Oleh: Soejatmiko*
Saya baru saja menaikkan berita wartawan yang bertugas di Kota Batu pada Senin, 7 September 2026. Liputannya terkait peringatan meninggalnya Munir Said Thalib di TPU Sisir, Kota Batu. Tepatnya pada 7 September 2004.
Ratusan aktivis muda dari berbagai elemen hadir di pemakaman itu. Mulai orasi, pembacaan autobiografi perjalanan hidup Munir, hingga aksi menyalakan lilin. Kegiatan itu turut dihadiri kakak kandung Munir yang membagikan kenangan masa hidup almarhum di mata keluarga.
Kegiatan ini setiap tahun selalu diperingati. Dan sejak bertugas sebagai redaktur di Tugumalang.id, saya sering mengedit berita peringatan ini setiap tahun. Bahkan ketika Pemkot Batu akan mendirikan Museum Munir, yang akhirnya batal, saya juga mewanti-wanti wartawan saya yang bertugas di Batu untuk terus memantaunya.
Lepas dari ada apa di balik batalnya museum itu, apakah politik, saya memang tidak tahu-menahu. Meskipun saya mencoba memahami di balik itu.
Kenapa saya begitu konsern terhadap Munir, bukan karena saya sahabat Munir. Kalau dianggap sahabat, saya tidak pernah setiap hari bertemu dengan Munir di masa lalu. Teman kuliah bukan. Apalagi teman main sebagai tetangga di Kota Batu.
Baca juga: Kasus Munir 22 Tahun Tak Tuntas, Aktivis Gelar Ziarah di Kota Batu
Perkenalan saya dengan Munir, secara kebetulan. Sejak tahun 1996 saya bertugas sebagai wartawan Jawa Pos perwakilan Jakarta. Saya diposkan di Hukum, Komnas HAM, dan kriminal. Sebagai wartawan daerah yang ditugaskan di Jakarta, maka pusat kumpul teman-teman sebagai wartawan daerah yang pos Hukum dan HAM di kantor YLBHI waktu itu. Jalan Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat.
Waktu itu KontraS belum berdiri. Sebulan saya mulai bertugas terjadi peristiwa Kudatuli, tepatnya 27 Juli 1996. Karena kantor PDI (waktu itu) tidak jauh dari kantor YLBHI, maka tempat paling nyaman berkumpul wartawan yang ngepos di Hukum dan HAM di YLBHI. Sambil jalan kaki langsung liputan.
Setelah Kudatuli selesai, maka saya lebih intens di YLBHI. Alih-alih tempat istirahat, setelah liputan keliling Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Karena di Jakarta Selatan ada Kejaksaan Agung, dan ini juga pos saya. Lalu di Jalan Medan Merdeka Utara ada Mahkamah Agung, juga tempat liputan saya. Ibaratnya YLBHI sebagai kantor kedua setelah kantor perwakilan Jawa Pos yang waktu itu berkantor di Jalan Prapanca Raya, saya lupa nomornya. Seingat saya tidak jauh dari Mabes Polri.
Daripada ke kantor terlalu siang, biasanya teman-teman wartawan Hukum dan HAM bertemu di YLBHI. Sambil tukar informasi. Karena waktu itu belum ada yang namanya handphone. Yang ada hanya pager.
Apalagi di YLBHI setelah peristiwa Kudatuli itu ada saja laporan masuk ke YLBHI. Soal orang hilang, soal keluarganya belum kembali. Setelah peristiwa Kudatuli, tak heran kantor YLBHI sering penuh sesak. Kadang sore hari ada jumpa pers. Lalu, tidak jarang yang menyampaikan rilis Munir. Saya lupa ada beberapa orang yang menyampaikan rilis, tapi yang selalu saya ingat, Munir. Waktu itu Ketua Dewan Pengurus Bambang Wijoyanto.
Dari situlah interaksi saya dengan Munir mulai sering terjadi. Karena sama-sama dari Jawa Timur, Munir juga tahu kalau saya dari Jawa Pos, maka interaksi sebagai arek lebih enak. Kadang saya memanggil langsung namanya, tapi kadang juga sambil lalu panggil Cak Munir.
Seringnya Munir ngurusi orang hilang, akhirnya saya diminta redaktur di Surabaya untuk wawancara dengan Munir secara khusus.
Akhirnya wawancara terjadi. Wawancara itu berlangsung hampir seminggu dengan mengambil waktu longgar Munir. Begitu selesai, ternyata hasil wawancara itu di Jawa Pos menjadi dua halaman penuh. Saya juga kaget. Berapa lama saya mengetik waktu itu. Tentu saja waktu itu saya dibantu dengan tape recorder.
