Jakarta, Tugumalang.id – Founder ParagonCorp memberikan dukungan pendanaan kepada Stanford University untuk penelitian kesehatan mental dalam konteks Islam dan umat Muslim. Dukungan tersebut disalurkan melalui Paragon-Wardah Research Fund di Stanford School of Medicine untuk mendukung penelitian Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab.
Laboratorium tersebut dipimpin Dr. Rania Awaad, MD, Clinical Professor of Psychiatry and Behavioral Sciences di Stanford University School of Medicine. Penelitiannya berfokus pada kebutuhan kesehatan mental komunitas Muslim, termasuk stigma yang menghambat seseorang mencari bantuan profesional serta hubungan antara kesehatan mental dan spiritualitas.
Deputy CEO and Chief of Research and Development ParagonCorp dr. Sari Chairunnisa menjelaskan, dukungan kepada laboratorium Dr. Awaad diharapkan dapat berkontribusi dalam mengembangkan pengetahuan agar umat Muslim di berbagai belahan dunia memperoleh layanan kesehatan mental yang selaras dengan keyakinan mereka.
‘‘Kami berharap umat Muslim, baik di Indonesia maupun di negara lain, mendapat layanan kesehatan mental yang juga selaras dengan keyakinan mereka,’’ ungkapnya, Senin (26/10/2026).
Penelitian Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam
Laboratorium tersebut berfokus pada penelitian kesehatan mental dan psikologi dalam konteks Islam dan komunitas Muslim. Risetnya mencakup kebutuhan pasien Muslim, stigma yang membuat sebagian orang ragu mencari bantuan profesional, serta hubungan antara kesehatan mental dan spiritualitas.
Baca juga: Tiga Peneliti ParagonCorp Raih 3 Penghargaan di SICS Summit 2026
Publikasi laboratorium ini juga membahas berbagai topik, mulai psikologi Islam, penanganan terkait tindakan mengakhiri hidup, penggunaan zat berbahaya, hingga kesehatan mental kelompok migran dan mahasiswa.
“Dukungan ini membantu kami mengembangkan pengetahuan yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan, pendidik, dan pemuka agama untuk memberikan layanan kepada komunitas Muslim dengan keahlian dan pemahaman yang mendalam.”
Dukungan tersebut relevan bagi Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang masih menghadapi tantangan dalam akses terhadap layanan kesehatan mental.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menemukan bahwa sekitar satu dari tiga penduduk Indonesia berusia 10–17 tahun, atau sekitar 15,5 juta anak dan remaja, mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun sebelumnya.
Namun, hanya 2,6 persen dari mereka yang mencari bantuan atau mengakses layanan konseling.
Baca juga: ParagonCorp Dampingi 6.000 Guru dan Dosen Adaptif di Era AI
Menurut Awaad, keyakinan agama dapat menjadi salah satu sumber kekuatan bagi pasien selama proses pemulihan. Namun, aspek tersebut belum selalu terakomodasi dalam layanan kesehatan mental yang mereka terima.
“Bagi banyak pasien kami, keyakinan agama menjadi sumber kekuatan selama proses pemulihan. Namun, aspek ini belum selalu menjadi bagian dari layanan kesehatan mental yang mereka terima,” ujar Awaad.
“Dukungan ini membantu kami melanjutkan penelitian dan pelatihan untuk mendukung komunitas yang masih menghadapi stigma, yang kerap membuat orang enggan mencari bantuan, termasuk di Indonesia,’’ imbuhnya.
Paragon-Wardah Research Fund merupakan dana yang dapat digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan dan kebutuhan laboratorium. Dana tersebut mendukung misi laboratorium secara keseluruhan di bawah arahan Awaad, sedangkan prioritas penelitiannya ditetapkan oleh laboratorium itu sendiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






































