BATAM, Tugumalang.id – Menghadapi tantangan tingginya angka autisme di Indonesia, Penawar Special Learning Centre (PSLC) sebagai lembaga pendidikan dan terapi autisme terpercaya di Malaysia dan Indonesia menggelar event Indonesia Autism Summit 2026 (INAS26).
Event INAS26 akan diselenggarakan di Batam, Kepulauan Riau pada 11-13 Juni 2026 bertempat di Harmoni One Convention Hotel.
Ketua INAS26, Dr. Ruwinah Abdul Karim menjelaskan digelarnya event Indonesia Autism Summit tak lepas dari tingginya kasus autisme di Indonesia.
Berkaca dari kasus yang terjadi di Malaysia, di mana hampir 9.000 kasus baru terjadi setiap tahunnya. Ia memperkirakan di Indonesia jumlahnya jauh lebih besar.
Baca Juga: Harapan Baru! Soft Opening PSLC Manado Hadirkan Public Talk dan Screening Gratis
Melihat permasalahan tersebut, diperlukan ruang edukasi yang melibatkan orang tua, guru, akademisi, terapis, mahasiswa, maupun komunitas yang peduli dengan autisme, perlu mendapatkan wawasan tentang pentingnya intervensi dini untuk menekan tingginya kasus autisme.
“Kita harus tahu bagaimana menangani mereka. Jadi ilmu dan pengetahuan tentang autisme ini perlu diketahui agar semakin banyak masyarakat paham. Autisme juga bukan penyakit menular,” ungkap Clinical Director of PSLC Malaysia ini pada sesi press conference yang digelar Jumat, (8/5/2026) kemarin.
Autisme Bukan Penyakit Mental
Dalam kesempatan tersebut, perempuan yang akrab disapa Wina ini menegaskan bahwa autisme bukanlah penyakit mental yang menjadi aib bagi keluarga.
Ia menjelaskan anak dengan sindrom autisme terlahir seperti anak pada umumnya. Hanya saja mereka mengalami hambatan dalam perkembangan komunikasi dan interaksi sosial.
Baca Juga: Screening Session PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang: Deteksi Dini Autisme Berbiaya Terjangkau
Di mana tanda-tanda anak mengalami gejala autisme dapat dilihat sejak mereka memasuki usia 18 bulan, terlihat dari anak mengalami keterlambatan berbicara dan berkomunikasi. “Autisme bukan penyakit mental atau gila,” tegasnya.
Selain itu, ciri-ciri lainnya dapat diamati dari minimnya anak melakukan kontak mata dengan lawan bicara, berjalan jinjit, gerakan tangan berulang, melihat televisi dari sudut mata, hingga ketertarikan terhadap benda berputar seperti kipas angin atau roda kendaraan.
Melalui event INAS26, Wina berharap dapat memutus stigma negatif tentang anak dengan sindrom autisme di tengah masyarakat, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang inklusif.
Melalui edukasi yang tepat, harapannya dapat membantu orang tua memahami permasalahan anak dan memberikan terapi yang tepat agar dapat bertumbuh kembang dengan baik.
Bakal Diikuti 500 Peserta dari Berbagai Kalangan
Event INS26 ditargetkan diikuti oleh 500 perserta dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, guru, tenaga kesehatan, terapis, akademisi, hingga masyarakat umum. Nantinya seluruh peserta dapat hadir dan mengikuti rangkaian event secara gratis.
Untuk tahun ini, Indonesia Autism Summit mengusung tema “Menggerakkan Kesadaran Autisme Menjadi Aksi Nyata bagi Komunitas”. Forum internasional ini menjadi ruang temu bagi profesional, pendidik, orang tua, pengasuh, peneliti, penyedia layanan, serta pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor menekan tingginya kasus autisme.
“Kita akan membuka bagi 500 peserta atau lebih, secara gratis. Narasumber dari Malaysia dan Indonesia, jadi kita inginkan orang tua harus tahu bagaimana memiliki anak autis,” jelas Wina.
Rangkaian kegiatan meliputi konferensi ilmiah, presentasi profesional, diskusi lintas disiplin, workshop strategi praktis bagi orang tua dan tenaga profesional, pameran produk dan layanan autisme, hingga sesi konsultasi dengan para spesialis.
Masyarakat dapat mengikuti event ini dengan cara mendaftar di laman indonesiaautismsummit.com atau menghubungi contact person 0813-6351-0123 dan 0813-6333-3789 untuk informasi lebih lanjut.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A



















