Oleh: Rohim Warisi*
Pada hari sambangan, santri yang biasanya mandi setelah diteriaki pengurus, mendadak wangi semua.
Sejak pagi, kamar mandi pesantren penuh. Ada yang rebutan sabun. Ada yang menyisir rambut pakai air wudu. Ada yang meminjam minyak rambut teman sekamar, lalu pura-pura lupa mengembalikan. Pokoknya hari itu, pondok terlihat lebih rapi daripada biasanya, meskipun tetap saja ada sandal yang hilang di depan musala.
Bagi santri, sambangan adalah hari yang paling ditunggu setelah tanggal pulangan. Bedanya, kalau pulangan kami yang pergi mencari rumah, maka sambangan adalah saat rumah datang menjenguk kami.
Setelah pengajian pagi, gerbang pondok mulai ramai oleh motor, mobil, suara ibu-ibu, kardus makanan, dan wajah santri yang berusaha kelihatan biasa saja, padahal sejak tadi matanya menunggu ke arah jalan.
Aku juga menunggu hari sambangan.
Bukan karena sangat rindu rumah. Jujur saja, waktu itu aku lebih sering menunggu Bapak dan Ibu membawa apa.

Hari itu pondok seperti pasar kecil. Bedanya, yang dijual bukan sayur, tapi rindu, jajanan, dan uang saku.
Ada wali santri datang membawa kardus besar. Isinya macam-macam: nasi kotak, ayam goreng, roti, mi instan, sabun, sarung baru, sandal baru, dan uang saku yang membuat pemiliknya mendadak dihormati satu kamar.
Sebelum sambangan, santri biasanya sudah mengirim daftar kehilangan. Sandal hilang, sarung ketukar, sabun habis, peci entah dipakai siapa.
Bagi kami, itu cuma kabar biasa. Bagi orang tua, itu tambahan pusing.
Mereka mungkin mengeluh di rumah. “Lha kok sandal hilang terus? Sarung juga ketukar terus. Ini mondok apa buka penitipan barang?”
Tapi tetap saja dibelikan.
Maka orang tua datang membawa barang serba baru, seolah tugas mereka bukan hanya menjenguk anak, tapi juga mengganti barang-barang pondok yang punya nasib tidak jelas.
Aku juga menunggu sambangan. Tapi bukan karena sangat rindu rumah. Jujur saja, waktu itu aku lebih sering menunggu Bapak dan Ibu membawa apa.
Bapak biasanya datang dengan motor tuanya. Suaranya sudah terdengar dari jauh, batuk-batuk seperti orang tua dipaksa ikut gerak jalan. Ibu duduk di belakang, memegang kresek kecil di pangkuannya.
Kresek itu selalu kecil.
Isinya juga tidak pernah bikin anak sekamar iri. Kadang pisang yang sudah terlalu matang. Kadang roti murah. Kadang kerupuk. Kadang sabun batangan dan minyak kayu putih.
Teman-temanku dibawakan ayam goreng, aku dibawakan obat masuk angin.
Uang sakunya biasanya dua puluh ribu. Kadang tiga puluh ribu kalau Bapak sedang kelihatan agak longgar. Longgar wajahnya, bukan dompetnya.
“Sing irit, Le,” kata Bapak.
Aku mengangguk. Dalam hati mangkel. Irit adalah kata yang paling sering diucapkan orang tua kalau uang yang diberikan memang sedikit.
Pernah suatu kali, Ibu membawa pisang yang sudah lembek. Kulitnya berbintik hitam. Kalau dilempar ke tembok mungkin tidak mental lagi, langsung nempel.
“Ini dimakan, ya. Di rumah matang semua. Daripada kebuang.”
Aku menerimanya sambil menahan malu.
Begitu sampai kamar, temanku bertanya, “Dibawain apa?”
“Pisang.”
“Pisang tok?”
Aku diam.
Dia tertawa kecil. Tidak jahat sebenarnya. Tapi bagi anak pondok yang sedang lapar dan iri, tawa kecil bisa terasa seperti sandal basah ditempelkan ke muka.
