Malang, Tugumalang.id – Bagi banyak orang, secangkir kopi menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, tidak semua penikmat kopi ingin mengonsumsi kafein dalam jumlah tinggi. Kondisi itu membuat decaf coffee atau kopi berkafein rendah semakin diminati sebagai alternatif karena tetap menawarkan rasa kopi dengan kandungan kafein yang jauh lebih sedikit.
Meski kerap disebut kopi tanpa kafein, decaf coffee sebenarnya tidak sepenuhnya bebas kafein. Proses pembuatannya hanya menghilangkan sebagian besar kandungan kafein alami pada biji kopi, sehingga masih tersisa dalam jumlah kecil.
Kandungan Kafein Jauh Lebih Rendah
Decaf coffee dihasilkan melalui proses dekafeinasi (decaffeination) sebelum biji kopi dipanggang maupun diseduh. Menurut National Coffee Association, sekitar 97 persen kandungan kafein pada biji kopi dihilangkan selama proses tersebut.
Perbedaannya cukup signifikan dibanding kopi biasa. Secangkir kopi seduh umumnya mengandung sekitar 95 miligram kafein, sedangkan secangkir decaf coffee hanya memiliki sekitar 2 hingga 15 miligram. Jumlah itu dapat berbeda bergantung pada jenis biji kopi, metode dekafeinasi, serta cara penyeduhan.
Baca juga: 5 Rekomendasi Slow Bar Coffee di Malang
Kandungan kafein yang lebih rendah itulah yang membuat decaf coffee menjadi pilihan bagi mereka yang tetap ingin menikmati kopi sambil membatasi konsumsi kafein.
Baca juga:
Diproses Sebelum Biji Kopi Dipanggang
Proses dekafeinasi dilakukan ketika biji kopi masih berwarna hijau. Tujuannya memisahkan sebagian besar kafein tanpa menghilangkan karakter rasa yang dimiliki biji kopi.
Industri kopi menggunakan beberapa metode dekafeinasi, antara lain Swiss Water Process, metode karbon dioksida (CO2), serta metode pelarut yang memenuhi standar keamanan pangan. Setelah proses tersebut selesai, biji kopi dikeringkan, dipanggang, kemudian diolah sebagaimana kopi pada umumnya.
Badan pengawas pangan di berbagai negara, termasuk U.S. Food and Drug Administration (FDA), juga menetapkan standar keamanan terhadap proses dekafeinasi sehingga produk decaf coffee yang beredar tetap memenuhi standar untuk dikonsumsi.
Bukan Hanya Soal Kafein
Perbedaan paling mendasar antara kopi reguler dan decaf memang terletak pada kadar kafeinnya. Kopi biasa mempertahankan kandungan kafein alami, sedangkan decaf telah mengalami proses pengurangan kafein.
Meski demikian, keduanya tetap mengandung berbagai senyawa alami dari biji kopi, termasuk antioksidan. Sejumlah penelitian menunjukkan manfaat kopi tidak hanya berasal dari kafein, tetapi juga dari berbagai komponen alami lain yang masih terdapat pada kopi, termasuk decaf.
Dari sisi rasa, decaf coffee memiliki karakter yang sedikit berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis biji kopi, metode dekafeinasi, hingga proses pemanggangan yang digunakan produsen.
Baca juga: Gerai ke-43 The Gade Coffee and Gold Hadir di Kemenkomarves
Alternatif bagi yang Ingin Mengurangi Kafein
Decaf coffee banyak dipilih oleh orang yang ingin mengurangi konsumsi kafein tanpa harus meninggalkan kebiasaan minum kopi.
Mayo Clinic menjelaskan, sebagian orang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kafein sehingga dapat mengalami jantung berdebar, sulit tidur, atau merasa gelisah setelah mengonsumsi kopi berkafein.
Karena itu, beralih ke minuman dengan kandungan kafein lebih rendah, seperti decaf coffee, menjadi salah satu pilihan. Namun, decaf tetap mengandung sedikit kafein sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai kopi yang benar-benar bebas kafein.
Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, jumlah konsumsi kopi tetap sebaiknya disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan.
Tetap Menawarkan Aroma dan Rasa Kopi
Hadirnya decaf coffee memperluas pilihan bagi penikmat kopi. Minuman ini memungkinkan seseorang tetap menikmati aroma dan cita rasa kopi dengan kadar kafein yang lebih terukur.
Walaupun sebagian besar kafeinnya telah dihilangkan melalui proses dekafeinasi, decaf coffee tetap berasal dari biji kopi yang sama dan masih mengandung berbagai komponen alami khas kopi. Karena itu, pilihan antara kopi reguler maupun decaf pada akhirnya bergantung pada kebutuhan serta preferensi masing-masing individu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maura Sampetoding/ Magang
editor: jatmiko






















