Malang, Tugumalang.id – Pada tahun 1959, seorang insinyur asal Swedia bernama Sten Gustaf menciptakan plastik sebagai material yang dianggap mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Plastik dikenal ringan, murah, tahan lama, serta mudah dibentuk sehingga dengan cepat menggantikan banyak bahan alami seperti kayu, kaca, dan logam. Kehadirannya bahkan sempat dipandang sebagai solusi untuk mengurangi penebangan pohon dan menjaga sumber daya alam yang semakin menipis.
Dalam kehidupan sehari-hari, plastik digunakan hampir di seluruh bidang, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, alat rumah tangga, hingga perlengkapan medis seperti jarum suntik dan kantong darah. Karena dinilai praktis dan ekonomis, penggunaan plastik terus meningkat dari tahun ke tahun hingga menjadi bagian penting dari gaya hidup modern masyarakat dunia.
Penggunaan Plastik yang Semakin Tidak Terkendali
Namun, penggunaan plastik yang terus meningkat kini berubah menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Produk plastik sekali pakai seperti kantong belanja, sedotan, dan kemasan makanan semakin sulit dipisahkan dari aktivitas masyarakat sehari-hari. Kebiasaan tersebut memunculkan persoalan baru karena sebagian besar sampah plastik tidak dikelola dengan baik dan akhirnya menumpuk di lingkungan.
Penumpukan sampah plastik menjadi semakin berbahaya karena material ini sangat sulit terurai secara alami. Penelitian dalam Journal of Polymer Chemical Engineering and Technology menyebutkan bahwa mikroorganisme alami kesulitan menghancurkan struktur plastik. Akibatnya, plastik dapat bertahan puluhan hingga ratusan tahun sebelum akhirnya berubah menjadi mikroplastik yang mencemari tanah, sungai, hingga laut.
Baca juga: Pegiat Lingkungan Desak Pemkot Malang Perbaiki Layanan Sampah Das Brantas
Plastik Mengancam Lingkungan Kehidupan Laut
Penelitian dari United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa plastik menyumbang sekitar 85 persen dari total sampah di laut dunia. Setiap tahun, sekitar 8 hingga 23 juta ton plastik masuk ke lautan dan menjadikan pencemaran plastik sebagai salah satu masalah lingkungan global paling serius saat ini.
Dampaknya juga sangat luas terhadap kehidupan laut. Berbagai penelitian menemukan keberadaan plastik di tubuh sejumlah spesies laut, mulai dari penyu, ikan, hingga mamalia besar seperti paus. Hewan-hewan tersebut kerap mati akibat terjerat atau menelan sampah plastik yang mengganggu sistem pencernaan dan menyebabkan kelaparan maupun keracunan.
Kurangi Sampah Plastik dengan Mengubah Gaya Hidup
Untuk mengurangi dampak pencemaran plastik, perubahan gaya hidup sederhana dapat menjadi langkah penting yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kebiasaan kecil dinilai mampu membantu menekan jumlah sampah plastik yang terus meningkat.
1. Gunakan Tumbler atau Botol Minum Pribadi
Membawa tumbler atau botol minum pribadi menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Kebiasaan ini membantu menekan jumlah sampah plastik yang biasanya langsung dibuang setelah digunakan. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan tumbler juga lebih hemat karena dapat dipakai berulang kali dalam jangka panjang.
Baca juga: Waspada! Tubuh Manusia Sudah Tercemar Mikroplastik
2. Gunakan Tas Belanja Kain
Tas belanja kain dapat menjadi alternatif pengganti kantong plastik sekali pakai yang masih banyak digunakan dalam aktivitas belanja harian. Selain lebih kuat, tas kain juga dapat digunakan berkali-kali sehingga mampu mengurangi jumlah sampah plastik dari kegiatan berbelanja.
3. Kurangi Penggunaan Sedotan dan Sendok Plastik
Penggunaan sedotan dan sendok alternatif berbahan stainless steel, bambu, atau kertas dapat membantu mengurangi limbah plastik sekali pakai. Meski terlihat kecil, sampah dari peralatan makan plastik termasuk jenis limbah yang paling sering ditemukan mencemari laut.
Plastik yang awalnya diciptakan sebagai solusi praktis bagi kehidupan manusia kini justru menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di dunia. Dampaknya yang luas menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak bisa dianggap sepele. Meski demikian, berbagai langkah sederhana tetap dapat dilakukan untuk membantu mengurangi pencemaran dan menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Nathasya Amalia/Magang
redaktur: jatmiko
