Baca juga: Rama dan Sinta (Bukan dalam Wayang)
Sejak itu, kalau Bapak dan Ibu datang, aku sering berharap mereka tidak duduk terlalu lama. Aku takut teman-teman melihat. Takut ada yang bertanya. Takut kresek kecil itu kelihatan.
Waktu itu aku belum tahu, sesuatu yang sedikit di mata anak bisa jadi sudah sangat banyak di tangan orang tua.
Belakangan aku baru tahu, sebelum sambangan datang, rumah kami sudah lebih dulu ribut dengan hitungan: syahriah, uang makan, kitab, seragam, dan iuran kamar. Bapak menghitung uang seperti menghitung nasib. Ibu diam di sampingnya. Di meja itu, uang beras dan uang pondok sering saling mengalahkan.
Ada malu yang tidak pernah sampai kepadaku waktu itu: malu ketika pesan tagihan dari pondok masuk ke HP Bapak. Bahasanya sopan, tentu saja. Tapi bagi orang yang sedang tidak punya uang, kalimat sopan pun bisa terasa seperti tamparan.
Bapak membaca pesan itu lama sekali, lalu meletakkan HP-nya terbalik di meja. Bukan tidak mau bayar. Bukan tidak peduli. Memang sedang tidak ada yang bisa dibayarkan.
Kadang yang paling berat dari tidak punya uang bukan perut yang lapar, tapi wajah yang harus tetap terlihat sanggup, padahal dompet sudah menyerah duluan.
Di pondok, hari sambangan memperlihatkan macam-macam wajah wali santri.
Ada ibu yang kelihatan keras. Anaknya menangis di depan gerbang, memeluk ibunya seperti orang mau dibuang ke hutan. Ibunya malah berkata, “Sudah, jangan cengeng. Mondok sing betah.”
Aku berbisik kepada teman, “Ibunya kok tega, ya?”
Temanku mengangguk. “Keras.”
Aku kira begitu. Sampai beberapa bulan kemudian, teman sekamarku yang satu desa dengannya bercerita. Katanya, sepulang dari pondok, ibu itu menangis seharian di rumah. Tidak masak. Tidak keluar kamar. Cuma memandangi baju anaknya yang masih tergantung di jemuran.
Aku kira ibu itu keras. Ternyata, sebagian orang tua memang harus pura-pura tega. Kalau tangisnya tumpah di depan gerbang, anaknya bisa ikut pulang.
Wali santri kadang memang harus pura-pura tega. Demi sesuatu yang mereka sebut masa depan.
Ada juga bapak yang galak soal uang saku.
“Uang terus. Di pondok mau belajar apa mau jajan?”
Anaknya menunduk. Setelah bapaknya pulang, ia menggerutu pelan.
“Bapakku pelit.”
Aku mengangguk saja. Merasa senasib. Bapak-bapak memang sering terlihat pelit di mata anak pondok.
Baru lama setelah itu aku paham, mungkin sebagian bapak bukan pelit. Mereka cuma tidak tahu cara menjelaskan bahwa uang di dompetnya sudah kalah duluan oleh beras, listrik, utang warung, dan kebutuhan rumah yang datang tanpa salam.
Baca juga: Anjali dan Hal yang Tidak Kembali
Ada juga santri yang ibunya bekerja di luar negeri. Di pondok, anaknya kelihatan enak. Uang sakunya lumayan. Sandalnya baru. Sarungnya bagus. Kalau kitab baru datang, ia jarang menunggu lama untuk membeli. Tapi setiap sambangan, yang datang cuma neneknya. Waktu itu aku sempat iri. Enak betul, pikirku, punya ibu di luar negeri. Belakangan aku baru paham, ada uang saku yang dikirim bersama rindu yang tidak bisa ikut pulang.
Tidak semua kabar dari rumah datang lewat sambangan. Kadang ia datang lewat telepon pengurus, kadang lewat wajah wali santri yang mendadak murung, kadang lewat selembar surat izin pulang yang membuat pemiliknya tidak terlihat senang. Seperti Fadil.
