Tugumalang.id – Citra kawasan wisata Alun-alun Kota Batu, Jawa Timur kembali tercoreng praktik pungutan liar (pungli) para oknum juru parkir (jukir) problematik. Belum selesai masalah soal praktik getok parkir, terbaru ada jukir yang memberikan karcis bekas terhadap pengunjung.
Dalam hal ini, artinya dari sisi kesadaran pengunjung untuk meminta karcis parkir sudah meningkat. Namun, jukir problematik masih menemukan celah untuk berbuat curang dengan memanfaatkan karcis bekas. Artinya, permasalahan parkir memang berasal dari jukir itu sendiri.
Permasalahan berulang ini memicu kritik terhadap tata kelola pariwisata. Tourismologist Universitas Brawijaya, A Faidlal Rahman, menilai sederet kasus parkir bermasalah yang terus berulang di sejumlah titik menunjukkan perlunya pembenahan sistem pengawasan dan pelayanan.
Baca Juga: Belum Tuntas Getok Parkir, Oknum Jukir Alun-alun Kota Batu Diduga Beri Karcis Bekas
Menurutnya, permasalahan uang seribu dua ribu ini juga bisa memicu dampak yang lebih mahal. Yakni faktor trust atau kepercayaan wisatawan yang selama ini menjadi modal utama kota wisata tersebut. Tak hanya karcis bekas, aksi getok parkir dengan harga Rp5 ribu bahkan hingga Rp50 ribu masih terus bermunculan.
”Artinya, persoalan parkir di Kota Batu ini sudah bukan lagi sekadar tindakan oknum. Ini harus jadi perhatian serius dari pemerintah,” ujar Faidlal, Selasa (14/7/2026).
Faid memaparkan pelayanan parkir merupakan bagian dari basic tourism services pelayanan dasar dalam industri pariwisata. Pengalaman wisatawan tak dimulai ketika memasuki objek wisata, tapi sejak mereka pertama kali tiba di sebuah daerah.
“Ketika wisatawan memperoleh pengalaman yang kurang baik, seperti tarif parkir yang tidak jelas, maka kesan negatif tersebut akan terbawa hingga akhir perjalanan,” jelasnya.
Baca Juga: 7 Jukir Kota Batu Ditindak, Ketahuan Mabuk dan Palak Wisatawan
Faid mengingatkan, pengalaman kecil justru sering meninggalkan kesan paling kuat dibanding atraksi wisata yang dinikmati. ”Bahkan, pengalaman kecil seperti persoalan parkir sering kali lebih mudah diingat dibandingkan atraksi wisata yang dinikmati,” katanya.
Lebih mengkhawatirkan lagi, imbuh dia, dampak persoalan parkir juga akan berlanjut pada narasi suatu kota di media sosial. Di era media sosial hari ini, pengalaman buruk wisatawan dapat dengan cepat menyebar melalui unggahan digital dan membentuk persepsi negatif yang jauh lebih luas.
“Lama-lama, wisatawan sudah tidak lagi melihat kasus tersebut sebagai kesalahan individu jukir, tetapi mulai mengaitkannya dengan kualitas pelayanan dan pengawasan pengelolaan destinasi pariwisata secara keseluruhan oleh pemangku kebijakan,” ungkapnya.
Dalam teori perilaku wisatawan, lanjut Faid, tingkat kepuasan berpengaruh langsung terhadap keputusan seseorang untuk kembali berkunjung. Pengalaman negatif juga dapat berkembang menjadi electronic word of mouth (e-WOM) yang memengaruhi calon wisatawan lain.
“Intinya, persoalan getok parkir di Kota Batu bukan sekadar persoalan nominal uang, tapi menyangkut kepercayaan terhadap destinasi. Kota Batu telah berhasil membangun reputasinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di Indonesia selama bertahun-tahun,” tegasnya.
Faid mendorong Pemkot Batu tidak hanya bergerak ketika sebuah kasus menjadi viral. Penegakan aturan, pengawasan juru parkir, serta kepastian tarif harus dilakukan secara konsisten agar wisatawan merasa aman dan nyaman.Acara Liburan & Musiman
“Persoalan-persoalan yang dapat mengurangi rasa aman, nyaman, dan kepastian pelayanan bagi wisatawan perlu segera ditangani secara serius oleh pemerintah agar tidak menggerus kepercayaan publik. Ingat, pariwisata itu adalah bisnis kepercayaan,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A
























