Kota Batu, Tugumalang.id – Ratusan aktivis muda berziarah ke makam pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib di TPU Sisir, Kota Batu, Senin (7/9/2026). Mereka menolak lupa atas kasus kematian Munir yang belum tuntas setelah 22 tahun.
Menjelang petang, ratusan anak muda, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat datang ke makam Munir. Mereka mengenakan pakaian serba hitam serta membawa bunga, poster, dan bendera.
Sederet kegiatan digelar. Mulai orasi, pembacaan autobiografi perjalanan hidup Cak Munir, hingga aksi menyalakan lilin. Kegiatan itu turut dihadiri kakak kandung Munir yang membagikan kenangan masa hidup almarhum di mata keluarga.
Baca juga: Mengenang Jasa Munir Said Thalib, Pahlawan HAM asal Kota Batu
Koordinator ARBB Eko menegaskan, ziarah tersebut merupakan bagian dari rangkaian aksi, diskusi, dan refleksi September Hitam yang diusung gabungan organisasi masyarakat sipil serta mahasiswa se-Malang Raya.
“Ziarah ke Makam Cak Munir ini adalah bentuk simbolik protes kepada negara yang sampai sekarang tidak memberikan atensi berarti pada pengusutan kasus pembunuhannya,” jelasnya.
Desak Kasus Munir Dibuka Kembali
Meski secara hukum penanganan kasus telah melewati batas kadaluarsa 18 tahun, Eko menegaskan publik tidak akan tinggal diam. Pihaknya mendesak lembaga ad-hoc Komnas HAM terus bergerak agar kasus tersebut dibuka kembali demi menjerat aktor intelektual di balik pembunuhan Munir.
Selain itu, ARBB menyoroti kejanggalan hilangnya dokumen hasil penyelidikan Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir di Kementerian Sekretariat Negara (Kasetneg).
“Apakah ini kelalaian yang disengaja atau memang negara sebesar ini telah lalai memberikan yang terbaik bagi anak bangsanya? Ini bentuk kekecewaan kami,” tegasnya.
Aksi ziarah tidak hanya berfokus pada sosok Munir. Momentum September Hitam juga dimanfaatkan untuk menyerukan penuntasan serangkaian pelanggaran HAM berat dan tragedi kemanusiaan lainnya di Indonesia.
Mereka menilai aksi tersebut menjadi simbol mosi tidak percaya terhadap negara yang terus melanggengkan watak kekerasan dan kejahatan kemanusiaan hingga kini di berbagai daerah.
Baca juga: Mengenang Munir, Pejuang HAM Asal Kota Batu yang Diracun 7 September 2004
Eko merinci, bulan September mencatat deretan sejarah kelam bangsa, mulai pembunuhan Salim Kancil, kematian Pendeta Yeremia, Tragedi Semanggi, peristiwa ’65, hingga tragedi Kanjuruhan yang terjadi di Malang Raya pada awal Oktober 2022.
“Melalui poster dan pesan di media sosial, kami menyuarakan seluruh kasus kekerasan dan pelanggaran HAM berat agar pelakunya segera ditangkap dan diadili. Kami ingin sosok Munir dan para pejuang keadilan tetap hadir dalam setiap perlawanan,” tambah Eko.
Aksi damai ini juga didukung berbagai elemen aktivis di Malang Raya, di antaranya Aliansi Mahasiswa Rasa Brawijaya, Aliansi BEM Malang Raya, Komite Kamisan Malang, serta berbagai kolektif dan organisasi kepemudaan setempat.
“Kami berharap api perlawanan dan cita-cita penegakan HAM yang diperjuangkan Munir dapat terus dirawat oleh generasi penerus,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






























