Malang, Tugumalang.id – Hamsah, putra buruh sawit di Sabah, Malaysia, menjadi Wisudawan Terbaik Teknik Listrik D-III ITN Malang dengan IPK 3,65 setelah merancang PLTS hibrid untuk kebutuhan listrik.
Remaja kelahiran Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu menjadi satu-satunya dari empat bersaudara yang berkesempatan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia sejak usia empat tahun ikut orang tuanya merantau ke Sabah, Malaysia.
Hamsah merupakan putra Hasan, buruh sawit, dan Nurmiati, ibu rumah tangga. Ia menamatkan pendidikan di SMK Brantas Karangkates melalui beasiswa Yayasan BJ Habibie.
“Di keluarga, yang sekolah sampai tinggi cuma saya. Kakak-kakak tidak lanjut karena sekolah di sana sangat jauh. Saya bersyukur bisa dapat beasiswa ke Malang,” ujar Hamsah mengenang perjalanan studinya.
Di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Hamsah meraih IPK 3,65. Ia dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Teknik Listrik D-III pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026.
Tugas akhirnya menjadi bagian penting dari perjalanan studinya. Hamsah mengangkat judul “Rancang Bangun PLTS untuk Aplikasi Hybrid sebagai Media Praktek Laboratorium” di bawah bimbingan Ir. Eko Nurcahyo, MT., dan Bima Romadhon Parada Dian Palevi, ST., MT.
Baca juga: Mahasiswa ITN Malang Diterima Kerja di Anak Perusahaan Pertamina Sebelum Wisuda
Gagasan tersebut berangkat dari kondisi tempat tinggal orang tuanya di pelosok perkebunan kelapa sawit Sabah Malaysia. Wilayah itu belum tersentuh listrik negara. Warga pun bergantung pada genset yang hanya menyala terbatas dari pukul 18.00 hingga 22.00.
Hamsah kemudian merancang prototype Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid berkapasitas 200 Wp. Sistem tersebut menggunakan dua panel polikristalin 100 Wp, Solar Charge Controller (SCC) MPPT 30A, inverter hibrid 24V 600W, serta baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4) 24V 60Ah sebagai penyimpanan energi.
Sistem hibrid itu bekerja otomatis memindahkan pasokan listrik ke PLN ketika batas aman baterai tercapai. Sebaliknya, pasokan berpindah kembali ketika PLN padam.
Dalam pengujian laboratorium, alat tersebut mampu menyuplai berbagai beban rumah tangga hingga 200 Watt. Di antaranya lampu LED, kipas angin, dan speaker.
Baca juga: ITN Malang dan IAI Jatim Jalin Kerja Sama untuk Perkuat Pendidikan Arsitektur
Proses pengembangannya tidak selalu mulus. Trial and error membuat baterai rusak hingga empat kali. Pengembangan alat itu juga menelan biaya kelompok sebesar Rp9 juta. Meski demikian, sistem akhirnya dapat beroperasi dengan stabil.
“Saya tidak menyangka bisa jadi wisudawan terbaik. Saya hanya berusaha aktif dan fokus kuliah karena orang tua sudah berjuang keras bekerja di Malaysia,” tutur lulusan yang ikut diwisuda pada 19 September 2026 ini.
Selama kuliah, Hamsah aktif di UKM Voli dan Himpunan Mahasiswa Teknik Listrik D-3. Setelah wisuda, ia berencana mencari pengalaman kerja di Indonesia.
Ia juga ingin mengaplikasikan keahliannya untuk membangun PLTS mandiri skala rumah tangga di Polewali Mandar ketika keluarganya kembali ke Indonesia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
editor: jatmiko






