Biasanya, anak yang dapat izin pulang langsung sibuk membereskan tas. Langkahnya ringan, seperti santri yang baru selesai hafalan tanpa disuruh mengulang. Fadil tidak. Ia duduk di tepi kasur, memandangi surat izin di tangannya. Tasnya sudah terbuka, tapi bajunya belum dimasukkan.
“Pulang, Dil?” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Enak lah.”
Fadil tersenyum kecil. Tapi bukan senyum orang yang senang.
“Aku disuruh datang ke pengadilan,” katanya.
“Ngapain?”
Ia melipat surat izinnya pelan-pelan.
“Sidang cerai Bapak sama Ibu.”
Aku diam.
Hari itu aku baru mengerti, tidak semua izin pulang membuat santri senang. Ada yang pulang untuk makan masakan ibunya. Ada yang pulang karena sakit. Tapi ada juga yang pulang untuk melihat rumahnya pecah secara resmi.
Belakangan aku tahu, Bapak dan Ibu Rafi memang sudah lama tidak satu rumah.
Anehnya, untuk urusan pondok, mereka masih bisa sepakat. Syahriah tetap diusahakan. Kitab tetap dibelikan. Kalau Rafi sakit, dua-duanya panik, meski datangnya bergantian seperti orang sedang jaga gengsi.
Dari Rafi aku belajar, ada orang tua yang gagal menjadi suami istri, tapi masih mati-matian berusaha tidak gagal menjadi orang tua.
Barangkali itu alasan Fadil tetap dipondokkan. Rumahnya sedang pecah, dan mereka tidak ingin anaknya ikut menjadi serpihan.
Di pondok, krasan itu bukan perkara gampang.
Orang rumah sering mengira anak cukup dinasihati, “Sing betah,” lalu semuanya selesai. Padahal betah itu dibangun dari hal-hal kecil: mulai hafal tempat sandal, mulai punya teman sekamar, mulai bisa menelan nasi pondok tanpa banyak protes, mulai bisa tertawa meski rindu rumah belum benar-benar hilang.
Tapi semua itu bisa roboh hanya karena satu kabar dari rumah.
Bapak dan Ibu ribut. Syahriah belum terbayar. Adik sakit. Atau orang tua harus berpisah di depan hakim.
Setelah itu, anak yang kemarin masih bisa tertawa mendadak ingin pulang. Bukan karena manja. Bukan karena tidak kuat mondok. Tapi karena ada bagian rumahnya yang runtuh, dan reruntuhannya sampai juga ke pondok.
Pondok memang tempat orang tua menitipkan anak. Tapi lama-lama aku merasa, yang dititipkan ke pondok bukan cuma anak.
Ada harapan. Ada rasa bersalah. Ada doa. Ada rumah yang terlalu sering ribut. Ada orang tua yang tidak sanggup memperbaiki semuanya, lalu berharap pondok bisa menyelamatkan anaknya dari reruntuhan yang tidak kelihatan.
Waktu itu aku belum bisa menyebut semua itu. Aku hanya santri yang sering lapar, sering iri, dan sering malu pada kresek kecil Bapak.
Bapak tidak banyak bicara saat sambangan.
“Ngajinya lancar?”
“Lancar.”
“Tidak nakal?”
“Tidak.”
Padahal aku pernah bolos ngaji, pernah tidur saat sorogan, dan pernah ikut makan ayam goreng teman tanpa izin yang jelas.
Bapak mengangguk. Setelah itu diam lagi.
Waktu itu aku mengira Bapak tidak terlalu peduli. Pertanyaannya sedikit, diamnya banyak.
Belakangan aku tahu, mungkin Bapak memang tidak pandai bicara lembut.
Di kampungku, banyak bapak menyayangi anaknya dengan cara yang sulit dibaca. Tidak pakai pelukan. Tidak pakai kalimat panjang. Kadang cuma rokok yang disulut pelan-pelan, uang dua puluh ribu yang dilipat kecil, dan pesan pendek yang dulu terdengar seperti usiran.
