Malang, Tugumalang.id – Tren modifikasi dan restorasi motor tua di kalangan anak muda menginspirasi Agung Sugianto merancang mesin sandblasting mobile otomatis untuk membersihkan karat dan cat lama.
Lulusan terbaik Program Studi Teknik Mesin D-3 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026 itu membuat prototipe mesin tersebut sebagai bagian dari Tugas Akhir.
Inovasinya dituangkan dalam laporan berjudul “Perencanaan Konstruksi Mesin Sandblasting Mobile Otomatis”. Mesin dikembangkan dengan sistem rotary table otomatis dan wiper pada kabin sandblasting untuk memudahkan proses pembersihan permukaan.
“Sekarang kan lagi ramai anak muda suka modifikasi, ingin hasil yang kilap dan rapi, termasuk restorasi motor tua. Nah, alat ini saya buat untuk memudahkan proses itu,” jelas Agung.
Menurut Agung, salah satu tantangan dalam perancangan adalah dirinya belum pernah melihat mesin sandblasting secara langsung. Karena itu, dia mempelajari prinsip kerja dan konstruksinya secara mandiri melalui berbagai referensi, termasuk YouTube.
Dia kemudian berdiskusi dengan teman-teman dan dosen pembimbing untuk mengembangkan rancangan tersebut.
Baca juga: Ayah Meninggal Sebulan Sebelum Seminar Skripsi, Yuniar Raih Lulusan Terbaik ITN Malang
Di bawah bimbingan Dr. Aladin Eko Purkuncoro, ST., MT., Agung merancang mesin sandblasting dengan panjang 160 sentimeter, lebar 100 sentimeter, dan tinggi 160 sentimeter. Konstruksi rangkanya menggunakan besi hollow berukuran 3 × 3 sentimeter.
Mesin bekerja dengan memanfaatkan proses abrasi. Media abrasif disemprotkan menggunakan tekanan udara sekitar 5–6 bar untuk membersihkan permukaan benda kerja.
Kemudahan pengoperasian menjadi salah satu fokus pengembangan mesin tersebut. Salah satu fitur yang ditambahkan adalah rotary table otomatis yang digerakkan menggunakan dinamo mesin cuci yang telah dimodifikasi.
Sistem itu dioperasikan melalui pedal kaki (footswitch). Dengan begitu, meja dapat berputar secara otomatis selama proses penyemprotan.
Adanya rotary table membuat benda kerja dapat diputar tanpa harus sering dibolak-balik secara manual. Proses penyemprotan pun dapat menjangkau permukaan benda kerja secara lebih merata.
Selain rotary table, mesin dilengkapi wiper pada kaca kabin. Fitur tersebut berfungsi membersihkan permukaan kaca dari debu atau sisa media abrasif selama proses sandblasting. Dengan begitu, pandangan operator terhadap benda kerja tetap terjaga.
Mesin tersebut juga menggunakan konsep kabin ganda untuk memberikan ruang kerja yang lebih luas. Konsep ini memungkinkan mesin digunakan untuk menangani berbagai komponen kendaraan, mulai dari komponen mesin sepeda motor sampai komponen mobil.
“Tantangannya memang pada proses pembuatan prototipe. Bagi kami mahasiswa teknik, yang penting fungsi sistemnya bisa berjalan dengan baik. Soal estetika prototipe bisa menyesuaikan,” tutur Agung.
Dari sisi konstruksi, perancangan mesin dilengkapi perhitungan teknis terhadap rangka dan sambungan pengelasan. Hasil perhitungan menunjukkan tegangan pada konstruksi dan sambungan las masih berada dalam batas yang diperbolehkan.
Konstruksi yang dirancang dinilai memenuhi aspek kekuatan berdasarkan perhitungan yang dilakukan.
Baca juga: Hamsah, Anak Buruh Sawit di Sabah Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang
Perjalanan Agung hingga meraih predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,79 terbilang tidak biasa. Putra sulung dari dua bersaudara pasangan Jumadi dan Sumiati asal Kabupaten Nganjuk itu sempat menjalani masa jeda pendidikan selama tiga tahun setelah lulus SMK.
“Pikiran saya pas lulus SMK itu langsung ingin kerja, apalagi waktu itu masa Covid-19. Ibu bilang kuliah dulu, tapi saya ‘ngeyel’ ingin kerja,” cerita alumnus Teknik Mesin SMKN 12 Malang tersebut.
Setelah tiga tahun mencoba mencari pekerjaan yang sesuai, Agung akhirnya memutuskan kembali melanjutkan pendidikan. Dia memilih Program Studi Teknik Mesin D-3 ITN Malang karena bidang tersebut sesuai dengan latar belakang pendidikannya serta lingkungan keluarganya yang dekat dengan dunia otomotif.
Menariknya, keputusan untuk kuliah tersebut awalnya dilakukan tanpa memberi tahu kedua orang tuanya.
“Mendaftarnya pun diam-diam, tidak bilang ke orang tua. Langsung daftar saja,” tambahnya.
Selama menempuh pendidikan di ITN Malang, Agung tidak hanya berfokus pada akademik. Dia aktif dalam kegiatan organisasi di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) serta terlibat dalam kegiatan dan project yang berkaitan dengan dosen dan pengabdian kepada masyarakat (Abdimas).
Kabar dirinya meraih predikat lulusan terbaik menjadi momen membahagiakan bagi kedua orang tuanya. Terlebih, prestasi tersebut merupakan pencapaian akademik pertama yang diraih Agung.
“Reaksi orang tua tidak menyangka dan juga terharu. Di sekolah dulu tidak pernah mendapatkan prestasi. Jadi, orang tua langsung mengabari kerabat dan mereka juga ikut senang mendengarnya,” kenang Agung.
“Menjadi lulusan terbaik ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, terutama ibu. Saya menganggap pencapaian ini sebagai kado untuk beliau, sebagai bentuk terima kasih karena selama ini selalu mendoakan dan mendukung saya. Semoga ini bisa menjadi salah satu hal yang membuat ibu bangga,” ungkap Agung menahan haru.
Ke depan, Agung berencana langsung memasuki dunia kerja. Namun, dia tetap membuka peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 apabila ada kesempatan.
“Orang tua cuma pesan, kuliah yang niat, supaya apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud,” pungkas Agung optimistis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
redaktur: jatmiko































