Malang, Tugumalang.id – Malang dikenal memiliki beragam kuliner yang berkembang dari berbagai latar budaya dan generasi. Di tengah semakin banyaknya tempat makan yang bermunculan, sejumlah pelaku usaha kuliner memilih mempertahankan maupun menghadirkan teknik memasak yang tidak biasa.
Cara pengolahan tersebut tidak hanya menjadi pembeda, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masing-masing tempat makan. Berikut sejumlah kuliner di Malang yang dikenal memiliki metode memasak dan penyajian berbeda dari hidangan pada umumnya.
1. Sego Resek Kasin
Di kawasan Kasin, terdapat kuliner malam yang dikenal dengan nama Sego Resek. Warung ini telah beroperasi sejak 1959 dan menjadi salah satu tujuan kuliner yang banyak dicari warga maupun wisatawan saat malam hari.
Nama “resek” berasal dari bahasa Jawa yang berarti sampah. Sebutan tersebut muncul karena pada masa awal berjualan, lapak Pak Man berada di dekat kawasan tempat pembuangan sampah.
Baca juga: Surga Kuliner Malang di Sekitar Jalan Panjaitan: 7 Tempat Makan Lezat yang Wajib Dicoba
Meski memiliki nama yang unik, hidangan yang disajikan justru dikenal luas karena cita rasanya yang khas dan konsisten dipertahankan selama puluhan tahun.
Keunikan Sego Resek terletak pada proses memasaknya yang masih menggunakan cara tradisional. Nasi goreng dimasak menggunakan wajan besar di atas tungku arang, sehingga menghasilkan aroma asap khas yang menjadi ciri hidangan ini hingga sekarang.
2. Nasi dan Kuah ala Ramen di Nasi Siram Si Canpang
Nasi Siram Si Canpang menghadirkan konsep penyajian yang berbeda dari olahan nasi pada umumnya. Dalam satu mangkuk besar, nasi disiram kuah berwarna oranye kecokelatan dalam jumlah melimpah hingga menyerupai hidangan ramen atau rice bowl berkuah.
Topping yang digunakan cukup beragam, mulai dari potongan ayam berbumbu, telur rebus, jamur kuping, hingga taburan daun bawang. Kuah yang mendominasi tampilan hidangan membuat nasi tidak disajikan dalam kondisi kering, melainkan langsung menyatu dengan kuah sejak awal penyajian.
Konsep tersebut membuat menu ini kerap disebut sebagai perpaduan antara nasi siram dan ramen, menghadirkan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan olahan nasi lainnya.
3. Warung Sate Gebug 1920
Salah satu kuliner legendaris Malang yang masih bertahan hingga kini adalah Warung Sate Gebug 1920. Nama “gebug” berasal dari teknik pengolahan daging yang menjadi ciri khas warung tersebut.
Sebelum dibakar, daging sapi terlebih dahulu dipukul atau digebug berulang kali hingga serat-seratnya menjadi lebih lunak.
Proses tersebut membuat daging memiliki tekstur empuk tanpa melalui proses penggilingan. Setelah dibumbui, potongan daging kemudian dibakar di atas bara arang hingga matang.
Hasil akhirnya berupa sate dengan bagian luar yang padat dan sedikit mengalami karamelisasi akibat proses pembakaran, namun tetap lembut di bagian dalam.
4. Setumpuk
Perkembangan teknologi juga mulai masuk ke dunia kuliner Malang. Salah satu contohnya dapat ditemukan di Setumpuk yang dikenal menggunakan perangkat robotik untuk membantu proses memasak menu tumisan.
Dalam prosesnya, bahan-bahan dimasukkan ke dalam wadah memasak yang terhubung dengan sistem pengaduk otomatis. Perangkat tersebut akan mengaduk dan memasak bahan secara mekanis hingga matang.
Penggunaan teknologi otomatis dalam proses memasak menjadi salah satu inovasi yang menghadirkan pendekatan berbeda, terutama pada teknik tumis yang selama ini identik dengan keterampilan langsung seorang koki.
5. Garang Asem Bambu Omah Pucang
Berbeda dengan garang asem yang umumnya dikukus menggunakan daun pisang, Omah Pucang menghadirkan versi yang dimasak menggunakan bambu.
Potongan ayam beserta bumbu dan kuah dimasukkan ke dalam ruas bambu sebelum melalui proses pemasakan. Penggunaan bambu sebagai wadah memasak membuat panas menyebar secara perlahan selama proses pengolahan berlangsung.
Teknik ini mengingatkan pada berbagai metode memasak tradisional Nusantara yang memanfaatkan bambu sebagai alat masak alami. Selain memberikan tampilan berbeda, bambu juga menjadi bagian dari karakter penyajian menu tersebut.
6. Kopi Pasir Panas di Djauw Coffee
Metode seduh yang digunakan Djauw Coffee juga tergolong tidak biasa. Kedai ini menghadirkan kopi pasir, yaitu teknik penyeduhan tradisional yang banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah dan Turki.
Dalam prosesnya, air dan bubuk kopi ditempatkan dalam wadah khusus lalu dipanaskan menggunakan pasir yang telah mencapai suhu tinggi.
Pasir berfungsi sebagai penghantar panas yang merata sehingga proses pemanasan berlangsung secara perlahan. Selain memberikan pengalaman visual yang unik, teknik kopi pasir juga mempertahankan metode penyeduhan tradisional yang telah digunakan selama ratusan tahun di berbagai wilayah dunia.
Baca juga: Wajib Dicoba, 7 Kuliner Malang yang Enak dan Populer
Setiap tempat menerapkan metode berbeda dalam mengolah bahan, baik melalui cara tradisional seperti pemanggangan menggunakan arang dan penggunaan bambu, maupun teknik modern dengan bantuan teknologi otomatis.
Beragam cara memasak tersebut menjadi bagian dari karakter masing-masing tempat makan yang tersebar di berbagai wilayah Malang Raya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Nathasya Amalia/Magang
editor: jatmiko


