Setelah wawancara panjang itu, saya akhirnya sering ngobrol bersama teman-teman wartawan lain secara bersama-sama dengan Munir. Tapi situasi di YLBHI waktu itu memang tidak kondusif. Tidak jarang ada orang baru muncul langsung dicurigai sebagai intel. Meskipun akhirnya diketahui sebagai wartawan stringer dari media asing. Tapi tetap saja orang tak dikenali muncul bergantian. Karena YLBHI terbuka untuk siapa saja.
Bagaimana tidak dicurigai, awalnya saya ngobrol dengan Munir itu dengan beberapa wartawan Hukum dan HAM yang biasa nyangkruk di YLBHI. Satu sama lain tahu identitasnya. Ada Kompas, waktu itu Oky, lalu anak radio, lalu ada Widhi Media Indonesia, ada almarhum Aak Sudirman dari Sinar Harapan lalu ganti nama Suara Pembaruan, ada Suara Merdeka Semarang, Bali Pos, Harian Nusra. Kami saling kenal.
Nah, ngobrol dengan Munir itu tidak di ruangan khusus, tapi di tempat biasa sebagai ruang jumpa pers YLBHI. Awalnya cuma lima orang, lalu jadi sepuluh, lalu belasan. Nah, di antara itu, ada juga ikut nimbrung anak-anak LSM yang memang sudah kami kenal. Tapi ada juga tiba-tiba tidak dikenal. Akhirnya kami saling lirik, menghentikan obrolan. Dan menariknya, Munir cuek saja.
Karena seringnya obrolan terkait masalah orang hilang itu dan persoalan politik era Soeharto, akhirnya beberapa teman sepakat ngajak Munir untuk lesehan. Alasannya, tidak ingin orang lain, terutama intel, ikutan nguping. Waktunya pun ditentukan setelah deadline. Karena koran pagi, deadline jam 21.00. Sepakat bertemu di lesehan Melawai, di swalayan Gelael. Dulu ada swalayan namanya Gelael di kawasan Blok M, kabarnya sekarang sudah jadi hotel berbintang namanya Amoz Cozy Hotel.
Nah, di lesehan di trotoar itu ada ibu-ibu yang terkenal dengan teh poci-nya. Beralaskan tikar, ada meja kecil-kecil diletakkan. Duduk berhadap-hadapan. Yang duduk menghadap jalan raya bisa bersandar di tembok Swalayan Gelael.
Akhirnya hadirlah beberapa teman, di antaranya Ninil dan Shensen dari Forum Keadilan, ada Oky dari Kompas, ada Widhi dari Media Indonesia. Beberapa teman lainnya, saya lupa mengingatnya karena itu tahun 1997. Sekitar pukul 22.00, dengan sepeda motor Honda bebek, Munir membonceng istri, Suciwati, tiba di tempat kami. Mengenakan jaket hitam, rambut awut-awutan, kumis berantakan, seperti ciri khasnya sehari-hari.
Lalu langsung saja kami ngobrol soal orang hilang, soal macam-macam, yang semuanya memang off the record. Setelah ngobrol sana-sini, akhirnya saya nyeletuk.
‘‘Cak, sampeyan gak wedi ta diculik,’’ kata saya menyela.
Jawaban Munir enteng saja.
‘‘Lha opo wedi, aku yo duwe backing.’’
‘‘Sopo cak?’’ tanya saya lagi.
‘‘Gustiallah.’’
Tentu saja saya terdiam. Teman-teman lain juga terdiam.
Lalu Munir bilang.
‘‘Anda tahu nggak, sejak saya keluar dari rumah, saya sudah diikuti dua sepeda motor. Coba lihat di seberang sana itu. Itu dua motor orangnya berboncengan, itu intel semua,’’ ujarnya ringan.
Lalu Munir cerita bahwa dibuntuti seperti itu baginya tidak membuatnya panik atau khawatir. Itu sudah biasa.
Sebagai wartawan, Munir termasuk sumber berita news rich source, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah berita yang sudah jadi. Artinya, wartawan tidak perlu lagi mencari-cari angle apa yang menarik. Atau kalimat apa yang menarik. Itu tidak hanya saya, teman lain juga mengakui demikian.
Setiap kata-kata yang disampaikan Munir penuh artikulasi. Pengucapannya tegas dan punya penekanan. Dan itu berita. Ibaratnya setiap ucapan Munir, ada judul yang menarik untuk jadi berita.(*)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis Redaktur Tugumalang.id