“Sing betah, Le.”
Dulu aku benci kalimat itu.
Bagi anak yang ingin pulang, “sing betah” terdengar seperti penolakan. Seolah Bapak tidak ingin membawaku pulang. Padahal mungkin setiap mengatakan itu, Bapak sedang menahan diri supaya tidak berkata, “Ayo pulang saja, Bapak juga tidak kuat meninggalkanmu di sini.”
Aku baru paham itu terlambat sekali.
Beberapa bulan setelah sambangan terakhir, Bapak tidak datang. Ibu juga tidak. Aku menunggu di dekat gerbang sampai sore, pura-pura tidak menunggu. Setiap ada motor tua lewat, dadaku seperti mau ikut berdiri.
Menjelang Magrib, pengurus memanggilku ke kantor.
“Pulang dulu.”
“Kenapa, Kang?”
Pengurus itu diam sebentar. Diamnya tidak enak.
“Bapakmu meninggal.”
Aku tidak langsung menangis. Entah kenapa, yang pertama kuingat justru kresek kecil itu. Pisang lembek. Minyak kayu putih. Uang dua puluh ribu yang pernah membuatku malu.
Di rumah, orang-orang sudah membaca Yasin. Bapak terbujur di ruang tengah. Wajahnya diam. Lebih diam dari biasanya.
Aku ingin bertanya, apakah dulu ia juga sedih setiap meninggalkanku di pondok. Apakah ia pernah merasa gagal karena hanya bisa membawa kresek kecil. Apakah “sing betah, Le” sebenarnya lebih berat baginya daripada bagiku.
Tapi orang mati tidak menjawab pertanyaan yang terlambat.
Bertahun-tahun kemudian, aku kembali ke gerbang pondok.
Gerbangnya sudah berubah. Temboknya lebih tinggi, catnya lebih baru. Tapi wajah anak-anak yang pura-pura kuat masih sama seperti dulu.
Di dekat gerbang, seorang anak laki-laki berdiri memeluk tas. Matanya sesekali mencuri pandang ke teman-teman lain yang datang membawa kardus besar dan kresek penuh makanan.
Di sampingnya, seorang perempuan merapikan kerah bajunya pelan-pelan, seperti sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh di depan anaknya.
Tidak jauh dari mereka, seorang laki-laki memegang kresek kecil. Isinya roti, sabun, minyak kayu putih, dan beberapa bungkus mi instan. Tidak banyak.
Pengurus memanggil santri baru masuk. Anak itu menyalami ibunya, lalu laki-laki itu.
“Belajar sing tenanan,” kata laki-laki itu.
Anak itu mengangguk. Laki-laki itu menyerahkan kresek kecil ke tangannya. Setelah itu, ia menyelipkan beberapa lembar uang yang dilipat kecil.
“Sing irit, Le,” katanya.
Anak itu menerima tanpa menatap wajahnya.
Aku tahu wajah anak itu. Wajah yang berusaha biasa saja, padahal sedang menahan malu. Wajah yang dulu pernah kupakai saat menerima kresek kecil dari Bapak.
Anak itu masuk melewati gerbang. Beberapa kali ia menoleh. Perempuan dan laki-laki itu tetap tersenyum sampai tubuh kecilnya hilang di antara santri-santri lain.
Setelah anak itu tidak terlihat, perempuan itu menunduk. Bahunya bergerak pelan. Laki-laki itu pura-pura tidak melihat.
Barangkali begitu cara orang tua menipu anaknya: tersenyum di depan gerbang, menangis setelah anak tidak melihat.
Laki-laki itu masih berdiri di sana. Tangannya sudah kosong, tapi wajahnya seperti masih menggenggam sesuatu yang berat.
Baru hari itu aku benar-benar paham: dulu aku adalah anak yang menunduk malu saat menerima kresek kecil dari Bapak; sekarang aku berdiri sebagai bapak yang memberikan kresek kecil kepada anaknya sendiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Khodimul Ma’had
Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin, Sukosari.
editor: jatmiko























