Malang, Tugumalang.id – Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Islam Malang (Unisma), Dr. Hayat, S.AP, M.Si adalah dosen yang lengkap untuk urusan literasi. Selain menerbitkan total 65 judul buku, dia juga mengelola penerbitan kampus yakni Unisma Press.
Sebagai kepala pertama di lembaga itu, Hayat juga dipercaya menjadi pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jawa Timur yang dilantik pada 4 Agustus 2026 lalu. Nah, di sela perjalanan pulang dari pelantikan itulah Hayat bercerita soal sepak terjangnya yang panjang di dunia perbukuan, khususnya buku akademik.
Bermula dari menulis dan mengelola jurnal, pria yang akrab disapa Hayat itu jatuh cinta terhadap buku dan sampai saat ini menjadi penulis buku yang produktif.
“Saya menulis buku pertama kali itu awalnya dari belajar, saya diamanahi untuk mengelola jurnal prodi (program studi) dan juga fakultas. Karena amanah itu, maka saya membaca artikel-artikel dari tulisan guru besar. Saya banyak membaca artikel dari dosen-dosen di luar kampus juga, sehingga dari jurnal itu muncul keinginan untuk menulis buku,” katanya memulai bercerita.
“Waktu itu, bagaimana memulainya saya tidak tahu, kemudian saya banyak belajar dari media, ikut workshop, ikut pendampingan, coaching, dan sebagainya,” imbuh Hayat.

Merintis dari Titik Nol: Ketekunan di Balik Pengelolaan Jurnal
Kisah Dr. Hayat di dunia literasi tidak instan. Sebelum dikenal sebagai penulis produktif dan pakar di bidangnya, ia mengawali langkah-langkah kecilnya dengan penuh kesabaran.
Salah satu babak penting dalam karier akademik di Unisma adalah keterlibatannya yang mendalam dalam pengelolaan jurnal.
Baca juga: 8 Dosen Unisma Borong Penghargaan di Anugerah LPTNU 2026
Bagi sebagian akademisi, mengelola jurnal sering dianggap sebagai beban administratif tambahan yang melelahkan. Namun bagi Hayat jurnal adalah pintu baginya untuk mendapatkan ide-ide segar, riset mutakhir, dan dialektika ilmiah ditempa.
Hingga ia mendapatkan hibah riset dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2015. Dari hibah inilah lahir buku pertamanya yang berjudul Manajemen Pelayanan Publik.
Berangkat dari penelitian multi years, Hayat menuangkan hasil pemikirannya dari riset tersebut ke dalam buku yang kemudian menjadi buku best seller dan menjadi buku pendamping perkuliahan di berbagai perguruan tinggi.
“Saya mendapatkan penelitian multi years tiga tahun tentang pelayanan publik. Ini menjadi cikal bakal buku saya, buku Manajemen Pelayanan Publik yang saat ini hampir dipakai perguruan tinggi negeri dan swasta. Jadi buku pendamping kuliah, buku kuliah pendamping manajemen publik,” terang bapak tiga anak tersebut.
Kepuasan menulis buku inilah yang bagi Hayat tidak dapat diukur dengan royalti yang diterimanya, baginya yang membuat senang sebagai seorang penulis adalah banyaknya pembaca. Selama tiga tahun, sejak 2015 hingga 2017, Hayat merancang buku pertamanya tersebut dari outline di tahun pertama hingga naik cetak di salah satu penerbit besar.
Pengalaman mengelola jurnal itulah yang menjadi modal berharga bagi Hayat tatkala memutuskan untuk melangkah ke level berikutnya, menulis buku sendiri.
Produktif Menulis Buku: Menembus Batas Ruang Kuliah

Menulis buku bagi Hayat bukan sekadar cara untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat atau jabatan fungsional dosen. Lebih dari itu, menulis adalah bentuk tanggung jawab moral seorang intelektual untuk membagikan ilmu seluas-luasnya kepada masyarakat, melampaui dinding-dinding kelas yang terbatas.
Dengan disiplin waktu yang ketat, ia berhasil menelurkan puluhan karya tulis, baik berupa buku teks perkuliahan, referensi ilmiah, maupun karya populer yang membahas dinamika sosial, kebijakan publik, dan tata kelola pemerintahan.
