Malang, Tugumalang.id – Niatnya hanya mengecek media sosial beberapa menit. Tanpa terasa, waktu berlalu karena jempol terus menggulir layar.
Apalagi, yang muncul bukan hanya informasi biasa. Ada kabar duka, konflik, perdebatan, isu viral, hingga unggahan yang membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Kebiasaan terus mengonsumsi konten semacam itu dikenal sebagai doomscrolling.
Menurut American Psychological Association (APA), doomscrolling merupakan kebiasaan terus menggulir media sosial untuk membaca informasi atau berita bernada negatif. Aktivitas itu tetap dilakukan meski konten yang dilihat menimbulkan perasaan tidak nyaman atau menyedihkan.
Istilah doomscrolling mulai banyak dikenal sejak pandemi COVID-19. Kini, istilah tersebut digunakan lebih luas untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berulang.
Sejumlah ahli menyebut paparan terus-menerus terhadap konten yang memicu emosi negatif dapat berdampak pada kondisi psikologis. Jika berlebihan dan berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.
Baca juga: Waktunya Digital Detox! Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental di Era Sosial Media
Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Rasa ingin tahu menjadi salah satu pemicunya. Ketika sebuah isu ramai diperbincangkan, pengguna media sosial terdorong mencari perkembangan terbaru agar tidak merasa ketinggalan informasi atau mengalami fear of missing out (FOMO).
Fitur infinite scroll ikut membuat pengguna bertahan lebih lama. Konten baru terus muncul setiap kali layar digulir. Berdasarkan aktivitas sebelumnya, pengguna juga semakin banyak mendapatkan konten serupa.
Akibatnya, waktu yang dihabiskan di media sosial bisa jauh lebih lama daripada yang direncanakan.
Ada pula kecenderungan otak manusia memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi yang dianggap penting atau berpotensi mengancam. Para ahli mengenalnya sebagai negativity bias. Konten yang menimbulkan kekhawatiran, kemarahan, atau kesedihan pun lebih mudah menyita perhatian dibandingkan informasi netral atau positif.
Doomscrolling Bisa Mengganggu Aktivitas
Dampaknya bukan sebatas waktu yang habis untuk menatap layar. Sejumlah penelitian menunjukkan doomscrolling dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis, terutama ketika seseorang terus mengonsumsi konten yang memicu emosi negatif.
Paparan semacam itu dapat menimbulkan kelelahan emosional. Konsentrasi saat belajar maupun bekerja juga bisa terganggu dan produktivitas menurun.
Kebiasaan scrolling hingga larut malam turut berpengaruh terhadap kualitas tidur. Otak terus menerima berbagai informasi ketika seharusnya mulai beristirahat.
Semakin banyak waktu dihabiskan di depan layar, kesempatan melakukan aktivitas lain juga berkurang. Waktu untuk berolahraga, membaca buku, menyelesaikan pekerjaan, atau berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman bisa tersisih.
Namun, mengurangi doomscrolling bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Penggunaannya dapat diatur agar kebutuhan mendapatkan informasi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Lima Cara Mengurangi Doomscrolling
1. Tentukan tujuan sebelum membuka media sosial
Ketahui terlebih dahulu apa yang ingin dicari atau dilakukan. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan.
2. Batasi waktu menggunakan gawai
Fitur screen time atau pengingat waktu pada ponsel dapat dimanfaatkan untuk mengontrol durasi penggunaan media sosial.
3. Selektif memilih akun dan sumber informasi
Ikuti akun dan sumber informasi yang kredibel serta memberikan informasi bermanfaat. Langkah ini dapat mengurangi paparan berlebihan terhadap konten yang memicu emosi negatif.
4. Jangan membuka media sosial menjelang tidur
Mengurangi waktu menatap layar pada malam hari dapat membantu menekan kebiasaan doomscrolling sekaligus menjaga kualitas tidur.
5. Cari kegiatan di luar layar
Waktu luang bisa dialihkan untuk berjalan kaki, membaca buku, berolahraga ringan, atau berbincang dengan orang terdekat.
Informasi kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Masalah muncul ketika kebutuhan mendapatkan informasi berubah menjadi kebiasaan scrolling yang sulit dihentikan.
Mengatur waktu penggunaan gawai dan lebih selektif memilih konten dapat membantu menjaga penggunaan media sosial agar tidak mengganggu produktivitas maupun kesejahteraan emosional.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maura Sampetoding/Magang
editor: jatmiko


























