Tugumalang.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat penambahan 47 kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) hingga Juli tahun 2026 ini. Dari sekian penderita, kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) atau homoseksual teridentifikasi turut andil dalam penambahan angka kasus baru HIV di Kota Batu.
Berdasarkan data dari Dinkes Kota Batu, kelompok LSL secara spesifik menyumbangkan 4 kasus baru secara langsung. Angka ini belum termasuk irisan kelompok populasi lain, seperti kategori LSL yang masuk dalam populasi umum sebanyak 1 kasus, serta kelompok populasi umum yang mendominasi dengan 26 kasus.
Baca Juga: Antisipasi Penyebaran HIV/AIDS, Lapas Malang Gandeng Dinkes Kota Malang Gencarkan VCT
Selain itu, juga tercatat ada kelompok lain yang menyumbang yakni pasien penyakit TB sebanyak 7 kasus, pasangan risiko tinggi (risti) 2 kasus, pelanggan penjaja seks 2 kasus, wanita penjaja seks (WPS) 1 kasus, ibu hamil 1 kasus dan calon pengantin 1 kasus.
Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja melalui Pengelola Program TB dan HIV Dinkes Kota Batu Yoni Hadi Purnomo mengatakan persebaran kasus HIV di Kota Batu tahun ini mengalami pergeseran. Saat ini, kelompok LGBT hingga para pekerja seks tersebar secara acak di berbagai ruang publik.
“Data kami paling banyak masuk dalam populasi umum. Ini karena saat ini, para pekerja seks tidak lagi terlokalisir di satu tempat. Mereka pakai sistem online. Kelompok LGBT juga tersebar. sehingga saat skrining ketemunya banyak dari kegiatan-kegiatan rutin,” terang Yoni, Kamis (9/7/2026).
Yoni menerangkan pelacakan terhadap kelompok populasi kunci maupun kelompok berisiko lainnya memang menghadapi tantangan tersendiri saat ini.
Baca Juga: Penderita HIV di Kabupaten Malang Naik 3,8 Persen di Tahun 2025
Ini karena tidak mudah bagi seseorang mengakui perilaku seksual mereka secara terbuka akibat kendala psikologis dan sosial.
Faktor tersebut menyebabkan banyak temuan kasus yang pada akhirnya dimasukkan ke dalam kategori populasi umum karena status populasi kuncinya belum tergali lebih mendalam.
Lebih lanjut, secara akumulatif sejak tahun 2017, total kasus ODHIV yang pernah ditemukan di Kota Batu telah menyentuh angka 691 kasus.
Dari keseluruhan total tersebut, sebanyak 329 pasien saat ini aktif dalam masa pengobatan, 335 pasien tercatat gagal melakukan tindak lanjut (gagal follow up), dan 27 pasien dilaporkan meninggal dunia.
Jika melihat sebaran fasilitas kesehatan penemu 47 kasus baru di tahun 2026, RSUD Karsa Husada Kota Batu jadi yang tertinggi dengan temuan 22 kasus.
Disusul RS Bhayangkara Hasta Brata sebanyak 7 kasus, RS Baptis Batu 6 kasus, Puskesmas Bumiaji 5 kasus, Puskesmas Batu 3 kasus, Puskesmas Junrejo 2 kasus, serta Puskesmas Sisir dan RS dr. Etty Asharto masing-masing mencatatkan 1 kasus baru.
Terkait dinamika tersebut, Dinkes Kota Batu tidak lagi menerapkan strategi skrining massal seremonial dalam skala besar. Fokus utama kini dialihkan pada penguatan edukasi preventif menyasar kelompok remaja dan usia sekolah.
Petugas kesehatan juga mulai proaktif melakukan jemput bola untuk melakukan skrining di sektor-sektor potensial, seperti kawasan pekerja, perkantoran, perhotelan, hingga tempat wisata yang dinilai memiliki risiko kemunculan kasus ODHIV baru.
Kendati begitu, pendekatan penanganan HIV di Kota Batu tetap berjalan sesuai koridor Voluntary Care and Testing (VCT). Seluruh pemeriksaan medis dan pengobatan dilakukan atas dasar sukarela dari pasien bersangkutan tanpa paksaan, kecuali bagi kelompok ibu hamil serta calon pengantin yang diwajibkan oleh regulasi demi memutus mata rantai penularan sedini mungkin.
“Jadi kembali lagi sifatnya penanganan HIV adalah Voluntary Care and Testing. Pemeriksaan dan pengobatannya semua harus atas dasar sukarela. Kecuali pada ibu hamil dan calon pengantin, kami mewajibkan pemeriksaan HIV,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A