Konsistensinya patut diacungi jempol. Di tengah kesibukannya mengajar, membimbing mahasiswa, dan mengurus berbagai urusan kampus. Ia selalu menyempat diri untuk menulis setiap hari, meski hanya beberapa paragraf.
“Setahun saya pernah nulis delapan buku dan cetak semua di tahun 2019, karena semangat-semangatnya nulis buku. Ternyata menulis buku menyenangkan dan menginspirasi banyak orang,” ujar Hayat.
Secara pribadi, ia juga memiliki target tersendiri dalam menulis buku, baik buku yang ditulisnya mandiri maupun secara partner dengan penulis lain. Bagi alumni program Doktor S3 Administrasi Publik Universitas Brawijaya (UB) itu, menulis buku adalah aktivitasnya yang menyenangkan. Hingga saat ini total sudah ada 65 buku yang lahir dari pemikirannya.
“Tiga sampai enam bulan cukup (menulis buku), buku-buku book chapter bisa dua bulan selesai. Jadi sampai sekarang menulis buku mengasyikan dan ternyata menulis buku itu mudah kalau sudah tahu cara dan konsepnya. Ternyata menulis buku menyenangkan dan menginspirasi banyak orang,” paparnya.
Baca juga: Dosen Unisma Elisatin Ernawati Resmi Sandang Gelar Doktor setelah Teliti Konstruksi Hukum Holding Company BUMN
Buku-buku karyanya kini telah tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, menjadi bacaan wajib mahasiswa, serta rujukan penting bagi para praktisi birokrasi dan pemerintahan.
Royalti Pertama yang Mengharukan: Berkah Literasi untuk Aqiqah Anak
Di balik kesuksesan dan produktivitasnya hari ini, tersimpan sebuah kisah haru yang menjadi titik emosional dalam perjalanan kepenulisannya.
Setiap penulis besar pasti memiliki cerita tentang royalti pertama mereka, begitu pula dengan Dr. Hayat.
Jauh sebelum menikmati kemapanan finansial dari karya-karyanya seperti sekarang, royalti dari buku pertamanya datang dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Namun, bagi seorang dosen muda saat itu, nominal tersebut sangat berarti.
“Royalti pertama saya buat beli kambing untuk aqiqah anak. Tapi sekadar dari itu yang lebih penting bagaimana pengetahuan lebih berguna dan bermanfaat ketika dituliskan menjadi buku yang abadi dan terus ada pembacanya,” kata Hayat.
Kisah ini tidak hanya menunjukkan perjuangan hidup seorang akademisi di masa lalu, tetapi juga membawa pesan yang mendalam bahwa ilmu yang bermanfaatkan, yang dituangkan dalam bentuk tulisan dapat mendatangkan berkah nyata yang menghidupi keluarga dan bernilai ibadah. Momen tersebut semakin memantapkan niatnya untuk terus menulis tanpa henti.
Inspirasi bagi Generasi Muda dan Rekan Sejawat
Apa yang telah dicapainya saat ini, Hayat berharap dapat memberikan teladan berharga bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Di era digital saat ini, di mana minat baca dan budaya literasi sering dikeluhkan mengalami penurunan, sosok seperti Dr. Hayat hadir sebagai mercusuar.
Ia membuktikan bahwa menjadi dosen yang produktif menulis bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya terletak pada manajemen waktu, niat yang tulus untuk berbagi, serta kebiasaan merawat disiplin harian.
Dari ruang-ruang jurnal ilmiah hingga deretan buku ber-ISBN yang tersusun rapi di rak perpustakaan, jejak langkahnya menginspirasi ribuan mahasiswa dan dosen muda di Unisma maupun di perguruan tinggi lainnya.
“Teman-teman dosen muda banyak peluang, banyak potensi, dan masih banyak waktu cobalah menulis buku satu saja. Selama menjadi dosen menulis buku karena warisan seorang dosen yang paling berharga adalah buku yang diwariskan pada generasi berikutnya, minimal mahasiswa, institusi, minimal ada di perpustakaan kampus, dan juga dibaca oleh kolega,” ujar Hayat.
Saat ini, Hayat juga bergiat aktif di organisasi penerbitan buku dan juga didaulat sebagai Direktur Unisma Press untuk periode jabatan tahun 2024-2028.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























