Tugumalang.id – Malang merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki jejak peradaban Hindu-Buddha yang lengkap. Sejarah kawasan ini dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-8 Masehi melalui Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 Masehi, prasasti tertua di Jawa Timur yang menyebut keberadaan Kerajaan Kanjuruhan di wilayah Malang sekarang.
Kerajaan ini kemudian menjadi salah satu cikal bakal berkembangnya pusat-pusat pemerintahan di Jawa Timur sebelum muncul Kerajaan Singhasari pada abad ke-13.
Dalam rentang waktu sekitar lima abad, wilayah Malang menjadi bagian penting dari perjalanan sejumlah kerajaan di Jawa, mulai dari Kanjuruhan, Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit.
Baca Juga: Ukir Sejarah, Timnas Voli Indonesia Sukses Juarai Turnamen AVC Men’s Cup 2026
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan berupa prasasti, candi, arca, maupun koleksi museum yang tersebar di Kota dan Kabupaten Malang.
1. Candi Badut
Candi Badut berada di Karangbesuki, Kota Malang, dan dikenal sebagai salah satu candi tertua di Jawa Timur. Para ahli mengaitkan keberadaan candi ini dengan Kerajaan Kanjuruhan yang berkembang sekitar abad ke-8 Masehi.
Balai Pelestarian Kebudayaan menyebut nama Candi Badut berkaitan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Prasasti tersebut menceritakan Raja Dewasingha dan putranya, Raja Gajayana, yang membangun tempat suci serta mengganti arca Agastya dari kayu cendana menjadi batu hitam.
Candi ini ditemukan kembali pada 1921 dalam kondisi tertimbun tanah dan ditumbuhi pepohonan. Pemugaran kemudian dilakukan oleh Dinas Purbakala pada 1923–1926 hingga bentuk bangunan dapat dikenali seperti sekarang.
2. Candi Singosari
Berbeda dengan Candi Badut yang berasal dari masa Kanjuruhan, Candi Singosari merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari yang berkembang pada abad ke-13.
Candi ini diyakini sebagai bangunan pendharmaan bagi Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari yang wafat pada 1292. Bangunannya menampilkan perpaduan unsur Hindu dan Buddha yang mencerminkan corak keagamaan pada masa pemerintahan Kertanegara.
Baca Juga: Pemkot Malang Tegaskan Perlindungan Cagar Budaya dan Warisan Sejarah
Di sekitar kawasan candi juga ditemukan sejumlah arca penting, termasuk arca Siwa, Durga Mahisasuramardini, Ganesha, dan Agastya yang menjadi bagian dari kelengkapan bangunan suci tersebut.
3. Arca Dwarapala
Tidak jauh dari Candi Singosari berdiri dua Arca Dwarapala berukuran besar yang menjadi ikon kawasan Singosari. Arca setinggi sekitar 3,7 meter tersebut dipahat dari batu monolit dan dipercaya berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang menuju kompleks Kerajaan Singhasari. Dalam tradisi Hindu-Buddha, dwarapala merupakan sosok penjaga kawasan suci atau istana.
Keberadaan kedua arca ini menjadi salah satu petunjuk penting mengenai lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari yang hingga kini masih terus diteliti oleh para arkeolog.
4. Candi Jago
Candi Jago atau Jajaghu berada di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Berdasarkan keterangan dalam Kitab Negarakertagama dan Pararaton, candi ini dibangun untuk menghormati Raja Wisnuwardhana yang wafat pada 1268 Masehi.
Pembangunan berlangsung sekitar 1268–1280 M atas perintah Raja Kertanegara. Relief-relief pada candi memuat kisah Tantri, Kunjarakarna, hingga Parthayajna yang menjadi salah satu contoh seni pahat terbaik pada masa Singhasari.
Selain nilai arsitekturnya, Candi Jago juga menunjukkan berkembangnya ajaran Siwa-Buddha yang menjadi ciri keagamaan Kerajaan Singhasari.
5. Candi Kidal
Masih berada di kawasan Tumpang, Candi Kidal merupakan tempat pendharmaan Raja Anusapati, raja kedua Kerajaan Singhasari.
Candi ini diperkirakan selesai dibangun sekitar tahun 1260 atau setelah rangkaian upacara penghormatan bagi Anusapati selesai dilaksanakan. Bangunan setinggi sekitar 12 meter tersebut terkenal dengan relief Garudeya yang menceritakan perjuangan Garuda memperoleh Tirta Amerta.
Relief Garudeya di Candi Kidal dinilai sebagai salah satu karya seni pahat terbaik dari masa Singhasari karena masih memperlihatkan detail yang relatif utuh.
6. Museum Singhasari
Selain situs-situs arkeologi, Malang juga memiliki Museum Singhasari yang berfungsi sebagai pusat edukasi mengenai sejarah Kerajaan Singhasari.
Museum ini menampilkan berbagai koleksi artefak, arca, replika candi, prasasti, hingga benda-benda budaya yang berkaitan dengan sejarah kerajaan di Jawa Timur. Beberapa koleksi asli masih berada di museum lain maupun luar negeri sehingga sebagian yang dipamerkan berupa replika.
Keberadaan museum tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami perjalanan sejarah Singhasari sekaligus mendukung pelestarian warisan budaya daerah.
7. Museum Panji
Museum Panji di Kabupaten Malang melengkapi destinasi edukasi sejarah di wilayah ini. Museum tersebut mengangkat kisah Panji yang berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara.
Selain menampilkan koleksi topeng Panji, naskah, dan artefak budaya, museum ini juga menghadirkan informasi mengenai perkembangan tradisi Panji yang telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya dunia melalui naskah-naskah Panji yang masuk dalam program Memory of the World UNESCO.
Berbagai peninggalan sejarah Hindu-Buddha di Malang hingga kini masih dilestarikan sebagai cagar budaya. Keberadaannya menjadi sumber informasi penting bagi penelitian arkeologi dan sejarah, sekaligus memberikan gambaran mengenai perkembangan Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan Singhasari yang pernah berperan dalam perjalanan sejarah Jawa Timur.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Nathasya Amalia/Magang
Editor: Herlianto. A























