Malang, Tugumalang.id – Semangkuk soto menjadi salah satu sajian yang lekat dengan agenda ziarah di Pesarean Gunung Kawi. Kuahnya hangat dan kaya rempah, cocok dinikmati di tengah udara yang sejuk dan segar.
Warung Soto Pojok yang ada di kawasan Pesarean Gunung Kawi merupakan cikal bakal tradisi makan soto saat berziarah. Berdiri sejak 1942, warung ini sudah menjadi destinasi kuliner para peziarah yang tradisinya diturunkan hingga anak cucu.
“Dulu belum ada warung di daerah sini. Kami yang pertama kali jualan soto,” ujar generasi kedua pemilik Soto Pojok, Sumartun (74), saat ditemui wartawan Tugu Malang ID, belum lama ini.
Baca juga: Soto Ayam Qona’ah, Kuliner Andalan Mahasiswa Malang Rasa Maknyus Harga Ramah
Keberadaan Pesarean Gunung Kawi sebagai salah satu tujuan ziarah membuat kawasan tersebut ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Dalam perjalanan itu, Soto Pojok menjadi salah satu tempat yang kerap disinggahi untuk mengisi tenaga sebelum maupun setelah beraktivitas di kawasan tersebut.
Daya tariknya terletak pada kuah soto ayam yang gurih dengan sentuhan rempah-rempah. Cita rasa ini digemari berbagai kalangan dan usia sehingga semua orang bisa menikmatinya.
“Bumbunya kami pakai banyak rempah-rempah,” kata Sumartun yang sudah mewarisi warung ini sejak 1986.

Soto Pojok dengan Kuah Kaya Rempah
Satu porsi soto disajikan di mangkuk yang berisi nasi, bihun, potongan daging ayam, setengah butir telur rebus, tauge, daun bawang, dan seledri. Kuah berwarna kuning pekat dituang saat soto hendak dihidangkan agar pengunjung bisa menyantapnya saat masih panas.
Pelanggan juga dapat menambahkan berbagai lauk seperti sate jeroan, tahu, tempe, perkedel hingga telur asin. Tersedia juga aneka kerupuk yang dikemas per porsi dan dibungkus plastik.
Seporsi soto dibanderol dengan harga Rp22 ribu. Harga tersebut belum termasuk aneka lauk tambahan yang disajikan.
Selain soto, Sumartun juga menyediakan aneka makanan khas Jawa Timur lainnya seperti nasi rawon, nasi rames, dan nasi pecel.
“Kalau dulu memang jualnya hanya soto. Sekarang saya tambah menunya biar lebih banyak pilihan,” kata Sumartun.
Selama 84 tahun, tradisi makan soto di Pesarean Gunung Kawi telah melekat di benak peziarah. Menurut Sumartun, banyak pelanggannya yang merupakan anak dan cucu dari pelanggan terdahulu.
“Mereka bilang, nggak lengkap kalau ziarah tapi nggak makan soto,” ujarnya.
Berawal dari Pikulan Kayu

Warung Soto Pojok didirikan oleh orang tua Sumartun dan dimulai dengan sangat sederhana. Soto dijual menggunakan pikulan kayu dengan aksen kain merah. Ayam kampung yang masih utuh digantung di bagian depan untuk menarik pelanggan.
Saat itu masih belum banyak bangunan maupun penjual makanan di sekitar Pesarean Gunung Kawi. Kawasan tersebut masih berupa hutan dan tidak seramai sekarang.
“Setelah saya ambil alih, saya ganti dengan etalase (untuk tempat menyimpan ayam dan sayur),” kata Sumartun.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























