dia, sang kakek tidak hanya memiliki kealiman yang mumpuni, tetapi juga sangat telaten saat membaca dan mengajarkan kitab-kitab kepada santri.
“Beliau, Kiai Yahya adalah sosok alimah yang saat itu memasuki usia 80 tahun, sebelum beliau wafat di tahun 1987 dengan segar dan suara yang jelas, dengan telaten membaca kitab-kitab. Bukan hanya sosok yang alim, beliau juga semua ilmu yang dia baca diamalkan. Bukan hanya yang wajib-wajib saja tetapi yang sunah pun juga dijaga,” kata KH Nasihuddin.
“Saya ingat dulu, ada ranjang yang bisa diatur naik turun, jika beliau kondisinya kurang sehat, beliau membaca dalam keadaan tidur. InsyaAllah beberapa alumni tahu sampai akhir hayat, Kiai Yahya membaca kitab sebanyak mungkin,” kenangnya.
KH Yahya Sabrowi Kealiman dan Istiqamah Mengamalkan Ilmu

Kealiman KH Yahya tercermin dari kebiasaannya mendalami kitab-kitab klasik dan mengamalkan ilmu agama. KH Nasihuddin mengingat, sang kakek tetap membaca kitab hingga akhir hayat, termasuk ketika sedang sakit.
“Kiai Yahya ini begitu alim, terbukti sampai akhir hayat beliau membaca kitab setelah Zuhur. Setelah Maghrib membaca Ibnu Aqil, Riyadhus Shalihin, Tafsir Al-Jalalain sampai beliau wafat, bahkan dalam kondisi sakit,” ungkapnya.
Penguasaan KH Yahya terhadap ilmu nahwu, shorof, fikih, hingga tasawuf terlihat ketika menerangkan dan membacakan lafaz demi lafaz dalam kitab turats. Kealiman itu juga disertai keikhlasan dan ketawadhuan dalam mengajarkan ilmu kepada para santri.
Bagi KH Nasihuddin, salah satu ciri khas sang kakek yang paling membekas adalah ketelatenannya saat membaca dan mengaji kitab. Kiai Yahya tidak tergesa-gesa. Setiap kata diterjemahkan dan dijelaskan secara terperinci agar para santri memahami maknanya.
“Beliau adalah sosok yang sangat telaten. Tidak sekadar membacakan lafadz, tetapi betul-betul memastikan makna dan pemahaman dari kitab tersebut sampai ke dalam dada para santrinya,” jelas KH Nasihuddin.
Dua Pengalaman yang Dikenang sebagai Karomah
Selain kealiman dan ketelatenannya, KH Nasihuddin juga menceritakan sejumlah pengalaman bersama Kiai Yahya yang menurutnya berada di luar nalar manusia biasa.
Salah satunya terjadi ketika mereka hendak menunaikan salat di sebuah masjid di Pandaan, Pasuruan. Saat itu, KH Nasihuddin yang masih muda dititipi sandal oleh Kiai Yahya. Sang kakek kemudian mengambil wudu dan salat di dalam masjid. KH Nasihuddin juga melaksanakan salat sambil membawa sandal tersebut.
Setelah salat, sandal itu tertinggal di dalam masjid. Ketika hendak mengambilnya, mereka mendapati pintu masjid sudah terkunci. Penjaga masjid dan ayah KH Nasihuddin mencoba membuka pintu menggunakan kunci, tetapi kesulitan.
Kiai Yahya kemudian membuka pintu dengan mudah dan mengambil sandal yang masih berada di posisi semula.
“Karena beliau mengamalkan berilmu dan ilmunya, maka kadang sering menemukan hal-hal di luar nalar. Saya pernah mengalami sendiri ketika sandal beliau yang dititipkan ke saya tertinggal di dalam masjid,” kenangnya.
“Begitu teringat sandal tertinggal di dalam masjid, pintu masjid susah untuk dibuka meskipun sudah menggunakan kunci. Tetapi dengan karomah Kiai Yahya pintu bisa dibuka dengan mudah dengan menempelkan kedua telapak tangannya ke pintu masjid tanpa kunci, dan sandal beliau masih ada tanpa berubah posisinya,” terang KH Nasihuddin.
Menurut dia, keistimewaan yang dimiliki Kiai Yahya tidak terlepas dari kebiasaannya menjaga ketaatan kepada Allah SWT selama bertahun-tahun.
“Kiai Yahya bertahun- tahun menjaga Allah dan Allah menjaganya. Ini sebagai pengingat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu,” tegasnya.
Pengalaman lain terjadi ketika KH Nasihuddin bepergian bersama Kiai Yahya menggunakan mobil. Saat itu, mobil yang mereka tumpangi melaju kencang. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor hendak naik ke jalan beraspal dari sisi kiri dengan jarak yang sangat dekat. Pada saat bersamaan, ada mobil dari arah berlawanan.
Situasi itu membuat penumpang panik. Pilihannya, mobil terus melaju dan berisiko menabrak sepeda motor, berbelok ke kanan dan bersenggolan dengan mobil dari arah berlawanan, atau membanting setir ke kiri dengan risiko kehilangan keseimbangan.
Baca juga: 3 Ribu Orang Hadiri Peringatan Haul KH Yahya Syabrowi di Gondanglegi
Di tengah kepanikan tersebut, Kiai Yahya tetap tenang. Ketika para penumpang memejamkan mata karena takut, sepeda motor dan mobil dari arah berlawanan itu tiba-tiba tidak terlihat lagi. Pengalaman tersebut terus dikenang KH Nasihuddin hingga sekarang.
Ziarah Keluarga sebagai Warisan Keteladanan
Kenangan lain yang membekas bagi KH Nasihuddin adalah kebiasaan Kiai Yahya mengajaknya berziarah ke makam keluarga dan mengunjungi kerabat, salah satunya di Madura.
Saat masih kecil, KH Nasihuddin kerap diajak dalam perjalanan tersebut. Ketika dewasa, ia baru memahami bahwa kebiasaan itu merupakan bagian dari keteladanan sang kakek agar anak cucunya tetap mengingat keluarga dan para pendahulu.
“Teringat di benak saya, sering diajak Kiai Yahya mengunjungi kerabat di Madura. Walaupun beliau tidak punya mobil dan kondisi perjalanan ke Madura dulu ditempuh satu hari, berangkat pagi, salat Zuhur dijamak taqdim di Pandaan, kemudian di Pelabuhan Kamal jamak taqdim Maghrib dan Isya, baru ke Madura. Perjalanan seperti itu, rutin dilakukan kadang setahun dua kali,” bebernya.
Baca juga: Ribuan Santri Alumni Raudlatul Ulum 1 Ikuti Ziarah Akbar KH Yahya Syabrowi
“Belakangan saya baru mengerti, mengapa Kiai Yahya mengajak putra-putrinya ziarah ke keluarga, ke orang-orang saleh. Saya baru tahu, baru sadar bahwa siapa kamu itu adalah siapa yang kamu kunjungi, kamu temui, dan kamu datangi. Jadi ketika saat itu belum saleh, sedikit demi sedikit akan menjadi baik,” ujar KH Nasihuddin.
Meski KH Yahya Sabrawi telah berpulang pada 1987, keteladanannya dalam mengamalkan ilmu dan melestarikan pengajian kitab terus dikenang. Bagi para santri dan keluarganya, sosok Kiai Yahya menjadi teladan dalam menjaga keistiqamahan beribadah, menuntut ilmu, dan menghormati para pendahulu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






































